
BANDA ACEH | SNN – Pimpinan Wilayah (PW) Matahari Pagi Indonesia (MPI) Provinsi Aceh periode 2026-2029 resmi memiliki nakhoda baru. Dr. Irpannusir, S.Ag., S.E., M.Ikom., dilantik sebagai Ketua MPI Aceh dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Aula Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Selasa malam (30/6/2026).
Pelantikan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum Majelis Pertimbangan Pengurus Besar MPI, Dahnil Anzar Simanjuntak. Hadir dalam kegiatan ini unsur Forkopimda Aceh, anggota DPRA, perwakilan TNI-Polri, akademisi, tokoh agama, hingga berbagai organisasi kepemudaan.
MPI: Gerakan Sosial, Bukan Politik
Dalam sambutannya, Dahnil Anzar menekankan bahwa MPI merupakan organisasi kemasyarakatan yang bersifat inklusif. Ia menegaskan bahwa MPI bukanlah organisasi politik, melainkan wadah untuk memperkuat semangat gotong royong, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
“MPI memposisikan diri sebagai gerakan kebudayaan. Nama Matahari Pagi Indonesia melambangkan semangat menghadirkan manfaat bagi kehidupan, sejalan dengan prinsip fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujar Dahnil.
Ia menyoroti peran strategis MPI Aceh dalam mendukung masa pemulihan pascabencana dahsyat akhir November 2025 lalu. Menurut Dahnil, MPI harus aktif membantu pemerintah dan masyarakat Aceh untuk bangkit melalui gerakan sosial yang konkret, seperti penyediaan sarana bagi penyandang disabilitas, gerakan berbagi makanan gratis, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.
Fokus pada 4 Pilar Strategis
Menjawab amanah tersebut, Ketua MPI Aceh, Dr. Irpannusir, menegaskan bahwa kepengurusannya akan segera mengimplementasikan program kerja berbasis pada empat pilar utama:
“Kami ingin menghadirkan program yang benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami akan membangun kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, ormas keagamaan, dan komunitas di Aceh,” tegas Irpannusir.
Terkait isu disabilitas, Irpannusir menegaskan bahwa ini akan menjadi prioritas utama organisasi. Pihaknya berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak saudara penyandang disabilitas, termasuk penyaluran alat bantu seperti kursi roda dan penggalangan bantuan bagi warga yang masih berada di pengungsian pascabencana.
“Karena MPI adalah wadah bagi seluruh komponen masyarakat lintas agama, suku, dan profesi, saya yakin kolaborasi ini akan memudahkan kita dalam memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat Aceh,” tutup Irpannusir.[red]








BANDA ACEH | SNN – Pimpinan Wilayah (PW) Matahari Pagi Indonesia (MPI) Provinsi Aceh periode 2026-2029 resmi memiliki nakhoda baru. Dr. Irpannusir, S.Ag., S.E., M.Ikom., dilantik sebagai Ketua MPI Aceh dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Aula Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh, pada Selasa malam (30/6/2026).
Pelantikan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum Majelis Pertimbangan Pengurus Besar MPI, Dahnil Anzar Simanjuntak. Hadir dalam kegiatan ini unsur Forkopimda Aceh, anggota DPRA, perwakilan TNI-Polri, akademisi, tokoh agama, hingga berbagai organisasi kepemudaan.
MPI: Gerakan Sosial, Bukan Politik
Dalam sambutannya, Dahnil Anzar menekankan bahwa MPI merupakan organisasi kemasyarakatan yang bersifat inklusif. Ia menegaskan bahwa MPI bukanlah organisasi politik, melainkan wadah untuk memperkuat semangat gotong royong, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.
“MPI memposisikan diri sebagai gerakan kebudayaan. Nama Matahari Pagi Indonesia melambangkan semangat menghadirkan manfaat bagi kehidupan, sejalan dengan prinsip fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan,” ujar Dahnil.
Ia menyoroti peran strategis MPI Aceh dalam mendukung masa pemulihan pascabencana dahsyat akhir November 2025 lalu. Menurut Dahnil, MPI harus aktif membantu pemerintah dan masyarakat Aceh untuk bangkit melalui gerakan sosial yang konkret, seperti penyediaan sarana bagi penyandang disabilitas, gerakan berbagi makanan gratis, serta aksi bersih-bersih rumah ibadah.
Fokus pada 4 Pilar Strategis
Menjawab amanah tersebut, Ketua MPI Aceh, Dr. Irpannusir, menegaskan bahwa kepengurusannya akan segera mengimplementasikan program kerja berbasis pada empat pilar utama:
“Kami ingin menghadirkan program yang benar-benar dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami akan membangun kolaborasi strategis dengan pemerintah daerah, lembaga pendidikan, ormas keagamaan, dan komunitas di Aceh,” tegas Irpannusir.
Terkait isu disabilitas, Irpannusir menegaskan bahwa ini akan menjadi prioritas utama organisasi. Pihaknya berkomitmen untuk memperjuangkan hak-hak saudara penyandang disabilitas, termasuk penyaluran alat bantu seperti kursi roda dan penggalangan bantuan bagi warga yang masih berada di pengungsian pascabencana.
“Karena MPI adalah wadah bagi seluruh komponen masyarakat lintas agama, suku, dan profesi, saya yakin kolaborasi ini akan memudahkan kita dalam memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat Aceh,” tutup Irpannusir.[red]