16 Korban Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Masih Terbaring, Dua Kritis

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | SNN — Hari kedelapan setelah ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 meledak di Pelabuhan Ulee Lheue, 16 korban luka bakar masih terbaring di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Dua di antaranya masih dalam kondisi belum stabil, sementara sisanya berangsur membaik dalam penanganan intensif tim medis.
Insiden yang terjadi pada Jumat (12/6/2026) siang itu mengubah hidup belasan taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) yang awalnya hanya sedang menjalani praktik di atas kapal. Mereka datang untuk belajar menjadi pelaut, bukan untuk menjadi pasien ruang intensif.
Ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 meledak dan terbakar saat kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Komandan KN SAR Kresna, Capt Supriadi, yang berada di lokasi saat kejadian, langsung memimpin operasi evakuasi bersama tim SAR dan personel ABK yang sedang bersiaga di kawasan pelabuhan.
“Telah terjadi ledakan dan kebakaran di kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 saat kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue. Korban terbakar sekitar 14 orang dan seluruhnya sudah dibawa ke RSZA,” kata Supriadi saat itu. Jumlah korban kemudian bertambah menjadi 16 orang.
Sebagian besar korban merupakan taruna Poltekpel yang sedang menjalani praktik di atas kapal tersebut. Ledakan terjadi sekitar 45 menit setelah kapal tiba, ketika aktivitas bongkar muat dan persiapan pelayaran sedang berlangsung.
Berdasarkan informasi terbaru dari RSUDZA, 16 korban masih menjalani perawatan intensif. Humas RSUDZA mengonfirmasi bahwa kondisi para pasien berangsur membaik, namun dua orang masih tercatat belum stabil dan membutuhkan pemantauan ketat di unit perawatan intensif.
Luka bakar yang diderita korban bervariasi, mulai dari luka bakar derajat dua hingga derajat tiga. Tim medis RSUDZA bekerja siang malal untuk memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan terbaik, termasuk perawatan luka, pemberian cairan infus, dan pemantauan fungsi organ vital.
ASDP sebagai operator kapal telah memastikan seluruh korban ditangani secara maksimal. Biaya perawatan medis dan kebutuhan operasional pasien menjadi tanggung jawab perusahaan.
Di balik angka 16 korban yang tertera di kartu status pasien, ada keluarga yang setiap hari bolak-balik ke RSUDZA. Ada orang tua yang terbang dari luar Aceh untuk menemani anaknya. Ada istri yang menunggu kabar suami yang seharusnya pulang hari itu, bukan terbaring dengan tubuh penuh luka bakar.
Taruna-taruna muda yang bermimpi mengarungi samudra kini berjuang untuk bisa berdiri kembali. Praktik pelayaran yang seharusnya menjadi batu loncatan karier mereka, justru berubah menjadi tragedi yang akan terukir seumur hidup.
Hingga saat ini, penyebab pasti ledakan di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 masih dalam proses penyelidikan. Petugas masih mengumpulkan keterangan terkait kronologi dan faktor-faktor yang memicu insiden tersebut.
Pertanyaan krusialnya: apakah prosedur keselamatan kapal sudah dijalankan dengan benar? Apakah ada kelalaian pemeliharaan mesin yang luput dari perhatian? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab, bukan hanya bagi ke-16 korban, tetapi bagi ribuan penumpang yang setiap hari mengandalkan transportasi laut di Selat Malaka.
Selama jawaban itu belum ditemukan, 16 taruna muda itu akan terus terbaring di RSUDZA, menunggu kesembuhan sekaligus menunggu keadikan. (Red)
Sumber: Masakini.co, Serambinews.com









