Manuver Elite di Simpang Jalan Pemekaran: Di Balik Klaim BARSELA dan ‘Gerilya’ KP3 ABAS di Meulaboh

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
Oleh: Tim Redaksi sarannews.net
BANDA ACEH | SNN — Asa masyarakat pesisir barat dan selatan Aceh untuk berdiri menjadi daerah otonomi baru tampaknya sedang diuji, bukan hanya oleh ketatnya moratorium pemerintah pusat, melainkan oleh dinamika tajam di dalam ruang ganti para elitenya sendiri. Di permukaan, narasi pemekaran tampak solid. Namun, temuan dokumen eksklusif oleh sarannews.net mengindikasikan adanya tarik-menarik legitimasi yang berpotensi membelah gerbong perjuangan menjadi dua poros: poros Banda Aceh dengan payung “BARSELA” dan poros Meulaboh yang masih setia pada panji “KP3 ABAS”.
Klaim Transformasi BARSELA
Pada Sabtu (13/6/2026), publik disuguhkan pernyataan terbuka dari Hafil Fuddin, Ketua Formatur Komite Persiapan Pembentukan Provinsi Persiapan Barat Selatan Aceh (KP3 BARSELA). Mantan Panglima Kodam Iskandar Muda ini dengan tegas merilis pernyataan bahwa perubahan nomenklatur dari ABAS menjadi BARSELA adalah sebuah bentuk penyempurnaan, bukan perlawanan.
Narasi yang dibangun sangat akademis: BARSELA dianggap lebih utuh secara kohesi geografis dan sosial-budaya. Hafil menyatakan bahwa pijakan awal bernama ABAS tetap dihormati sebagai fondasi sejarah, namun gerbong kini harus bergerak dengan baju baru bernama BARSELA agar lebih realistis di mata Jakarta.
Bagi pengamat awam, pernyataan ini seolah menjadi titik temu dan konsolidasi final. Namun, fakta di lapangan berbicara lain.
Dokumen Rahasia: KP3 ABAS Masih Bernapas dan Melawan
Penelusuran sarannews.net menemukan anomali yang membongkar tabir di balik pernyataan tokoh BARSELA tersebut. Beberapa hari sebelum klaim transformasi itu disebar ke media, tepatnya pada 9 Juni 2026, terbit sebuah Surat Undangan bernomor “Istimewa” yang dicap dan ditandatangani di Meulaboh.
Kop surat tersebut jelas tertulis: KOMITE PELAKSANA PEMBENTUKAN PROVINSI ACEH BARAT SELATAN (KP3 ABAS) PUSAT. Surat undangan silaturahmi yang ditujukan kepada KP3 ABAS Kabupaten Aceh Selatan ini ditandatangani oleh para inisiator kawakan, di antaranya Teuku Sukandi, H. Kamaruddin, S.E., Amiruddin, S.H., dan Drs. Meurah Ali. Tidak ada jejak nama Hafil Fuddin di sana.
Lebih mengejutkan lagi adalah lampiran “Tertib Acara” untuk konsolidasi yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 17 Juni 2026, di Universitas Teuku Umar (UTU), Meulaboh. Pada pukul 10.40 hingga 12.00 WIB, tertera agenda krusial: Revisi Pengurus KP3 ABAS Pusat dan Pemilihan Ketua Umum KP3 ABAS yang baru.
Aksi Preemptive atau Pecah Kongsi?
Korelasi waktu antara dua peristiwa ini tidak bisa dianggap sebagai kebetulan semata. Menarik garis kronologisnya, pernyataan Hafil Fuddin (13 Juni) yang mengklaim perjuangan kini beralih ke BARSELA terkesan sebagai manuver preemptive strike (langkah mendahului) yang diluncurkan persis empat hari sebelum KP3 ABAS di Meulaboh (17 Juni) mengukuhkan kepengurusan dan ketua umum baru.
Pertanyaan mendasar kini mencuat: Jika BARSELA adalah wadah peleburan dan penyempurnaan yang disepakati bersama, mengapa para inisiator di Meulaboh masih mematangkan struktur KP3 ABAS dan bersiap memilih pemimpin baru?
Dokumen ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa gerbong pejuang pemekaran sedang tidak baik-baik saja. Ada upaya saling klaim legitimasi terkait siapa yang memegang tongkat komando paling sah untuk mewakili aspirasi ratusan ribu warga pesisir barat-selatan Aceh.
Sikap diam para elite terkait dualisme ini justru berbahaya bagi nasib pemekaran itu sendiri. Pemerintah pusat dan DPR RI di Senayan tentu akan berpikir dua kali untuk membuka keran Daerah Otonomi Baru (DOB) jika elite di tingkat daerah masih terjebak dalam pusaran faksionalisme. Masyarakat di pesisir barat dan selatan hanya menuntut pemerataan infrastruktur, transparansi anggaran, dan keadilan ekonomi mereka tidak butuh pertunjukan ego siapa yang paling berhak menjadi pahlawan pemekaran.
Publik kini menanti, apakah pertemuan di Universitas Teuku Umar pada 17 Juni mendatang akan menjadi titik rekonsiliasi, atau justru menjadi deklarasi resmi pecahnya kongsi perjuangan?.[red]









