Langsung ke konten utama

Dihantui Luapan Krueng Peutoe ke Lima Gampong, Warga Pante Lhoksukon Tagih Tanggul Permanen Usai Swadaya Darurat

Redaksi
SNN
Penulis: RedaksiEditor: SNN
Kondisi penanganan tanggul darurat di Gampong Pante Kecamatan Lhoksukon Aceh Utara
Foto: Diskominfosa Aceh Utara

ACEH UTARA | SNN – Warga Gampong Pante, Kemukiman Ara Bungkok, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara menagih pembangunan tanggul permanen karena tanggul yang nyaris jebol baru tertangani secara darurat, Jumat (30/10/2026).

Dalam rilis resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang terbit Jumat (30/10/2026), disebutkan bahwa penanganan darurat tanggul di Gampong Pante telah diselesaikan melalui gotong royong swadaya masyarakat bersama dukungan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, Camat Lhoksukon Kamaruddin KS, unsur Muspika, serta pemerintah gampong. Pihak pemerintah daerah mengklaim langkah darurat ini dilakukan untuk menekan risiko luapan sungai saat curah hujan meningkat.

Namun, penguatan darurat hasil gotong royong warga pada Senin (26/10/2026) itu belum menjamin keamanan jangka panjang di tengah debit sungai yang masih tinggi dan awan pekat di wilayah Lhoksukon. Sebelumnya, laporan BPBD Aceh Utara dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I yang dikutip Kantor Berita ANTARA pada 21 dan 22 Oktober 2026 mencatat jebolnya tanggul serta abrasi tebing Sungai Krueng Peutoe telah merendam permukiman warga dan badan jalan Lhoksukon menuju Cot Girek, sementara target penanganan permanen terpadu BWS baru diproyeksikan rampung secara keseluruhan pada Desember 2028.

Ancaman Meluas ke Lima Gampong dan Lahan Sawah

Ketua Pemuda Gampong Pante, Zulkarnaini, yang didampingi tokoh masyarakat T. Raja Habibi pada Jumat (30/10/2026), mengungkapkan bahwa kerusakan tanggul di titik tersebut menyimpan ancaman serius bagi permukiman dan area persawahan yang baru selesai ditanami. Apabila tanggul jebol, luapan air sungai dikhawatirkan merendam Gampong Pante serta meluas ke Gampong Meunasah Asan, Kuta Lhoksukon, Matang Teungoh, Rambot, hingga Matang Pupanji.

“Jika tanggul ini tidak segera ditangani, kami sangat khawatir air akan meluap dan menyebabkan banjir yang lebih besar. Dampaknya bukan hanya mengancam rumah dan keselamatan masyarakat, tetapi juga bisa meluas ke gampong-gampong lain serta merendam lahan pertanian warga,” ungkap Zulkarnaini.

Ia menambahkan bahwa warga tidak ingin terus dihantui rasa cemas setiap kali hujan deras mengguyur kawasan Lhoksukon.

“Kami berharap tanggul ini segera diperbaiki secara permanen agar masyarakat merasa lebih aman. Semoga pembangunan dan pembenahan infrastruktur di Kecamatan Lhoksukon terus dilakukan, khususnya di titik-titik rawan banjir yang membutuhkan perhatian serius,” katanya.

Warga di sepanjang aliran sungai Lhoksukon kini menanti kepastian jadwal dan realisasi anggaran pembangunan tanggul permanen dari Pemerintah Kabupaten Aceh Utara maupun pemerintah pusat agar keselamatan permukiman serta sawah petani tidak terus bergantung pada tanggul darurat swadaya. (red)

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami

Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.