Pertamax Naik, Mahasiswa Keluhkan Beban Biaya Makin Berat

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
Banda Aceh | SNN – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026) menuai keluhan dari kalangan mahasiswa di Banda Aceh. Mereka menilai lonjakan harga tersebut semakin membebani pengeluaran harian, terutama bagi mahasiswa yang menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi utama menuju kampus.
PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Di Aceh, harga Pertamax bahkan tercatat mencapai sekitar Rp16.650 per liter. Kebijakan ini disebut dilakukan berdasarkan evaluasi berkala dan penyesuaian terhadap harga minyak dunia.
Bagi mahasiswa, kenaikan tersebut bukan sekadar angka. Sebagian besar mahasiswa perantau maupun yang tinggal di sekitar Banda Aceh mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas dari tempat tinggal ke kampus, lokasi penelitian, hingga tempat kerja paruh waktu.
Salah seorang mahasiswa di Banda Aceh, Ikhsan (22), mengaku harus menghitung ulang pengeluaran bulanannya setelah harga Pertamax melonjak. Selama ini ia memilih menggunakan Pertamax karena dianggap lebih baik untuk performa mesin motornya.
“Kalau sebelumnya isi Rp50 ribu sudah lumayan, sekarang terasa cepat habis. Uang bulanan dari orang tua tidak bertambah, sementara biaya transportasi naik. Mau tidak mau harus mengurangi pengeluaran lain,” ujarnya.
Di sisi lain, Pertamina menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan sesuai formula yang ditetapkan pemerintah dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia dan harga pasar keekonomian. Perusahaan juga memastikan pasokan Pertamax tetap aman di seluruh jaringan SPBU.
Di tengah kenaikan tersebut, mahasiswa berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok pelajar dan mahasiswa yang bergantung pada dukungan biaya dari keluarga. [TP]





