Pasien Tunggu Transfusi Dua Hari, Ketua BFLF Aceh Selatan Geram Krisis Darah di RSUD Yuliddin Away

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
TAPAKTUAN | SNN – Krisis ketersediaan stok darah di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan, Aceh Selatan, kembali menuai sorotan tajam. Pasalnya, terdapat pasien dengan kondisi hemoglobin (HB) rendah yang terpaksa menunggu hingga dua hari tanpa mendapatkan penanganan transfusi darah.
Kondisi memprihatinkan ini memicu reaksi keras dari Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa. Ia mengungkapkan kekecewaan dan kegeramannya atas lambatnya pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien yang nyawanya sedang terancam.
“Siapapun yang memiliki tanggung jawab terhadap pemenuhan kebutuhan darah bagi pasien di RSUD dr. H. Yuliddin Away Tapaktuan jangan hanya diam, jangan tidur, apalagi sampai ‘ngorok’. Di ruang perawatan ada pasien yang sedang berpacu dengan waktu untuk mempertahankan hidupnya,” tegas Gusmawi di Tapaktuan.
Gusmawi mengingatkan bahwa dalam kondisi kritis, setiap menit keterlambatan mendapatkan darah bisa berakibat fatal dan memperburuk keadaan pasien. Penantian panjang tersebut juga menjadi siksaan psikologis bagi keluarga pasien yang hanya bisa cemas dan berharap.
Ia mengajak semua pihak untuk memiliki empati dan membayangkan jika kondisi tersebut menimpa anggota keluarga sendiri. “Bayangkan jika yang terbaring itu adalah orang tua kita, pasangan kita, anak kita, atau saudara kandung kita. Tentu kita berharap ada yang segera bergerak membantu. Darah bukan sekadar cairan tubuh, tetapi harapan hidup bagi mereka yang sedang berjuang,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ketua BFLF Aceh Selatan ini menekankan bahwa pemenuhan stok darah tidak bisa hanya dibebankan kepada relawan donor darah semata. Tanggung jawab ini harus dipikul bersama oleh seluruh pemangku kepentingan, mulai dari instansi terkait, manajemen rumah sakit, Unit Transfusi Darah (UTD), hingga pemerintah daerah.
Di sisi lain, Gusmawi juga turut mengimbau masyarakat luas yang memenuhi syarat kesehatan untuk mau mendonorkan darahnya secara sukarela. Menurutnya, kepedulian kecil dari masyarakat bisa menjadi penyelamat nyawa bagi orang lain.
“Setetes darah yang kita sumbangkan mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bagi pasien yang sedang menunggu transfusi, darah itu bisa menjadi alasan mereka tetap bernapas, tetap tersenyum, dan tetap memiliki kesempatan untuk berkumpul kembali dengan keluarganya,” tambahnya.
BFLF Aceh Selatan mendesak agar persoalan ketersediaan stok darah ini segera mendapatkan perhatian serius dan solusi jangka panjang dari para pemangku kebijakan.
“Jangan biarkan ada keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai hanya karena darah yang dibutuhkan tidak kunjung tersedia. Saatnya semua pihak bergerak, karena setiap tetes darah adalah kehidupan, dan setiap kehidupan sangat berharga,” pungkas Gusmawi.[red]









