Inflasi Aceh Tamiang Tembus 5,69%, Lampaui Rata-Rata Aceh dan Nasional

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
KARANG BARU | SNN — Daya beli masyarakat Aceh Tamiang kembali tertekan setelah inflasi daerah menembus 5,69 persen pada Mei 2026. Angka tersebut tidak hanya lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Aceh yang tercatat 5,12 persen, tetapi juga jauh melampaui inflasi nasional sebesar 3,08 persen, di tengah upaya pemulihan ekonomi pascabanjir yang masih berlangsung.
Data yang dipaparkan dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh Tamiang menunjukkan inflasi daerah sempat mencapai puncak 7,59 persen pada Januari 2026. Berbagai langkah pengendalian berhasil menurunkannya menjadi 3,82 persen pada April. Namun tren positif tersebut kembali berbalik ketika inflasi merangkak naik menjadi 5,69 persen pada Mei.
Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol. (Purn.) Drs. Armia Pahmi, M.H., mengatakan pengendalian inflasi harus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan karena berkaitan langsung dengan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Pengendalian inflasi harus terus menjadi perhatian bersama agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan pertumbuhan ekonomi daerah dapat berjalan secara berkelanjutan,” kata Armia saat membuka High Level Meeting TPID di Aula Setdakab Aceh Tamiang, Kamis (18/6/2026).
Kenaikan inflasi tersebut terjadi ketika sebagian masyarakat Aceh Tamiang masih berupaya memulihkan kondisi ekonomi akibat banjir besar yang melanda daerah itu pada akhir 2025. Bencana tersebut tidak hanya merusak rumah warga dan fasilitas umum, tetapi juga berdampak terhadap sektor pertanian, perdagangan, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan harga pangan berpotensi menambah beban rumah tangga, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang masih berjuang memulihkan sumber penghidupannya. Kelompok pekerja sektor informal, petani, pedagang kecil, dan pelaku UMKM diperkirakan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.
Pendapatan mereka belum sepenuhnya pulih dari dampak banjir, sementara harga kebutuhan sehari-hari terus mengalami tekanan ke atas. Ketika daya beli menurun, aktivitas perdagangan dan perputaran uang di tingkat pasar ikut melemah, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan usaha kecil dan sektor ekonomi lokal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang utama inflasi di Aceh sepanjang Mei 2026. Sejumlah komoditas seperti beras, cabai merah, tomat, minyak goreng, dan kebutuhan pangan lainnya tercatat sebagai faktor dominan pendorong kenaikan harga.
Namun dalam forum TPID tersebut, belum dijelaskan secara rinci komoditas spesifik apa yang menjadi penyumbang terbesar inflasi di Aceh Tamiang. Langkah konkret yang akan ditempuh untuk menekan kenaikan harga pada semester kedua 2026 juga belum diumumkan.
Bagi masyarakat Aceh Tamiang, inflasi bukan sekadar angka statistik di kertas. Kenaikan harga kebutuhan pokok langsung memengaruhi piring makan keluarga. Efektivitas langkah pengendalian yang disusun TPID dalam beberapa bulan ke depan akan menjadi penentu apakah daya beli warga bisa pulih, atau terus tergerus oleh gelombang harga yang tak terkendali. (Red)
Sumber: Lampumerahnews









