Dialog Kebudayaan Bersama Wamen Komdigi RI Digelar di Lampuuk, Libatkan 104 Peserta

Banda Aceh | SNN — Komunitas Tikar Pandan akan menggelar Dialog Kebudayaan bersama Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) RI di Sekolah Adat Srimusim–Komunitas Tikar Pandan, Lampuuk, Jumat, 4 September 2026 malam.
Dalam surat undangan yang diterbitkan Komunitas Tikar Pandan, kegiatan tersebut dicantumkan dengan perihal “Undangan Dialog Kebudayaan bersama Wamen Komdigi RI.” Dialog dijadwalkan berlangsung pukul 20.00 hingga 22.30 WIB.
Kegiatan mengangkat tema “Merawat Kebudayaan, Membuka Ruang Suara, dan Membagi Imajinasi” dan dirancang sebagai ruang perjumpaan serta pertukaran gagasan mengenai kebudayaan, termasuk tantangan dan peluang di tengah perkembangan teknologi digital.
Berdasarkan Term of Reference (TOR) kegiatan, Aceh memiliki kekayaan adat, budaya, seni, tradisi, bahasa, serta pengetahuan lokal yang menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan masyarakat. Kebudayaan tersebut tidak hanya hadir melalui karya seni dan tradisi, tetapi juga dalam tata kehidupan, kelembagaan adat, hubungan masyarakat dengan lingkungan, serta pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Perkembangan teknologi digital dinilai telah mengubah cara masyarakat memperoleh, menyimpan, memproduksi, mendokumentasikan, dan menyebarluaskan pengetahuan serta kebudayaan.
Perubahan tersebut membuka peluang bagi kebudayaan untuk hadir lebih luas dan menjangkau generasi baru. Namun, di sisi lain juga menghadirkan tantangan terhadap keberlanjutan tradisi, keotentikan, regenerasi, dokumentasi, serta kemampuan komunitas dalam memanfaatkan ruang digital.
Atas dasar itu, Dialog Kebudayaan digagas sebagai ruang terbuka yang mempertemukan akademisi, budayawan, seniman, komunitas, masyarakat adat, generasi muda, pelaku teknologi, masyarakat sipil, media, sekolah, dan berbagai unsur masyarakat lainnya.
Libatkan Sekitar 104 Peserta
Dialog Kebudayaan tersebut direncanakan diikuti sekitar 104 peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari akademisi, budayawan dan seniman, komunitas, masyarakat adat, mahasiswa, generasi muda, pelaku teknologi, masyarakat sipil, sekolah, media hingga masyarakat umum.
Daftar undangan dalam dokumen kegiatan menunjukkan peserta berasal dari beragam institusi dan komunitas. Di antaranya perguruan tinggi, lembaga adat, lembaga kebudayaan dan bahasa, komunitas budaya, organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, pelajar, komunitas teknologi dan digital hingga media.
Pada kelompok teknologi dan digital, daftar tersebut antara lain mencantumkan Aceh Cloud Community dan Startup Banda Aceh Community.
Berbeda dengan kegiatan yang menggunakan format seminar, Dialog Kebudayaan dirancang sebagai forum terbuka dan partisipatif. Penyelenggara menyebut kegiatan tersebut tidak menggunakan format seminar ataupun pertunjukan, tetapi berupa dialog yang tumbuh dari suara dan pengalaman peserta.
Sebagai bagian dari mekanisme kegiatan, peserta diminta mengisi Catatan/Ekspresi Kebudayaan melalui Google Form. Isinya dapat berupa pengalaman, ingatan, persoalan, gagasan, harapan, pesan, pengetahuan lokal, praktik kebudayaan maupun pandangan mengenai masa depan kebudayaan.
Catatan yang terkumpul kemudian akan dikurasi dan diformulasikan secara editorial agar ringkas dan komunikatif dengan tetap menjaga substansi dan keotentikan gagasan peserta.
Hasilnya akan divisualisasikan melalui infokus sebagai Ruang Catatan Kebudayaan dan digunakan sebagai pemantik percakapan dalam forum.
Dengan mekanisme tersebut, dialog tidak bergantung pada materi ataupun daftar pertanyaan yang telah ditentukan penyelenggara, melainkan berkembang dari suara, pengalaman dan gagasan peserta. Teknologi digital juga akan dimanfaatkan sebagai sarana menghimpun, mendokumentasikan dan memperluas pertukaran kebudayaan.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi berbagai isu, tantangan dan peluang pengembangan kebudayaan, membuka komunikasi serta peluang kolaborasi lintas komunitas dan generasi, hingga melahirkan gagasan awal pemanfaatan ruang dan teknologi digital untuk memperkuat dokumentasi, pewarisan dan pengembangan kebudayaan.
Dialog Kebudayaan ini diselenggarakan oleh Komunitas Tikar Pandan, RTIK, dan Relawan Aceh Tangguh.[red]
Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.












