Sekolah Lapang Sesi 3 Bangkit dari Lumpur Pante Lhong Bahas Perlindungan Tanaman dan Budidaya Mina Padi

Bireuen | SNN – Program Bangkit dari Lumpur: Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh 2025–2026 kembali melanjutkan rangkaian kegiatan Sekolah Lapang Sabtu tanggal 12 September 2026 di Gampong Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Memasuki sesi ketiga, kegiatan difokuskan pada tema “Perlindungan Tanaman serta Panen”, sekaligus pemaparan mengenai budidaya padi pada ekosistem mina padi sebagai salah satu alternatif pengembangan ketahanan pangan pascabencana.
Program ini merupakan hibah bantuan dari Rumah Zakat, dengan dukungan IA ITB Aceh dan Wakaf Salman, yang diarahkan untuk membantu masyarakat memulihkan lahan terdampak banjir, meningkatkan kapasitas local champion, serta mengembangkan model pertanian yang dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan setempat.
Sekolah Lapang menjadi ruang belajar bersama bagi para local champion untuk tidak hanya memahami teori budidaya, tetapi juga melihat secara langsung perkembangan tanaman dari proses persiapan hingga panen. Pada sesi ketiga ini, peserta mendapatkan pembelajaran mengenai pentingnya perlindungan tanaman, pengamatan pertumbuhan, identifikasi potensi gangguan tanaman, serta teknik panen dan penanganan hasil.
Salah satu bagian penting dalam kegiatan adalah pemaparan mengenai budidaya padi pada ekosistem mina padi. Konsep ini mengintegrasikan budidaya tanaman padi dengan perikanan dalam satu sistem produksi sehingga sumber daya lahan dan air dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Secara umum, sistem mina padi juga memungkinkan masyarakat memperoleh dua sumber pangan sekaligus, yakni beras dan ikan.

Menguji Mina Padi pada Kondisi Pascabanjir
Pembelajaran mengenai mina padi pada Sekolah Lapang ini tidak hanya dilakukan melalui pemaparan teori, tetapi juga melalui praktik dan pengamatan langsung pada demplot. Salah satu yang diuji adalah ekosistem mina padi pada kolam berukuran 2 × 3 meter, dengan menggunakan 64 polibag sebagai media tanam padi.
Yang menjadi bagian menarik dari uji coba ini adalah media tanam yang digunakan. Padi ditanam dengan memanfaatkan tanah berpasir yang merupakan sisa material pascabanjir di lokasi. Dengan demikian, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari proses pengujian pemanfaatan kembali material dan kondisi lahan yang tersedia setelah banjir.
Budidaya tersebut juga dilakukan tanpa pemupukan secara intensif, sehingga hasil yang diperoleh menjadi data awal untuk melihat bagaimana tanaman padi dapat tumbuh dan menghasilkan pada kondisi media tanam pascabanjir dengan input budidaya yang relatif minimal.
Pendekatan ini menjadi bagian dari semangat Bangkit dari Lumpur, yaitu tidak hanya memulihkan lahan secara fisik, tetapi juga menguji berbagai kemungkinan pemanfaatan sumber daya lokal melalui proses pembelajaran dan praktik langsung bersama masyarakat.
Hasil Uji Budidaya Padi pada Kolam 2 × 3 Meter

Dari sistem budidaya yang dilakukan pada 264 rumpun, diperoleh hasil panen sebesar 6,5 kg Gabah Kering Panen (GKP), yang apabila diproyeksikan ke dalam satuan hektar setara dengan 6,1 ton/ha. Setelah dikeringkan dan digiling, padi tersebut menghasilkan 3,3 kg beras bersih.
Hasil ini menjadi salah satu catatan penting dalam proses pembelajaran Sekolah Lapang. Pasalnya, produksi tersebut diperoleh melalui uji budidaya sistem pertanian organik, menggunakan media tanah berpasir sisa banjir dan tanpa pemupukan intensif.
Meskipun telah diproyeksikan ke dalam skala hektar, data ini tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran dan evaluasi untuk pengembangan siklus budidaya berikutnya, terutama dalam melihat pengaruh kualitas media tanam, ketersediaan unsur hara, pengelolaan air, varietas tanaman, serta pola pemeliharaan terhadap hasil produksi.

