
BANDA ACEH | SNN — Berstatus sebagai provinsi dengan gelontoran Dana Otonomi Khusus yang fantastis, Aceh justru menyimpan ironi sosial yang memprihatinkan. Fenomena ribuan warganya yang memilih eksodus menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) mengindikasikan adanya ketimpangan pembangunan dan minimnya serapan tenaga kerja di tingkat lokal.
Tren peningkatan jumlah pekerja migran asal Serambi Mekkah bukanlah prestasi, melainkan alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi daerah. Keputusan untuk mengadu nasib ke negeri jompo sering kali didorong oleh keterpaksaan akibat sempitnya lapangan pekerjaan dan rendahnya tingkat upah di kampung halaman.
Ironisnya, banyak dari pekerja migran ini terjebak dalam jalur tidak resmi yang berisiko tinggi.
“Angka migrasi pekerja kita yang tinggi ini harus menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Otsus harus direorientasi untuk membuka lapangan kerja padat karya, bukan sekadar proyek fisik yang tidak menyerap tenaga kerja lokal,” ujar Zulfadli, Ketua DPRA Aceh.
Tanpa langkah strategis dan komprehensif, Aceh berpotensi kehilangan generasi produktifnya yang terus mencari kehidupan lebih layak di luar batas provinsi (Red)








