
BANDA ACEH | SNN — Masa pendaftaran program Pelatihan Bahasa Akademik Gratis yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Aceh resmi ditutup pada Minggu (7/6/2026). Antusiasme pemuda Aceh untuk mempersiapkan diri menembus beasiswa luar negeri terbukti sangat tinggi, berbanding terbalik dengan kuota eksklusif yang disediakan.
Pihak BPSDM Aceh mencatat ratusan pelamar dari berbagai rentang usia berebut kursi dalam program unggulan daerah ini. Dari total kuota 50 orang terdiri dari 40 kursi untuk kelas Bahasa Inggris dan 10 kursi untuk Bahasa Mandarin jumlah pendaftar khusus kelas Bahasa Inggris melonjak hingga lebih dari 500 orang.
“Animo masyarakat termasuk luar biasa sekali. Dengan kuota 40 untuk bahasa Inggris dan 10 untuk Mandarin, yang mendaftar bahasa Inggris saja sudah di 510 orang, sedangkan Mandarin di range 20 orang. Ini membuktikan minat anak-anak Aceh untuk mengembangkan potensi diri kuliah ke luar negeri sangat tinggi,” ungkap Soraya Rizkina, S.Pi, M.HsE, perwakilan BPSDM Aceh, Senin (8/6/2026).
Seleksi Ketat, Transparan, dan Bebas Titipan
Dengan rasio keketatan yang mencapai lebih dari 1:12, BPSDM Aceh memastikan proses penyaringan akan dilakukan secara ketat, berbasis meritokrasi, dan bebas dari intervensi.
Tahapan seleksi akan dimulai dari penyaringan administrasi untuk menjaring 100 kandidat terbaik berdasarkan kualifikasi sertifikat bahasa awal (seperti TOEFL/IELTS) yang diunggah. Selanjutnya, 100 kandidat tersebut akan diundang dalam sesi wawancara yang melibatkan tim independen, termasuk perwakilan dari Mata Garuda (Ikatan Alumni LPDP).
“Kami berkomitmen untuk melaksanakan seleksi itu secara independen dan benar-benar profesional. Karena kita paham kita adalah pelayan masyarakat, jadi pasti semua penginnya transparan, terbuka, dan profesional. Dari wawancara nanti, kita lihat minat bakatnya, tekad mereka, baru terseleksi 40 orang untuk Inggris dan 10 untuk Mandarin,” tegas Soraya.
Sorotan Anggaran Rp1 Miliar dan Target Beasiswa Eropa
Program ini menjadi sorotan karena komitmen pemerintah daerah dalam mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) yang cukup fantastis, yakni sebesar Rp1 Miliar untuk tahun 2026. Anggaran tersebut diklaim sepenuhnya terserap untuk memfasilitasi putra-putri daerah tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Peserta yang lolos akan menjalani karantina pendidikan selama tiga bulan (66 hari kerja) di asrama BPSDM Aceh. Fasilitas yang diberikan mencakup penginapan (khusus peserta luar daerah), konsumsi harian, modul pelatihan, hingga uang saku di akhir program.
Investasi publik yang besar ini diproyeksikan sejalan dengan tingginya standar output yang dipatok. Kurikulum dirancang agar lulusan pelatihan mampu mencapai skor IELTS minimal 6.0 hingga 6.5. Angka ini merupakan ambang batas krusial agar putra-putri Aceh memiliki daya saing untuk memburu beasiswa prestisius di kawasan Eropa dan Inggris, seperti Chevening, DAAD, maupun Erasmus Mundus, selain beasiswa nasional seperti LPDP.
“Tujuan kita ketika mereka selesai dari pelatihan ini, nilai IELTS mereka bisa sesuai standar beasiswa di mancanegara. Minimal mereka juga sudah tahu beasiswa apa yang cocok untuk di-apply. Saat ini putra-putri Aceh berada di peringkat 10 paling banyak yang lulus beasiswa LPDP. Itu membuktikan orang Aceh punya potensi luar biasa,” pungkasnya.
