Jaringan Thailand-Aceh Terbongkar: 325 Kg Sabu Lolos hingga Bibir Pantai, Alarm Bahaya Jalur Laut

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
LHOKSEUMAWE | SNN — Keberhasilan Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri menggagalkan penyelundupan 325 kilogram sabu di Lhokseumawe kembali menegaskan satu kenyataan pahit: Aceh masih menjadi target utama dan titik kerentanan kritis dalam rute sindikat narkoba internasional. Jaringan Thailand-Aceh yang terus memanfaatkan jalur laut Sumatra menunjukkan bahwa pengawasan perairan lokal harus segera dievaluasi secara menyeluruh.
Dalam operasi gabungan tersebut, aparat berhasil mengamankan dua kurir asal Lhokseumawe, Jufri (29) dan Zulfahmi (29). Namun, tertangkapnya para pion ini tidak serta merta memutus rantai pasokan. Dua pengendali utama jaringan tersebut masih bebas berkeliaran dan berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO).
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso, menyebutkan bahwa operasi ini melibatkan sinergi dari berbagai pihak.
“Tim gabungan berhasil mengungkap peredaran gelap narkotika jenis sabu sebanyak 325 kilogram. Pengungkapan ini adalah hasil kerja keras gabungan Subdit IV Dittipidnarkoba, Satgas NIC Bareskrim Polri, Bea Cukai Kanwil Aceh, dan Bea Cukai Lhokseumawe,” ujar Eko dalam keterangannya.
Penangkapan yang terjadi di kawasan Desa Jambong Mesjid, Kecamatan Blang Mangat ini berawal dari informasi intelijen pada awal Juni 2026. Data tersebut mengindikasikan adanya pergerakan kapal yang membawa muatan sabu dari perairan Thailand menuju garis pantai Lhokseumawe.
Fakta bahwa 325 kilogram sabu bisa lolos hingga ke bibir pantai Aceh sebelum akhirnya disergap tim gabungan, menjadi alarm keras bagi otoritas keamanan maritim. Jalur pesisir Lhokseumawe yang terbuka kerap menjadi lokasi favorit metode pengiriman ship to ship (kapal ke kapal) di perbatasan internasional.
Kondisi geografis Aceh yang memiliki garis pantai panjang dan banyak pelabuhan “tikus” membuat pengawasan laut tidak bisa hanya mengandalkan patroli konvensional. Dibutuhkan peningkatan teknologi radar pantai dan intelijen masyarakat pesisir untuk mencegah masuknya barang haram ini sebelum menyentuh daratan.
Selama gembong utama di balik jaringan Thailand-Aceh ini belum tertangkap, posisi Aceh sebagai pintu masuk narkoba terbesar di Sumatra akan terus dimanfaatkan oleh sindikat internasional untuk menghancurkan generasi muda. (Red)









