Pelantikan Imum Chiek Indrapuri Diwarnai Polemik, DSI Aceh Besar: Masjid Milik Umat, Harus Tetap Kondusif

  • Bagikan

Aceh Besar | SNN – Pelantikan Imum Chiek Masjid Besar Indrapuri tetap berlangsung di tengah polemik penolakan dari sejumlah pihak, termasuk yang beredar di media sosial. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kabupaten Aceh Besar, Rusdi, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa pihaknya hanya berperan sebagai Mediator, bukan pengambil keputusan utama dalam penunjukan.

Rusdi menyampaikan, kehadirannya dalam prosesi pelantikan menyesuaikan dengan agenda kedinasan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Ia tidak sempat mengikuti rangkaian kegiatan, karena ada kegiatan lain di kantor beliau hanya mengikuti shalat berjamaah saja.

Terkait polemik yang mencuat, ia menekankan bahwa masjid merupakan milik umat secara keseluruhan dan harus menjadi ruang terbuka bagi semua kalangan.

“Masjid itu milik umat. Di Indrapuri ini masyarakatnya sudah heterogen. Maka, mari kita beri ruang kepada semua pihak. Siapa pun berhak datang dan beribadah tanpa ada larangan,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondusivitas dalam kehidupan beragama, terutama di tengah dinamika sosial yang semakin beragam.

“Kita berharap pelaksanaan ibadah di masjid tetap kondusif, tidak ada konflik kepentingan, dan semua pihak bisa berkolaborasi,” tambahnya.

Menyangkut proses penunjukan Imum Chiek Mesjid Abu Indrapuri, Rusdi menegaskan bahwa mekanisme tersebut tidak berada di bawah kewenangan DSI. Menurutnya, proses telah melalui tahapan administratif dan keputusan pimpinan daerah.pelantikan-imum-chiek-indrapuri-tetap-berlangsung

“Penentuan itu bukan di DSI. Kami hanya memonitor dari sisi pelaksanaan syariat, seperti indeks syariah, manajemen masjid, hingga pembinaan akhlak dan akidah. Kalau sudah ada legalitas dari pimpinan, maka pemerintah daerah wajib mengamankan,” ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa pihaknya bersama unsur terkait, termasuk Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), telah diminta untuk melakukan mediasi terhadap pihak-pihak yang berselisih.

“Posisi kami sebagai penengah, bukan intervensi. Kami diminta memediasi agar tidak terjadi konflik berkepanjangan,” katanya.

Terkait penolakan yang beredar di media, Rusdi mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu valid.

“Kadang informasi di media berbeda-beda. Sebaiknya dikonfirmasi langsung ke sumber yang berwenang,” tutupnya.

Di akhir pernyataannya, Rusdi berharap polemik yang terjadi tidak mengganggu fungsi utama masjid sebagai pusat ibadah dan pemersatu umat.

“Harapan kita sederhana, masjid tetap menjadi tempat yang damai, terbuka, dan mempersatukan,” pungkasnya. (Sr)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *