Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
TAPAKTUAN | SNN – Rilisnya Pengumuman Nomor 11/PANSEL/VIII/2026 tentang Hasil Asesmen Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan memicu diskusi menarik di ruang publik. Sebanyak 34 nama dinyatakan lulus ke tahap presentasi makalah dan wawancara untuk mengisi 13 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang sedang dilelang. Sementara itu, dua dinas vital, Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian terpaksa memperpanjang masa pendaftaran akibat minimnya peminat yang memenuhi syarat.
Di atas kertas, daftar 34 nama ini mencerminkan hasil penyaringan ketat. Namun, jika kita membedah daftar tersebut menggunakan pisau analisis linieritas disiplin ilmu dan rekam jejak birokrasi, kita akan menemukan peta persaingan yang tidak hanya ketat, tetapi juga penuh dengan kejutan taktis.
Mazhab Kompetensi: Dominasi Gelar Teoretis vs Kebutuhan Lapangan
Pansel kali ini tampaknya sangat berhati-hati dalam menjaga marwah regulasi tata kelola ASN. Pada pos-pos teknis yang membutuhkan keahlian rigid, nama-nama yang muncul berada pada jalur yang sangat aman. Sebut saja di Dinas PUPR, munculnya nama Skar Fharaby, ST, MT memberikan sinyal kuat bahwa sektor konstruksi dan tata ruang Aceh Selatan ingin diserahkan kepada figur dengan kompetensi akademik magister teknik yang matang. Hal serupa terjadi di Dinas Perkim, di mana Ir. Rima Eved Hendedy, ST, MSP dengan gelar Magister Studi Pembangunan-nya menjadi kandidat paling diunggulkan secara nomenklatur keilmuan tata spasial.
Di sektor penegakan syariat dan sosial, Pansel juga meletakkan jangkar pada figur yang tepat. Suhaimi, S.Ag menjadi representasi tunggal dari rumpun keagamaan untuk Dinas Syariat Islam, menempatkannya di posisi terdepan dibandingkan kompetitor berlatar belakang ekonomi. Sementara di Dinas Sosial, Rosita, S.Ag, M.Hum membawa angin segar dengan gelar Magister Humaniora yang sangat dibutuhkan untuk menyentuh akar persoalan sosial-kemasyarakatan dengan pendekatan kemanusiaan.
Namun, dinamika menarik justru tersaji di dinas-dinas taktis. Lihat saja Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Posisi ini dikepung oleh “segitiga emas” Sarjana Ekonomi: Mudatsir ZA, SE, MM, Ahmad Munir, SE, Ak, dan Fadli Suhada, SE, M.Si. Di sini, gelar akademik tidak lagi menjadi kompas utama. Siapa yang akan dipilih oleh Bupati selaku Pejabat Pembina Kepegawaian (PPK) akan sangat bergantung pada kapasitas crisis management dan ketegasan manajerial di lapangan sebuah ujian nyata yang melampaui selembar ijazah.
Fenomena “Kandidat Laris” dan Dilema Hak Prerogatif Bupati
Redaksi SaranNews.net mencatat adanya fenomena menarik: terdapat sejumlah nama yang berhasil “lolos ganda” di dua formasi OPD berbeda secara bersamaan. Nama-nama seperti Erva Faiza, SIP, M.Si, Eja Rinanda Irma, ST, MM, Salmi, SE, MM, dan Renol Riandy, ST, M.Si terbukti memiliki nilai manajerial yang tinggi di mata Pansel sehingga mampu mengamankan posisi di dua ceruk kompetisi yang berbeda.
Di satu sisi, ini adalah bukti kualitas personal sang aparatur. Namun di sisi lain, fenomena ini mempersempit ruang opsi bagi Bupati. Ketika satu nama terbaik ternyata berada di dua tiga-besar OPD yang berbeda, kalkulasi politik-birokrasi harus dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi kekosongan figur potensial di OPD lainnya.
Sektor pendidikan juga menyajikan drama tersendiri. Di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, kita disuguhkan duel sengit antara dua pemilik gelar Magister Pendidikan, Maulinas, SPd, MPd dan M. Najur, SPd, MPd. Pertarungan ini murni tarung linieritas. Namun, kehadiran Dharma Syahputra, SIP, MEc.Dev (Magister Ekonomi Pembangunan) di posisi yang sama bisa menjadi plot twist jika pimpinan daerah menginginkan pendekatan makro-fiskal dalam membenahi carut-marut anggaran pendidikan daerah.
Catatan Merah untuk Dinas Kesehatan dan Pertanian
Di balik optimisme 13 OPD ini, tertinggalnya Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian ke dalam masa perpanjangan pendaftaran adalah alarm keras bagi sistem kaderisasi birokrasi di Aceh Selatan. Mengapa dua dinas yang menyentuh hajat hidup orang banyak, kesehatan rakyat dan urat nadi pangan daerah justru sepi peminat yang memenuhi kualifikasi? Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi BKPSDM untuk mengevaluasi pola promosi dan pemetaan kompetensi ASN di eselon bawahnya.
Kesimpulan Redaksi
Tahap asesmen telah usai, dan bola kini bergulir ke tahap presentasi makalah serta wawancara. Ujian sesungguhnya bukan lagi sekadar menghafal regulasi, melainkan bagaimana para calon jenderal birokrasi ini memaparkan visi taktis di hadapan penguji dan meyakinkan Bupati.
Kami di meja redaksi SaranNews.net berharap, siapa pun yang nantinya terpilih dan mengantongi rekomendasi KASN, bukanlah mereka yang hanya pandai mencari “titik aman” di atas kertas, melainkan para eksekutor yang siap bekerja keras demi membawa perubahan nyata bagi masyarakat Aceh Selatan. Seleksi ini bukan sekadar bagi-bagi kursi, ini adalah tentang masa depan daerah.[red]









