FURQAN: CAHAYA YANG MENYELAMATKAN KEPEMIMPINAN
Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
Oleh: Dr. Khairuddin, S. Ag. MA (Pemerhati Sosial)
Sebelum pembahasan dimulai, penulis perlu menyampaikan bahwa tulisan ini lahir dari sejumlah pertanyaan tentang bagaimana seseorang dapat selamat dalam memimpin, serta dari berbagai peristiwa yang penulis amati di lapangan. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai bahan renungan bersama tentang pentingnya kejernihan hati, ketakwaan, dan nilai furqan dalam kepemimpinan.
Ada satu nikmat yang sering luput dari doa para pemimpin. Mereka meminta jabatan yang lebih tinggi, rezeki yang lebih luas, bawahan yang patuh, bahkan umur yang panjang. Namun, sedikit yang memohon agar Allah menganugerahkan furqan. Padahal, tanpa furqan, jabatan hanya akan memperbesar peluang untuk berbuat salah. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan.” (QS. Al-Anfal: 29).
Furqan bukan sekadar kemampuan membedakan hitam dan putih. Itu terlalu mudah. Yang sulit adalah membedakan dua hal yang sama-sama tampak benar: membedakan antara loyalitas dan penjilatan; antara masukan yang tulus dan bisikan yang membawa agenda tersembunyi; serta antara kebijakan yang berpihak pada kepentingan umum dan kebijakan yang hanya menguntungkan lingkaran tertentu.
Di sinilah ketakwaan menjadi sumber kejernihan. Hati yang dipenuhi kepentingan pribadi tidak akan mampu melihat kebenaran secara utuh; ia hanya melihat apa yang menguntungkan dirinya.
Dalam dunia administrasi, semua keputusan bisa dibuat tampak sah. Ada suratnya, ada parafnya, stempelnya, hingga dokumentasinya. Berkasnya lengkap dan prosedurnya terlihat benar. Namun, Allah tidak hanya menilai kelengkapan administrasi. Allah melihat niat, proses, dan keadilan yang melatarbelakanginya.
Oleh karena itu, administrasi tidak boleh hanya menjadi alat untuk melegalkan keputusan, melainkan harus menjadi sarana menjaga amanah. Berkas boleh rapi, tetapi hati juga harus bersih. Arsip boleh tertata, tetapi nurani jangan sampai berdebu.
Hari ini kita hidup pada masa ketika orang sering lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran. Ketika sebuah keputusan dikritik, yang dicari bukanlah apakah keputusan itu adil, melainkan bagaimana menemukan pasal yang dapat membenarkannya. Padahal, hukum hadir untuk menjaga keadilan, bukan untuk menjadi tameng bagi kepentingan tertentu.
Seorang pemimpin yang memiliki furqan tidak akan mudah terpesona oleh suara yang paling keras. Ia justru mendengar suara yang paling jujur. Ia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan hanya karena desakan. Ia sadar bahwa keputusan yang cepat belum tentu tepat, sedangkan keputusan yang adil hampir selalu menuntut keberanian.
Ada satu “penyakit” yang pelan-pelan merusak tata kelola organisasi. Penyakit itu bukanlah kurangnya anggaran atau minimnya pegawai, melainkan ketika keputusan mulai dipengaruhi oleh kedekatan, bukan kelayakan; ketika hubungan lebih dihargai daripada kompetensi; dan ketika bisikan di ruang tertutup lebih menentukan daripada musyawarah di ruang terbuka.
Jika keadaan seperti ini dibiarkan, organisasi memang akan tetap berdiri. Gedungnya tetap megah, papan namanya tetap bersinar, dan upacaranya tetap berlangsung. Namun, ruh keadilannya perlahan menghilang.
Ada seloroh yang kerap terdengar nyaring di warung-warung kopi: “Kalau ingin usul cepat disetujui, jangan hanya bawa map. Bawa juga orang yang suka membuka map itu.” Semua tertawa. Padahal, guyonan semacam ini biasanya lahir dari pengalaman yang berulang. Humor sering kali menjadi cara paling sopan untuk menyampaikan luka.
Pemimpin sejati tidak alergi terhadap kritik. Ia justru khawatir jika semua orang selalu mengatakan, “Siap, Pak.” Sebab, hal itu belum tentu merupakan tanda hormat; bisa jadi itu adalah tanda bahwa tidak ada lagi yang berani mengingatkan. Kepemimpinan yang sehat bukanlah yang membuat bawahan takut berbicara, melainkan yang membuat setiap orang merasa aman menyampaikan kebenaran, sekalipun pahit.
