NASIONAL | SNN — Tepat pada tanggal 1 Maret hari ini, bangsa Indonesia kembali mengenang sebuah peristiwa monumental yang pernah mengubah jalannya sejarah kemerdekaan. Tujuh puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada 1 Maret 1949, Tentara Nasional Indonesia melancarkan sebuah operasi militer besar-besaran yang dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret. Operasi ini bukan sekadar pertempuran biasa, melainkan sebuah langkah strategis untuk mengirimkan pesan tegas kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia beserta angkatan bersenjatanya masih berdiri tegak dan kuat. Peristiwa bersejarah ini berpusat di Yogyakarta, yang pada saat itu berstatus sebagai ibu kota sementara dan sedang berada di bawah pendudukan pasukan Belanda.
Latar belakang dari serangan ini bermula dari Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada akhir Desember 1948. Pasukan Belanda saat itu berhasil menguasai Yogyakarta, menangkap para pemimpin tinggi negara, dan mengasingkan mereka ke luar Pulau Jawa. Melalui pendudukan tersebut, pihak Belanda menyebarkan propaganda ke dunia luar bahwa Republik Indonesia telah hancur dan tentaranya tidak lagi memiliki kekuatan. Menanggapi situasi yang sangat menyudutkan tersebut, pucuk pimpinan militer Indonesia merancang strategi serangan balasan secara serentak. Tujuan utamanya adalah untuk membantah klaim sepihak dari pihak Belanda sekaligus memperkuat posisi tawar perwakilan Indonesia yang sedang menjalani perundingan di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tepat pada pukul enam pagi seiring dengan berbunyinya sirene di penjuru kota, pasukan Indonesia langsung merangsek masuk dan menyerang pertahanan Belanda di Yogyakarta secara serentak. Penyerangan di sektor barat dipimpin langsung oleh Letnan Kolonel Soeharto yang membawa pasukannya hingga mencapai kawasan batas Malioboro, sementara sektor-sektor lainnya dipimpin oleh para komandan tangguh seperti Mayor Ventje Sumual, Mayor Sardjono, Mayor Kusno, Letnan Amir Murtono, dan Letnan Masduki. Serangan terencana yang melibatkan banyak pihak ini tidak lepas dari instruksi Panglima Divisi III Kolonel Bambang Sugeng serta arahan tertinggi dari Panglima Besar Jenderal Sudirman. Berkat taktik serangan mendadak tersebut, pasukan tentara Indonesia berhasil memukul mundur pertahanan lawan dan menduduki kota Yogyakarta selama enam jam penuh. Sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, seluruh pasukan Indonesia ditarik mundur pada pukul dua belas siang sebelum pasukan bantuan Belanda dari wilayah Magelang berhasil menembus masuk.
Keberhasilan menduduki Yogyakarta selama enam jam tersebut membawa dampak yang sangat masif bagi perjuangan diplomasi Indonesia di mata dunia. Berita mengenai keberhasilan Serangan Umum 1 Maret ini langsung disiarkan ke luar negeri melalui jaringan pemancar radio, yang kemudian menjadi sorotan utama di berbagai media massa internasional. Momentum ini secara langsung mempermalukan pihak Belanda karena terbukti gagal membuktikan klaim mereka terkait kehancuran Republik Indonesia. Pada akhirnya, keberanian dan pengorbanan ratusan pejuang yang gugur dalam peristiwa 1 Maret 1949 ini menjadi salah satu tonggak penentu yang berhasil menyelamatkan eksistensi negara dan membuka jalan menuju pengakuan kedaulatan Indonesia secara utuh di pentas global.[Redaksi SNN]











