7 Bulan Pascabanjir, Anak Aceh Barat Berenang Sungai ke Sekolah

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
MEULABOH | SNN — Tujuh bulan telah berlalu sejak bencana banjir dan tanah longsor melanda Aceh pada akhir 2025, namun nasib anak-anak di Aceh Barat masih menyedihkan. Sejumlah anak terpaksa berenang menyeberang sungai berarus deras setiap hari demi sampai ke sekolah, lantaran jembatan penghubung desa mereka hancur dan belum dibangun kembali hingga kini.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir dan tanah longsor yang menerjang Aceh pada November 2025 merusak lebih dari 10.000 bangunan, termasuk 15 jembatan utama yang menghubungkan desa-desa terpencil. Hingga Juni 2026, sedikitnya 91.000 jiwa masih terpaksa mengungsi dan ratusan infrastruktur belum sepenuhnya dipulihkan.
Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum sebenarnya telah mengirim jembatan darurat tipe bailey ke sejumlah lokasi terdampak. Namun, jembatan darurat tersebut terbukti rapuh. Pada April 2026, sebuah jembatan darurat di Aceh Tengah ambruk kembali diterjang luapan air, memaksa warga kembali mencari alternatif penyeberangan yang berbahaya.
Akibatnya, warga di sejumlah desa terpencil di Aceh Barat harus mengandalkan rakit darurat atau bahkan berenang untuk menyeberangi sungai. Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Tanpa jembatan yang memadai, perjalanan ke sekolah yang biasanya hanya 15 menit, kini menjadi perjuangan hidup dan mati.
Pemerintah pusat sebenarnya telah mengalokasikan dana pemulihan bencana yang cukup besar. Kementerian Pekerjaan Umum mencatat telah menangani 107 ruas jalan dan 43 jembatan di wilayah terdampak. Namun, aceh memiliki geografi yang luas dengan ratusan titik infrastruktur rusak, sehingga prioritisasi menjadi tantangan tersendiri.
Data terakhir menunjukkan sebanyak 1.544 unit rumah telah diselesaikan dari target total, atau mencapai sekitar 83 persen. Namun untuk infrastruktur jalan dan jembatan desa, angka penyelesaiannya masih jauh dari harapan. Warga merasa bahwa pembangunan rumah lebih diprioritaskan daripada akses jalan dan jembatan yang sama pentingnya.
Kasus anak-anak yang berenang menyeberang sungai demi ke sekolah adalah potret nyata tentang betapa lambatnya pemulihan pasca bencana di Aceh. Sementara pemerintah bersikeras menyatakan pemulihan telah mencapai hampir 100 persen, realitas di lapangan membuktikan sebaliknya. (Red)









