Petani Kluet Utara Terancam Gagal Tanam, Irigasi Gunung Pudung Kering Kerontang dan Butuh Penanganan Darurat

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
ACEH SELATAN | SNN – Harapan para petani di Kecamatan Kluet Utara untuk menyukseskan gerakan tanam serentak musim gadu tahun ini berada di ujung tanduk. Alih-alih mulai menggarap lahan, puluhan ribu hektare sawah kini terancam gagal tanam. Penyebab utamanya adalah kekeringan parah yang melanda akibat matinya aliran dari Irigasi Gunung Pudung infrastruktur pengairan terbesar di Aceh Selatan yang kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Berdasarkan pantauan lapangan dan keluhan warga, irigasi yang dibangun pada tahun 1991 tersebut tidak lagi berfungsi maksimal. Debit air yang masuk ke saluran irigasi diperkirakan hanya setinggi lima sentimeter. Hal ini jelas tidak mencukupi kebutuhan air untuk mengairi lahan seluas kurang lebih 1.500 hektare yang tersebar di 21 gampong (desa) di Kecamatan Kluet Utara.
Kondisi Sawah Kritis dan Infrastruktur Terbengkalai
Tokoh masyarakat Gampong Ruak, Kariaman, dalam sebuah wawancara menyampaikan kekecewaan dan keresahan warga secara mendalam. Ia menegaskan bahwa tanpa penanganan segera, petani Kluet Utara tidak akan bisa turun ke sawah tahun ini.
“Sebenarnya kami sangat menyayangkan sekali. Irigasi Gunung Pudung ini adalah irigasi terbesar di Aceh Selatan, dibangun tahun 1991, tapi sampai hari ini tidak ada perawatan. Debit air yang masuk cuma 5 sentimeter. Otomatis tahun ini kami tidak bisa menanam padi, sawah semua sudah kering,” ungkap Kariaman.
Kondisi kritis ini terlihat jelas di lapangan. Lahan sawah yang sebelumnya telah dibajak dalam tahap persiapan (dimulai sejak 10 April lalu sesuai jadwal) kini mulai mengeras kembali dan retak-retak. Aliran irigasi mengalami pendangkalan parah. Saluran dipenuhi sedimen lumpur dan material sampah, dan struktur intake (pintu air) tampak rusak dan jebol.
“Kalau ini tidak dibersihkan, air tidak bisa mengalir. Mate deuk kamo ino (mati kelaparan kami disini), tidak tahu mau cari makan kemana,” keluh Kariaman, merepresentasikan kebingungan petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.

Desakan Kepada Pemerintah: Butuh Alat Berat dan Renovasi Total
Menghadapi ancaman krisis pangan dan kerugian ekonomi yang besar bagi petani, masyarakat mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. Kariaman secara khusus mengarahkan permohonannya kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan.
“Kami mohon kepada Mualem Gubernur Aceh “bek lale duk inan, kalon kamo keuno” (jangan hanya asik duduk disana, lihat kami kesini), dan kepada Bupati Haji Mirwan, “bek lale jak-jakwo ujakarta, kalon kamo keuno nasip petani kamo di kluet utaranyo” (jangan hanya sibuk bolak-balek Jakarta, lihat kami kesini nasip petani kami di Kluet utara ini) tegas kariaman.
Selain penanganan darurat berupa pengerukan material, masyarakat juga menuntut adanya renovasi total terhadap Irigasi Gunung Pudung. Menurut warga, sejak pertama kali dibangun, infrastruktur vital ini belum pernah mendapatkan perbaikan atau renovasi yang memadai. Jika tidak segera diperbaiki secara menyeluruh, kerusakan akan semakin parah dan lahan persawahan warga akan terus menerus kekurangan pasokan air.
Ketidakmampuan irigasi untuk memenuhi kebutuhan air ini menjadi pukulan telak, terutama setelah sebelumnya telah ada kesepakatan jadwal tahapan turun ke sawah yang diinisiasi oleh pemerintah kecamatan dan dinas pertanian. Tanpa air, rencana swasembada pangan yang didengungkan pemerintah daerah hanya akan menjadi isapan jempol belaka. [red]







ACEH SELATAN | SNN – Harapan para petani di Kecamatan Kluet Utara untuk menyukseskan gerakan tanam serentak musim gadu tahun ini berada di ujung tanduk. Alih-alih mulai menggarap lahan, puluhan ribu hektare sawah kini terancam gagal tanam. Penyebab utamanya adalah kekeringan parah yang melanda akibat matinya aliran dari Irigasi Gunung Pudung infrastruktur pengairan terbesar di Aceh Selatan yang kini kondisinya sangat memprihatinkan.