Program ini diharapkan tidak hanya sekadar menjadi wadah kursus bahasa, melainkan inkubator strategis bagi pemuda daerah termasuk mereka yang berada di pelosok untuk menembus panggung akademik global dan kembali membangun Aceh di masa depan. (Redaksi/sarannews.net)







BANDA ACEH | SNN — Masa pendaftaran program Pelatihan Bahasa Akademik Gratis yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Aceh resmi ditutup pada Minggu (7/6/2026). Antusiasme pemuda Aceh untuk mempersiapkan diri menembus beasiswa luar negeri terbukti sangat tinggi, berbanding terbalik dengan kuota eksklusif yang disediakan.
Pihak BPSDM Aceh mencatat ratusan pelamar dari berbagai rentang usia berebut kursi dalam program unggulan daerah ini. Dari total kuota 50 orang terdiri dari 40 kursi untuk kelas Bahasa Inggris dan 10 kursi untuk Bahasa Mandarin jumlah pendaftar khusus kelas Bahasa Inggris melonjak hingga lebih dari 500 orang.
“Animo masyarakat termasuk luar biasa sekali. Dengan kuota 40 untuk bahasa Inggris dan 10 untuk Mandarin, yang mendaftar bahasa Inggris saja sudah di 510 orang, sedangkan Mandarin di range 20 orang. Ini membuktikan minat anak-anak Aceh untuk mengembangkan potensi diri kuliah ke luar negeri sangat tinggi,” ungkap Soraya Rizkina, S.Pi, M.HsE, perwakilan BPSDM Aceh, Senin (8/6/2026).
Seleksi Ketat, Transparan, dan Bebas Titipan
Dengan rasio keketatan yang mencapai lebih dari 1:12, BPSDM Aceh memastikan proses penyaringan akan dilakukan secara ketat, berbasis meritokrasi, dan bebas dari intervensi.
Tahapan seleksi akan dimulai dari penyaringan administrasi untuk menjaring 100 kandidat terbaik berdasarkan kualifikasi sertifikat bahasa awal (seperti TOEFL/IELTS) yang diunggah. Selanjutnya, 100 kandidat tersebut akan diundang dalam sesi wawancara yang melibatkan tim independen, termasuk perwakilan dari Mata Garuda (Ikatan Alumni LPDP).
“Kami berkomitmen untuk melaksanakan seleksi itu secara independen dan benar-benar profesional. Karena kita paham kita adalah pelayan masyarakat, jadi pasti semua penginnya transparan, terbuka, dan profesional. Dari wawancara nanti, kita lihat minat bakatnya, tekad mereka, baru terseleksi 40 orang untuk Inggris dan 10 untuk Mandarin,” tegas Soraya.
Sorotan Anggaran Rp1 Miliar dan Target Beasiswa Eropa
Program ini menjadi sorotan karena komitmen pemerintah daerah dalam mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) yang cukup fantastis, yakni sebesar Rp1 Miliar untuk tahun 2026. Anggaran tersebut diklaim sepenuhnya terserap untuk memfasilitasi putra-putri daerah tanpa dipungut biaya sepeser pun.
Peserta yang lolos akan menjalani karantina pendidikan selama tiga bulan (66 hari kerja) di asrama BPSDM Aceh. Fasilitas yang diberikan mencakup penginapan (khusus peserta luar daerah), konsumsi harian, modul pelatihan, hingga uang saku di akhir program.
Investasi publik yang besar ini diproyeksikan sejalan dengan tingginya standar output yang dipatok. Kurikulum dirancang agar lulusan pelatihan mampu mencapai skor IELTS minimal 6.0 hingga 6.5. Angka ini merupakan ambang batas krusial agar putra-putri Aceh memiliki daya saing untuk memburu beasiswa prestisius di kawasan Eropa dan Inggris, seperti Chevening, DAAD, maupun Erasmus Mundus, selain beasiswa nasional seperti LPDP.
“Tujuan kita ketika mereka selesai dari pelatihan ini, nilai IELTS mereka bisa sesuai standar beasiswa di mancanegara. Minimal mereka juga sudah tahu beasiswa apa yang cocok untuk di-apply. Saat ini putra-putri Aceh berada di peringkat 10 paling banyak yang lulus beasiswa LPDP. Itu membuktikan orang Aceh punya potensi luar biasa,” pungkasnya.
Program ini diharapkan tidak hanya sekadar menjadi wadah kursus bahasa, melainkan inkubator strategis bagi pemuda daerah termasuk mereka yang berada di pelosok untuk menembus panggung akademik global dan kembali membangun Aceh di masa depan. (Redaksi/sarannews.net)