
Aceh Selatan | SNN – Sejumlah tokoh penting dari unsur pemerintah, ulama, akademisi, pemuda, dan masyarakat dijadwalkan menghadiri kegiatan Silaturahmi Ulama, Umara dan Tokoh Masyarakat yang akan digelar di Pesantren Al Wahidul Qahhar, Desa Paoh, Kecamatan Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (19/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Kembali Semangat Pembangunan Fisik dan Mental untuk Aceh Masa Depan” itu diharapkan menjadi ruang diskusi dan refleksi bersama untuk menyelaraskan arah pembangunan Aceh yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga penguatan karakter dan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan Term of Reference (ToR) kegiatan, panitia menilai pembangunan Aceh selama ini telah menunjukkan kemajuan di berbagai sektor fisik, namun tantangan pembangunan mental, karakter, dan daya saing masyarakat masih menjadi pekerjaan besar yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Panitia menyebutkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan manusia agar mampu melahirkan kesejahteraan yang merata serta masyarakat yang berintegritas dan berdaya saing.

“Kegiatan ini diinisiasi sebagai ruang urun rembuk seluruh elemen masyarakat Aceh untuk menyatukan kembali visi pembangunan yang kokoh secara fisik dan tangguh secara mental,” demikian disebutkan dalam dokumen kegiatan.
Dalam forum tersebut, sejumlah agenda strategis akan dibahas, mulai dari visi pembangunan Aceh berkelanjutan, refleksi dan reorientasi pembangunan daerah, pembangunan infrastruktur yang merata dan berkeadilan, hingga internalisasi nilai Syariat Islam dan adat Aceh sebagai fondasi moral pembangunan.
Panitia juga mengundang berbagai unsur penting, di antaranya perwakilan pemerintah Aceh, anggota DPR RI, DPRA, kepala daerah kabupaten/kota, akademisi, tokoh ulama, perwakilan pemuda, dan masyarakat umum.
Selain diskusi panel dan Focus Group Discussion (FGD) pada siang hari, kegiatan akan dilanjutkan pada malam harinya dengan agenda doa bersama untuk Aceh yang lebih baik serta penyampaian rekomendasi hasil diskusi.
FORMAKI Soroti Pentingnya Evaluasi Arah Pembangunan
Menanggapi kegiatan tersebut, Forum Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (FORMAKI) yang turut menerima undangan menyatakan forum semacam ini penting untuk mendorong evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan Aceh.
Menurut FORMAKI, pembangunan daerah tidak cukup diukur dari banyaknya proyek fisik yang dibangun, tetapi harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, berkurangnya kemiskinan, terbukanya lapangan kerja, serta meningkatnya kualitas pelayanan publik.
FORMAKI juga menilai pembangunan mental dan integritas aparatur harus menjadi perhatian utama di tengah besarnya anggaran pembangunan yang selama ini dikelola pemerintah.
“Kita berharap forum ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan rekomendasi yang konkret dan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat,” ujar Ketua FORMAKI.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB hingga malam hari di kompleks Pesantren Al Wahidul Qahhar dan diharapkan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pembangunan Aceh ke depan.[red]
(Redaksi Sarannews.net)







Aceh Selatan | SNN – Sejumlah tokoh penting dari unsur pemerintah, ulama, akademisi, pemuda, dan masyarakat dijadwalkan menghadiri kegiatan Silaturahmi Ulama, Umara dan Tokoh Masyarakat yang akan digelar di Pesantren Al Wahidul Qahhar, Desa Paoh, Kecamatan Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan, Jumat (19/6/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Merajut Kembali Semangat Pembangunan Fisik dan Mental untuk Aceh Masa Depan” itu diharapkan menjadi ruang diskusi dan refleksi bersama untuk menyelaraskan arah pembangunan Aceh yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga penguatan karakter dan kualitas sumber daya manusia.

Berdasarkan Term of Reference (ToR) kegiatan, panitia menilai pembangunan Aceh selama ini telah menunjukkan kemajuan di berbagai sektor fisik, namun tantangan pembangunan mental, karakter, dan daya saing masyarakat masih menjadi pekerjaan besar yang perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan.
Panitia menyebutkan bahwa pembangunan berkelanjutan membutuhkan keseimbangan antara pembangunan fisik dan pembangunan manusia agar mampu melahirkan kesejahteraan yang merata serta masyarakat yang berintegritas dan berdaya saing.

“Kegiatan ini diinisiasi sebagai ruang urun rembuk seluruh elemen masyarakat Aceh untuk menyatukan kembali visi pembangunan yang kokoh secara fisik dan tangguh secara mental,” demikian disebutkan dalam dokumen kegiatan.
Dalam forum tersebut, sejumlah agenda strategis akan dibahas, mulai dari visi pembangunan Aceh berkelanjutan, refleksi dan reorientasi pembangunan daerah, pembangunan infrastruktur yang merata dan berkeadilan, hingga internalisasi nilai Syariat Islam dan adat Aceh sebagai fondasi moral pembangunan.
Panitia juga mengundang berbagai unsur penting, di antaranya perwakilan pemerintah Aceh, anggota DPR RI, DPRA, kepala daerah kabupaten/kota, akademisi, tokoh ulama, perwakilan pemuda, dan masyarakat umum.
Selain diskusi panel dan Focus Group Discussion (FGD) pada siang hari, kegiatan akan dilanjutkan pada malam harinya dengan agenda doa bersama untuk Aceh yang lebih baik serta penyampaian rekomendasi hasil diskusi.
FORMAKI Soroti Pentingnya Evaluasi Arah Pembangunan
Menanggapi kegiatan tersebut, Forum Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (FORMAKI) yang turut menerima undangan menyatakan forum semacam ini penting untuk mendorong evaluasi menyeluruh terhadap arah pembangunan Aceh.
Menurut FORMAKI, pembangunan daerah tidak cukup diukur dari banyaknya proyek fisik yang dibangun, tetapi harus tercermin dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat, berkurangnya kemiskinan, terbukanya lapangan kerja, serta meningkatnya kualitas pelayanan publik.
FORMAKI juga menilai pembangunan mental dan integritas aparatur harus menjadi perhatian utama di tengah besarnya anggaran pembangunan yang selama ini dikelola pemerintah.
“Kita berharap forum ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan rekomendasi yang konkret dan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat,” ujar Ketua FORMAKI.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai pukul 14.00 WIB hingga malam hari di kompleks Pesantren Al Wahidul Qahhar dan diharapkan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pembangunan Aceh ke depan.[red]
(Redaksi Sarannews.net)