Harga Beras di Banda Aceh Naik Rp5 Ribu per Karung, Apa Penyebabnya?

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | SNN — Harga beras di sejumlah pasar tradisional Kota Banda Aceh mulai merangkak naik. Kenaikan rata-rata mencapai Rp5 ribu per karung untuk berbagai merek beras yang banyak dikonsumsi masyarakat. Bagi keluarga yang setiap bulan mengandalkan satu atau dua karung beras, kenaikan ini berarti pengeluaran tambahan yang langsung memengaruhi dapur rumah tangga.
Salah seorang pedagang di Pasar Al Mahirah, Lamdingin, Dahlan, mengatakan kenaikan harga terjadi pada sejumlah merek beras premium, sementara beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih dijual dengan harga yang relatif stabil.
“Beras Meutuah Baro sebelumnya dijual Rp245 ribu per 15 kilogram, sekarang naik menjadi Rp250 ribu per 15 kilogram. Beras Yusima juga naik sekitar Rp5 ribu, dari sebelumnya Rp238 ribu sampai Rp240 ribu per 15 kilogram, sekarang menjadi Rp245 ribu per 15 kilogram,” kata Dahlan, Sabtu (20/6/2026).
Sementara itu, beras SPHP masih bertahan di harga Rp63 ribu per kemasan 5 kilogram. Namun, ketersediaan beras SPHP di pasar tidak selalu mencukupi permintaan, sehingga sebagian konsumen terpaksa beralih ke beras premium yang harganya lebih tinggi.
Dahlan menjelaskan kenaikan harga dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan gabah dari petani. Selain itu, tingginya permintaan dari luar daerah, khususnya Medan, turut mendorong kenaikan harga di pasar lokal.
“Gabah sudah mulai berkurang. Selain itu, permintaan dari pasar Medan juga tinggi. Kalau permintaan ke Medan naik, biasanya harga di daerah kita juga ikut naik,” sebutnya.
Pola ini menunjukkan bahwa harga beras di Aceh ternyata tidak lepas dari dinamika pasar regional. Ketika pembeli dari Medan mulai agresif menyerap pasokan, harga di Banda Aceh otomatis ikut terdorong naik, meskipun permintaan lokal tidak mengalami lonjakan signifikan.
Selain beras, harga gula pasir juga mengalami kenaikan. Saat ini gula dijual Rp19 ribu per kilogram, naik Rp1.000 dibandingkan harga sebelumnya. Sementara harga minyak goreng masih terpantau stabil dan belum mengalami perubahan signifikan.
Meski sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga, Dahlan menilai daya beli masyarakat masih cukup terjaga. Penjualan sembako di Pasar Al Mahirah juga belum menunjukkan penurunan yang berarti.
“Kalau penjualan masih stabil. Daya beli masyarakat masih ada. Namanya sembako, walaupun mahal tetap dibeli karena itu kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Para pedagang memperkirakan harga beras masih berpotensi bertahan pada level saat ini selama pasokan gabah belum kembali normal dan permintaan dari luar daerah tetap tinggi. Artinya, dalam beberapa minggu ke depan, konsumen perlu bersiap jika harga beras tidak segera turun.
Bagi masyarakat Banda Aceh, kenaikan Rp5 ribu per karung mungkin terdengar kecil. Namun jika diakumulasi sepanjang tahun, bertambahnya biaya pangan pokok ini menjadi beban tersendiri, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah yang setiap rupiahnya dihitung untuk bertahan hidup. (Red)
Sumber: Nukilan.id