Berdasarkan pantauan lapangan dan keluhan warga, irigasi yang dibangun pada tahun 1991 tersebut tidak lagi berfungsi maksimal. Debit air yang masuk ke saluran irigasi diperkirakan hanya setinggi lima sentimeter. Hal ini jelas tidak mencukupi kebutuhan air untuk mengairi lahan seluas kurang lebih 1.500 hektare yang tersebar di 21 gampong (desa) di Kecamatan Kluet Utara.
Kondisi Sawah Kritis dan Infrastruktur Terbengkalai
Tokoh masyarakat Gampong Ruak, Kariaman, dalam sebuah wawancara menyampaikan kekecewaan dan keresahan warga secara mendalam. Ia menegaskan bahwa tanpa penanganan segera, petani Kluet Utara tidak akan bisa turun ke sawah tahun ini.
“Sebenarnya kami sangat menyayangkan sekali. Irigasi Gunung Pudung ini adalah irigasi terbesar di Aceh Selatan, dibangun tahun 1991, tapi sampai hari ini tidak ada perawatan. Debit air yang masuk cuma 5 sentimeter. Otomatis tahun ini kami tidak bisa menanam padi, sawah semua sudah kering,” ungkap Kariaman.
Kondisi kritis ini terlihat jelas di lapangan. Lahan sawah yang sebelumnya telah dibajak dalam tahap persiapan (dimulai sejak 10 April lalu sesuai jadwal) kini mulai mengeras kembali dan retak-retak. Aliran irigasi mengalami pendangkalan parah. Saluran dipenuhi sedimen lumpur dan material sampah, dan struktur intake (pintu air) tampak rusak dan jebol.
“Kalau ini tidak dibersihkan, air tidak bisa mengalir. Mate deuk kamo ino (mati kelaparan kami disini), tidak tahu mau cari makan kemana,” keluh Kariaman, merepresentasikan kebingungan petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil panen.

Desakan Kepada Pemerintah: Butuh Alat Berat dan Renovasi Total
Menghadapi ancaman krisis pangan dan kerugian ekonomi yang besar bagi petani, masyarakat mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. Kariaman secara khusus mengarahkan permohonannya kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan.
“Kami mohon kepada Mualem Gubernur Aceh “bek lale duk inan, kalon kamo keuno” (jangan hanya asik duduk disana, lihat kami kesini), dan kepada Bupati Haji Mirwan, “bek lale jak-jakwo ujakarta, kalon kamo keuno nasip petani kamo di kluet utaranyo” (jangan hanya sibuk bolak-balek Jakarta, lihat kami kesini nasip petani kami di Kluet utara ini) tegas kariaman.
Selain penanganan darurat berupa pengerukan material, masyarakat juga menuntut adanya renovasi total terhadap Irigasi Gunung Pudung. Menurut warga, sejak pertama kali dibangun, infrastruktur vital ini belum pernah mendapatkan perbaikan atau renovasi yang memadai. Jika tidak segera diperbaiki secara menyeluruh, kerusakan akan semakin parah dan lahan persawahan warga akan terus menerus kekurangan pasokan air.
Ketidakmampuan irigasi untuk memenuhi kebutuhan air ini menjadi pukulan telak, terutama setelah sebelumnya telah ada kesepakatan jadwal tahapan turun ke sawah yang diinisiasi oleh pemerintah kecamatan dan dinas pertanian. Tanpa air, rencana swasembada pangan yang didengungkan pemerintah daerah hanya akan menjadi isapan jempol belaka. [red]