Harga Semen Meroket Rp120 Ribu, Wagub Aceh Eskalasi Krisis ke Mendagri dan Bos Danantara

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | sarannews.net – Defisit pasokan semen di Aceh tidak bisa lagi diselesaikan hanya di atas meja daerah. Ancaman terhentinya proyek rehabilitasi dan rekonstruksi (Rehab-Rekon) pascabencana memaksa Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), untuk mengeksekusi lobi tingkat tinggi ke Jakarta.
Langkah cepat ini diambil menyusul melambungnya harga semen di tingkat eceran secara tak terkendali. “Kondisi defisit ini telah memicu lonjakan harga semen di pasaran dari kisaran Rp70.000 per sak meroket tajam hingga Rp120.000 per sak. Ini mulai mencekik masyarakat dan mengancam pelaksanaan berbagai proyek pembangunan fisik,” ungkap Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, Selasa (4/8/2026).
Menindaklanjuti arahan Gubernur Muzakir Manaf (Mualem), Wagub Dek Fadh secara langsung melaporkan krisis pasokan material ini kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana.
Dalam laporannya, Wagub menegaskan bahwa kelangkaan semen akan berdampak fatal terhadap jadwal rehab-rekon pascabencana hidrometeorologi di Aceh. “Pak Mendagri langsung merespons cepat laporan Pak Wagub. Beliau menegaskan akan segera mencari solusi konkret dari pusat untuk menuntaskan kelangkaan semen di Aceh,” urai Nurlis.
Gedor Pintu BUMN dan Danantara
Tidak hanya ke kementerian, Wagub Dek Fadh juga memperlebar eskalasi dengan menyurati petinggi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Laporan krisis semen ini ditembuskan langsung kepada CEO Danantara, Rosan Roeslani, serta Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria.
Manuver lintas instansi ini berbuah hasil. Wakil Kepala Badan Pembina (BP) BUMN, Tedi Bharata, merespons positif laporan tersebut. “Laporan Pak Wagub langsung menjadi atensi prioritas pihak BUMN, dan mereka segera mencarikan solusi distribusi pasokan,” tambah Nurlis.
Fakta Defisit 500 Ton per Hari
Berdasarkan evaluasi neraca kebutuhan material, krisis ini dipicu oleh lonjakan permintaan yang berbenturan dengan stagnasi pasokan. Proyeksi kebutuhan semen di Aceh saat ini menyentuh angka 4.200 ton per hari, sementara kapasitas pasokan yang mampu didistribusikan produsen baru berkisar 3.700 ton per hari.
Artinya, Aceh mengalami defisit struktural sebesar 500 ton per hari, atau setara dengan hilangnya 12.500 sak semen dari pasaran setiap harinya.
Di tingkat daerah, Pemerintah Aceh melalui Asisten II Setda Aceh, Teuku Robby Irza, sebelumnya telah mendesak PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Produsen semen raksasa tersebut menyanggupi untuk menambah jam operasional Terminal Pengisian Krueng Geukuh II menjadi 24 jam penuh, serta mendatangkan tiga kapal pasokan semen curah ekstra dari luar Aceh secara bertahap sepanjang bulan Agustus. [red]









