Perangi Judi Online dan Narkoba, Wagub Dek Fadh Tegaskan Dayah Benteng Utama Penyelamat Generasi Aceh

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | sarannews.net – Di tengah hantaman disrupsi teknologi digital dan maraknya ancaman degradasi moral, institusi pendidikan dayah dituntut berdiri di garda terdepan sebagai benteng pertahanan umat. Sistem pendidikan berbasis pesantren dinilai menjadi kunci mutlak dalam melahirkan Sumber Daya Manusia (SDM) Aceh yang tangguh secara intelektual dan berintegritas secara spiritual.
Penegasan tersebut dilontarkan oleh Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), saat menghadiri sekaligus memberikan orasi ilmiah pada acara Milad dan Tasyakkur XXVIII Dayah Terpadu Inshafuddin, Banda Aceh, Sabtu (1/8/2026).

Dalam momentum sakral tersebut, Dek Fadh secara terbuka menyampaikan apresiasi tinggi atas kiprah Dayah Terpadu Inshafuddin yang selama hampir tiga dekade konsisten mencetak kader bangsa yang berilmu pengetahuan luas serta berakhlak mulia.
Secara khusus, Wagub mengucapkan selamat kepada 106 santri yang resmi diwisuda pada prosesi tahun ini. Ia mengingatkan bahwa kelulusan dari dayah bukanlah garis finish dalam mencari ilmu, melainkan momentum awal pengabdian riil di tengah masyarakat.
Benteng Hadapi Tantangan Zaman
Wagub tidak menampik bahwa tantangan sosial yang dihadapi generasi muda Aceh saat ini sudah memasuki fase yang mengkhawatirkan. Paparan negatif teknologi merambah ke berbagai sektor, mulai dari jeratan sindikat narkoba hingga maraknya wabah judi online yang merusak tatanan ekonomi dan mental usia produktif.
“Generasi muda kita hari ini dikepung oleh bahaya laten narkoba dan judi online yang merusak akhlak. Karena itu, model pendidikan yang menyatukan antara iman, ilmu, dan adab merupakan fondasi paling krusial bagi masa depan Aceh,” tegas Dek Fadh.
Ia menambahkan, keunggulan dayah terletak pada kemampuannya menanamkan kedisiplinan hidup, karakter kepemimpinan, dan kemandirian sejak dini. Oleh sebab itu, Pemerintah Aceh berkomitmen untuk terus mengalokasikan dukungan kebijakan guna memperkuat eksistensi dayah sebagai pilar utama pembangunan makro daerah.
Di akhir orasinya, Dek Fadh menantang para wisudawan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang setinggi-tingginya, menguasai sains dan teknologi terkini, namun tetap kokoh memegang jati diri sebagai muslim yang berintegritas.
“Kita butuh lebih banyak lulusan dayah yang mampu bertransformasi menjadi ulama, akademisi, profesional teknokrat, hingga pimpinan daerah yang keputusannya selalu berlandaskan nilai-nilai universal Islam,” pungkasnya. [red]