Dengan pendekatan tersebut, angka hasil panen ini tidak hanya dilihat sebagai capaian kuantitatif, tetapi juga sebagai bagian dari proses belajar untuk mengetahui sejauh mana kondisi media tanam pascabanjir dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung produksi pangan.
Belajar dari Tanaman hingga Panen
Dalam materi perlindungan tanaman, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman. Pengamatan rutin terhadap kondisi tanaman, pengelolaan air, kebersihan lingkungan budidaya, serta tindakan pencegahan terhadap gangguan tanaman menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas.
Sementara pada materi panen, peserta diperkenalkan pada pentingnya menentukan waktu panen yang tepat dan melakukan penanganan hasil secara hati-hati agar kehilangan hasil dapat ditekan. Proses tersebut menjadi bagian dari pembelajaran agar para local champion nantinya mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh pada lahan atau unit budidaya masing-masing.
Dalam pemaparan mengenai mina padi, peserta juga diajak melihat pertanian bukan hanya sebagai kegiatan budidaya satu komoditas, tetapi sebagai ekosistem pertanian terpadu. Integrasi padi dengan perikanan dapat menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan air sekaligus menghasilkan lebih dari satu sumber pangan.
Dari Demplot Menjadi Pengetahuan yang Dibagikan
Melalui Sekolah Lapang, para local champion diharapkan tidak berhenti sebagai peserta, tetapi menjadi penggerak yang mampu membagikan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat lainnya. Model pembelajaran berbasis praktik seperti ini menjadi penting dalam konteks pemulihan pascabencana karena masyarakat dapat belajar dari kondisi nyata yang mereka hadapi sendiri.

Sebelumnya, Sekolah Lapang Sesi 1 telah mengangkat tema “Rehabilitasi Lahan dan Pra Tanam”, dengan fokus pada pemahaman kondisi lahan pascabanjir dan persiapan lahan untuk kembali dimanfaatkan sebagai lahan pangan.
Kini, melalui Sesi 3, proses pembelajaran bergerak lebih jauh dari tahap persiapan menuju pemeliharaan, perlindungan tanaman, hingga panen. Uji budidaya padi pada media tanah berpasir sisa banjir, pengamatan hasil panen, serta pengenalan konsep mina padi menjadi bagian dari proses membangun pengalaman praktis masyarakat dalam mengembangkan sistem pangan yang lebih adaptif.
Sharing Inovasi bersama Tim Datahara
Pada sesi sekolah lapang sesi 3, kami turut mengundang Tim Datahara yang merupakan startup teknologi pertanian yang berasal dari Banda Aceh. Kehadiran tim DataHara dalam kegiatan ini bertujuan untuk berbagi wawasan dan mendemonstrasikan manfaat teknologi pertanian presisi secara langsung kepada para peserta dan local champion.

Melalui pengenalan perangkat DataHara Spectral berbasis IoT dan sensor spektral, para petani diajak untuk melihat bagaimana pemindaian kadar nutrisi makro (NPK) daun serta metrik kesehatan tanaman dapat dilakukan secara cepat dan akurat. Sesi berbagi ini tidak hanya memperkaya materi pembelajaran mengenai budidaya dan perlindungan tanaman, tetapi juga membuka ruang inovasi strategis bagi tim Posyantek Girmapan Gampong Pantee Lhong untuk mengadopsi teknologi digital dalam mendukung efisiensi pemupukan, menekan biaya modal, serta mewujudkan pertanian yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Program “Bangkit dari Lumpur: Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh 2025–2026” diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi bagi masyarakat, pendamping, dan mitra untuk mengembangkan berbagai inovasi pertanian yang sesuai dengan kondisi lokal. Dari lahan yang pernah terdampak dan tertutup material banjir, masyarakat Pantee Lhong terus belajar membangun kembali produktivitas melalui pengetahuan, teknologi tepat guna, dan semangat gotong royong.
Dengan demikian, setiap hasil panen tidak hanya dihitung dalam kilogram, tetapi juga menjadi data dan pengalaman yang berharga dalam proses pemulihan lahan serta membangun ketahanan pangan masyarakat pascabencana. (red)
Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.












