Langsung ke konten utama

Tambak Warga Dewantara Masih Tertimbun Lumpur Saat Proyek Rp14 Miliar Keruk Sungai Lueng Raja

Redaksi
SNN
Penulis: RedaksiEditor: SNN
Kondisi aliran Sungai Lueng Raja di Kecamatan Dewantara, Aceh Utara yang sedang dikeruk alat berat
Foto: Pemkab Aceh Utara

LHOKSUKON | SNN – Petani tambak di Desa Glumpang Sulu Timu, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, masih belum dapat memulihkan usaha budidaya perikanan secara penuh akibat bagian dalam tambak mereka tertimbun lumpur pascabanjir, Jumat (06/11/2026). Kendala lahan warga itu membayangi pengerjaan proyek normalisasi Sungai Lueng Raja dan muara Krueng Bungkah senilai Rp14 miliar.

Menurut rilis resmi Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada Jumat (06/11/2026), Kementerian Pekerjaan Umum RI sedang mengerjakan paket penanganan muara Krueng Bungkah dengan pagu anggaran Rp14 miliar yang diumumkan pada 13 Oktober 2026 dan ditargetkan rampung akhir November 2026. Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil (Ayahwa), mengklaim percepatan normalisasi sungai menjadi prioritas penanganan jangka panjang agar masyarakat tidak terus dihantui banjir saat musim hujan.

“Normalisasi sungai merupakan kebutuhan mendesak bagi Aceh Utara. Kita tidak ingin masyarakat terus dihantui banjir setiap kali musim hujan tiba,” kata Ismail A. Jalil dalam keterangan resmi tersebut.

Sedimentasi 137 Sungai dan Tambak Warga yang Belum Pulih

Di balik klaim percepatan rehabilitasi oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), Kepala Satgasnas PRR sekaligus Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, mengakui bahwa tingginya sedimentasi pada 137 sungai di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih memicu banjir susulan di Pidie Jaya, Aceh Tenggara, dan Aceh Tamiang. Banjir susulan tersebut bahkan kembali merusak sejumlah ruas jalan dan jembatan yang sebelumnya telah diperbaiki.

Di tingkat tapak, pengerukan badan Sungai Lueng Raja memang mulai membuka sirkulasi keluar-masuk air, tetapi belum menyelesaikan lumpuhnya ekonomi warga Desa Glumpang Sulu Timu yang 60 persen penduduknya bergantung pada perikanan tangkap dan 30 persen pada perikanan darat. Petani tambak setempat, Wahyu Saputra, mengungkapkan bahwa tambak miliknya belum mampu menampung air karena bagian dasar tambak masih dangkal tertimbun material banjir November 2025.

“Kalau bisa, pemerintah pusat jangan hanya menggali aliran sungai. Tambak juga bisa digali,” ujar Wahyu, Jumat (06/11/2026).

Senada, Geuchik Glumpang Sulu Timu, Waliyunis, menegaskan sebagian besar tambak warga belum bisa beroperasi karena pematangnya hancur diterjang banjir. Masyarakat menagih langkah konkret pemerintah pusat dan daerah untuk memperluas rehabilitasi fisik hingga ke lahan tambak warga, menyalurkan bantuan modal usaha, serta menuntaskan normalisasi Krueng Keureuto, Krueng Peutoe, Krueng Pase, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Agam secara menyeluruh. (red)

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami

Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.