Jejak Sunyi dari Tanah Kluet: Panglimo Rajo Lelo, Pahlawan yang Terlupa dalam Arus Sejarah
Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
Aceh Selatan, di sudut selatan Tanah Rencong, di antara aliran Sungai Kluet yang tenang dan perbukitan yang menyimpan sunyi, sejarah pernah bergetar oleh dentuman perlawanan. Di sanalah nama Panglimo Rajo Lelo terpatri sebagai simbol keberanian rakyat yang menolak tunduk pada kolonialisme.
Namun, seperti banyak kisah dari daerah yang jauh dari pusat kekuasaan, namanya perlahan meredup, tenggelam dalam arus sejarah yang tak sepenuhnya berpihak pada ingatan kolektif bangsa.
Dari Anak Kampung Menjadi Panglima Perang
Panglimo Rajo Lelo IV, yang lahir dengan nama Ibnu Wantaser pada tahun 1864 di Pung Besei, Kampung Sapik, Kecamatan Kluet Timur, tumbuh dalam lingkungan religius dan penuh disiplin. Ia ditempa dengan nilai keberanian, kejujuran, dan tanggung jawab sejak usia dini.
Pada tahun 1913, ia diangkat oleh Raja Kluet, Kejeurun Mukmin, sebagai panglima menggantikan saudaranya, Abdul Malik. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai Panglimo Rajo Lelo IV pemimpin yang kelak berdiri di garis depan perlawanan rakyat Kluet.
Ketika Sungai Kluet Menjadi Saksi Perlawanan
Ketegangan memuncak ketika pasukan kolonial Belanda menyeberangi Sungai Kluet dan bermalam di wilayah Durian Kawan. Target mereka jelas: memburu tokoh perlawanan, Teuku Cut Ali.
Kabar itu menyebar cepat. Panglimo Rajo Lelo tidak tinggal diam. Bersama pasukannya, ia menggelar musyawarah kilat, menyusun strategi, dan menyiapkan perlawanan.
Perang Kelulum: Ketika Keberanian Mengalahkan Ketakutan
Rabu, 3 April 1926, bertepatan dengan 20 Ramadan 1346 Hijriah, pecahlah pertempuran di Kelulum, Kampung Sapik.
Sebanyak 24 pejuang Kluet menghadapi 23 pasukan Belanda yang dipersenjatai modern. Sementara rakyat hanya berbekal pedang dan kelewang.
Namun mereka memiliki sesuatu yang tak dimiliki penjajah: keyakinan dan harga diri.
Panglimo Rajo Lelo berdiri di garis depan, memimpin langsung perlawanan. Setiap langkahnya adalah perlawanan terhadap penindasan, setiap ayunan senjata adalah bentuk cinta terhadap tanah air.
Pengorbanan yang Tak Tercatat Sempurna
Pertempuran itu berakhir dengan gugurnya Panglimo Rajo Lelo IV bersama pasukannya. Mereka dimakamkan di Padang Kelulum, Kampung Sapik tanah yang menjadi saksi keberanian sekaligus pengorbanan.
Namun ironisnya, nama besar itu tidak sepenuhnya tercatat dalam arus utama sejarah nasional.
Panggilan untuk Generasi Muda: Jangan Biarkan Sejarah Hilang
Di tengah realitas hari ini, ketika generasi muda lebih dekat dengan dunia digital dibandingkan sejarah bangsanya sendiri, muncul kegelisahan yang tidak bisa diabaikan.
Banyak yang mulai asing dengan kisah para pahlawan. Bahkan, tidak sedikit yang merasa enggan membaca dan mempelajarinya.
Dalam konteks ini, Syahrul Amin, salah satu kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Aceh, menegaskan pentingnya merawat ingatan sejarah sebagai bagian dari tanggung jawab intelektual.
“Sebagai intelektual muda, kita memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan merawat kisah perjuangan seperti Panglimo Rajo Lelo. Jangan sampai sejarah ini hilang ditelan zaman. Hari ini kita melihat kecenderungan generasi muda yang mulai tidak tahu, bahkan enggan membaca dan mempelajari perjuangan para pahlawan terdahulu. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar Syahrul.
Menurutnya, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan fondasi identitas bangsa. Ketika generasi muda kehilangan hubungan dengan sejarahnya, maka yang hilang bukan hanya pengetahuan, tetapi juga arah dan jati diri.
Merawat Ingatan di Tengah Arus Zaman
Di era yang serba cepat, kisah-kisah seperti Panglimo Rajo Lelo harus terus dihidupkan. Tidak cukup hanya disimpan dalam buku, tetapi harus dibawa ke ruang publik ditulis, dibicarakan, dan diajarkan kembali.
Ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya menjaga kesadaran kolektif.
Warisan yang Tak Boleh Padam
Perang Kelulum adalah bukti bahwa rakyat Kluet memiliki jiwa kepahlawanan yang kuat. Mereka melawan bukan karena ingin dikenang, tetapi karena tidak ingin dijajah.
Semangat itu adalah warisan.
Dan warisan itu hanya akan hidup jika terus dirawat.
Sejarah yang Menunggu untuk Dihidupkan Kembali
Panglimo Rajo Lelo mungkin belum mendapat tempat yang layak dalam sejarah nasional. Namun di tanah Kluet, namanya tetap hidup.
Kini, tanggung jawab itu berpindah ke generasi muda.
Apakah kita akan membiarkan kisah ini hilang?
Ataukah kita memilih untuk menjaganya, menuliskannya kembali, dan memastikan ia tetap hidup dalam ingatan bangsa?
Jawabannya ada pada kita.