Furqan juga mengajarkan bahwa tidak semua yang legal itu pasti bermoral. Ada keputusan yang tidak melanggar aturan, tetapi melukai rasa keadilan. Ada tindakan yang sulit dipersoalkan secara administratif, tetapi meninggalkan luka yang dalam di hati orang-orang yang diperlakukan tidak adil.
Di sinilah seorang pemimpin diuji: apakah ia cukup puas karena tidak melanggar pasal, atau ia ingin memastikan bahwa setiap kebijakannya juga tidak mencederai nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah masa yang singkat. Hari ini seseorang duduk di kursi pimpinan, besok orang lain menggantikannya. Yang tetap hidup bukanlah nama jabatan, melainkan cerita tentang bagaimana jabatan itu dijalankan. Orang mungkin lupa berapa lama seseorang memimpin. Namun, mereka akan sulit melupakan apakah selama memimpin ia menghadirkan rasa adil atau justru meninggalkan rasa takut.
Karena itu, sebelum menandatangani sebuah keputusan, berhentilah sejenak. Tanyakan kepada nurani: “Apakah keputusan ini lahir dari amanah atau dari pengaruh? Dari keadilan atau dari kedekatan? Dari ketakwaan atau dari tekanan?”
Sebab, tinta tanda tangan akan mengering hanya dalam hitungan detik, tetapi dampak dari keputusan itu bisa bertahan bertahun-tahun. Kelak di hadapan Allah, bukan indahnya tanda tangan yang ditanya, melainkan apakah di balik tanda tangan itu terdapat furqan cahaya yang membimbing seorang pemimpin untuk tetap adil meski tidak ada seorang pun yang mengawasinya.
Itulah sebabnya Allah tidak menjanjikan jabatan kepada orang yang bertakwa. Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu furqan. Dengan furqan, seseorang tidak hanya mampu memimpin organisasi, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri. Dan pemimpin yang berhasil mengalahkan kepentingan pribadinya adalah ia yang paling dekat dengan keadilan.[red]









Oleh: Dr. Khairuddin, S. Ag. MA (Pemerhati Sosial)
Sebelum pembahasan dimulai, penulis perlu menyampaikan bahwa tulisan ini lahir dari sejumlah pertanyaan tentang bagaimana seseorang dapat selamat dalam memimpin, serta dari berbagai peristiwa yang penulis amati di lapangan. Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung individu atau kelompok tertentu, melainkan sebagai bahan renungan bersama tentang pentingnya kejernihan hati, ketakwaan, dan nilai furqan dalam kepemimpinan.
Ada satu nikmat yang sering luput dari doa para pemimpin. Mereka meminta jabatan yang lebih tinggi, rezeki yang lebih luas, bawahan yang patuh, bahkan umur yang panjang. Namun, sedikit yang memohon agar Allah menganugerahkan furqan. Padahal, tanpa furqan, jabatan hanya akan memperbesar peluang untuk berbuat salah. Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan.” (QS. Al-Anfal: 29).
Furqan bukan sekadar kemampuan membedakan hitam dan putih. Itu terlalu mudah. Yang sulit adalah membedakan dua hal yang sama-sama tampak benar: membedakan antara loyalitas dan penjilatan; antara masukan yang tulus dan bisikan yang membawa agenda tersembunyi; serta antara kebijakan yang berpihak pada kepentingan umum dan kebijakan yang hanya menguntungkan lingkaran tertentu.
Di sinilah ketakwaan menjadi sumber kejernihan. Hati yang dipenuhi kepentingan pribadi tidak akan mampu melihat kebenaran secara utuh; ia hanya melihat apa yang menguntungkan dirinya.
Dalam dunia administrasi, semua keputusan bisa dibuat tampak sah. Ada suratnya, ada parafnya, stempelnya, hingga dokumentasinya. Berkasnya lengkap dan prosedurnya terlihat benar. Namun, Allah tidak hanya menilai kelengkapan administrasi. Allah melihat niat, proses, dan keadilan yang melatarbelakanginya.
Oleh karena itu, administrasi tidak boleh hanya menjadi alat untuk melegalkan keputusan, melainkan harus menjadi sarana menjaga amanah. Berkas boleh rapi, tetapi hati juga harus bersih. Arsip boleh tertata, tetapi nurani jangan sampai berdebu.
Hari ini kita hidup pada masa ketika orang sering lebih sibuk mencari pembenaran daripada mencari kebenaran. Ketika sebuah keputusan dikritik, yang dicari bukanlah apakah keputusan itu adil, melainkan bagaimana menemukan pasal yang dapat membenarkannya. Padahal, hukum hadir untuk menjaga keadilan, bukan untuk menjadi tameng bagi kepentingan tertentu.
Seorang pemimpin yang memiliki furqan tidak akan mudah terpesona oleh suara yang paling keras. Ia justru mendengar suara yang paling jujur. Ia tidak tergesa-gesa mengambil keputusan hanya karena desakan. Ia sadar bahwa keputusan yang cepat belum tentu tepat, sedangkan keputusan yang adil hampir selalu menuntut keberanian.
Ada satu “penyakit” yang pelan-pelan merusak tata kelola organisasi. Penyakit itu bukanlah kurangnya anggaran atau minimnya pegawai, melainkan ketika keputusan mulai dipengaruhi oleh kedekatan, bukan kelayakan; ketika hubungan lebih dihargai daripada kompetensi; dan ketika bisikan di ruang tertutup lebih menentukan daripada musyawarah di ruang terbuka.
Jika keadaan seperti ini dibiarkan, organisasi memang akan tetap berdiri. Gedungnya tetap megah, papan namanya tetap bersinar, dan upacaranya tetap berlangsung. Namun, ruh keadilannya perlahan menghilang.
Ada seloroh yang kerap terdengar nyaring di warung-warung kopi: “Kalau ingin usul cepat disetujui, jangan hanya bawa map. Bawa juga orang yang suka membuka map itu.” Semua tertawa. Padahal, guyonan semacam ini biasanya lahir dari pengalaman yang berulang. Humor sering kali menjadi cara paling sopan untuk menyampaikan luka.
Pemimpin sejati tidak alergi terhadap kritik. Ia justru khawatir jika semua orang selalu mengatakan, “Siap, Pak.” Sebab, hal itu belum tentu merupakan tanda hormat; bisa jadi itu adalah tanda bahwa tidak ada lagi yang berani mengingatkan. Kepemimpinan yang sehat bukanlah yang membuat bawahan takut berbicara, melainkan yang membuat setiap orang merasa aman menyampaikan kebenaran, sekalipun pahit.
Furqan juga mengajarkan bahwa tidak semua yang legal itu pasti bermoral. Ada keputusan yang tidak melanggar aturan, tetapi melukai rasa keadilan. Ada tindakan yang sulit dipersoalkan secara administratif, tetapi meninggalkan luka yang dalam di hati orang-orang yang diperlakukan tidak adil.
Di sinilah seorang pemimpin diuji: apakah ia cukup puas karena tidak melanggar pasal, atau ia ingin memastikan bahwa setiap kebijakannya juga tidak mencederai nilai kemanusiaan.
Pada akhirnya, jabatan hanyalah masa yang singkat. Hari ini seseorang duduk di kursi pimpinan, besok orang lain menggantikannya. Yang tetap hidup bukanlah nama jabatan, melainkan cerita tentang bagaimana jabatan itu dijalankan. Orang mungkin lupa berapa lama seseorang memimpin. Namun, mereka akan sulit melupakan apakah selama memimpin ia menghadirkan rasa adil atau justru meninggalkan rasa takut.
Karena itu, sebelum menandatangani sebuah keputusan, berhentilah sejenak. Tanyakan kepada nurani: “Apakah keputusan ini lahir dari amanah atau dari pengaruh? Dari keadilan atau dari kedekatan? Dari ketakwaan atau dari tekanan?”
Sebab, tinta tanda tangan akan mengering hanya dalam hitungan detik, tetapi dampak dari keputusan itu bisa bertahan bertahun-tahun. Kelak di hadapan Allah, bukan indahnya tanda tangan yang ditanya, melainkan apakah di balik tanda tangan itu terdapat furqan cahaya yang membimbing seorang pemimpin untuk tetap adil meski tidak ada seorang pun yang mengawasinya.
Itulah sebabnya Allah tidak menjanjikan jabatan kepada orang yang bertakwa. Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu furqan. Dengan furqan, seseorang tidak hanya mampu memimpin organisasi, tetapi juga mampu memimpin dirinya sendiri. Dan pemimpin yang berhasil mengalahkan kepentingan pribadinya adalah ia yang paling dekat dengan keadilan.[red]