Pascabanjir, 2.085 Sekolah di Aceh Terima Bantuan Revitalisasi dari Kemendikdasmen

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH (SNN) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memacu pemulihan sektor pendidikan pascabencana banjir besar yang melanda wilayah Sumatra enam bulan lalu. Dari total 3.084 sekolah yang menerima bantuan revitalisasi dan rekonstruksi, Provinsi Aceh mendominasi dengan jumlah penerima mencapai 2.085 satuan pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mempercepat proses rehabilitasi agar layanan pendidikan di wilayah terdampak dapat segera pulih sepenuhnya.
“Seluruh bantuan ini bertujuan untuk mendukung keberlangsungan layanan pendidikan agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan di tengah proses pemulihan pascabencana,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 12 Mei 2026, total anggaran yang dikucurkan untuk 3.084 sekolah di tiga provinsi (Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara) mencapai lebih dari Rp2,9 triliun.
Secara rinci, sebaran bantuan meliputi 2.085 sekolah di Aceh, 667 sekolah di Sumatra Utara, dan 332 sekolah di Sumatra Barat. Dari jumlah keseluruhan tersebut, sebanyak 2.817 sekolah menjalankan revitalisasi secara swakelola. Sementara itu, 267 sekolah dengan kategori rusak berat dan butuh relokasi ditangani langsung melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Darat, yang menelan anggaran lebih dari Rp446 miliar.
Pemerintah juga tercatat telah mencairkan dana bantuan tahap pertama (sebesar 70 persen) kepada 2.861 sekolah dengan nilai mencapai lebih dari Rp1,9 triliun.
Bantuan Finansial untuk Guru Terdampak
Selain memulihkan fisik bangunan, pemerintah turut menyalurkan bantuan khusus bagi tenaga pendidik. Sebanyak 53.215 guru dan tenaga kependidikan (GTK) terdampak bencana telah menerima bantuan uang tunai sebesar Rp2 juta per orang per bulan, yang diberikan selama tiga bulan (total anggaran lebih dari Rp286 miliar).
Sebagai bentuk fleksibilitas di masa darurat, Kemendikdasmen juga mencairkan tunjangan guru senilai Rp508,9 miliar tanpa mensyaratkan pemenuhan beban jam mengajar normal. Dukungan operasional melalui Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) senilai Rp1,98 triliun juga telah disalurkan kepada lebih dari 29 ribu sekolah.
Pemulihan ini diiringi dengan penanganan psikososial bagi para siswa dan guru. Kemendikdasmen terus melakukan pelatihan dukungan psikososial dan memantau penerapan model pembelajaran darurat di lapangan.
Ke depan, pemerintah menargetkan penyaluran bantuan tambahan sebesar Rp83,3 miliar untuk 223 sekolah pada pertengahan Mei 2026. Saat ini, Kemendikdasmen juga tengah berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah guna memastikan penyediaan lahan relokasi bagi 65 sekolah yang mengalami kerusakan terparah akibat bencana. (Redaksi/SNN)







BANDA ACEH (SNN) – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memacu pemulihan sektor pendidikan pascabencana banjir besar yang melanda wilayah Sumatra enam bulan lalu. Dari total 3.084 sekolah yang menerima bantuan revitalisasi dan rekonstruksi, Provinsi Aceh mendominasi dengan jumlah penerima mencapai 2.085 satuan pendidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mempercepat proses rehabilitasi agar layanan pendidikan di wilayah terdampak dapat segera pulih sepenuhnya.
“Seluruh bantuan ini bertujuan untuk mendukung keberlangsungan layanan pendidikan agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berjalan di tengah proses pemulihan pascabencana,” ujar Abdul Mu’ti dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).
Berdasarkan data Kemendikdasmen per 12 Mei 2026, total anggaran yang dikucurkan untuk 3.084 sekolah di tiga provinsi (Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara) mencapai lebih dari Rp2,9 triliun.
Secara rinci, sebaran bantuan meliputi 2.085 sekolah di Aceh, 667 sekolah di Sumatra Utara, dan 332 sekolah di Sumatra Barat. Dari jumlah keseluruhan tersebut, sebanyak 2.817 sekolah menjalankan revitalisasi secara swakelola. Sementara itu, 267 sekolah dengan kategori rusak berat dan butuh relokasi ditangani langsung melalui kerja sama dengan TNI Angkatan Darat, yang menelan anggaran lebih dari Rp446 miliar.
Pemerintah juga tercatat telah mencairkan dana bantuan tahap pertama (sebesar 70 persen) kepada 2.861 sekolah dengan nilai mencapai lebih dari Rp1,9 triliun.
Bantuan Finansial untuk Guru Terdampak
Selain memulihkan fisik bangunan, pemerintah turut menyalurkan bantuan khusus bagi tenaga pendidik. Sebanyak 53.215 guru dan tenaga kependidikan (GTK) terdampak bencana telah menerima bantuan uang tunai sebesar Rp2 juta per orang per bulan, yang diberikan selama tiga bulan (total anggaran lebih dari Rp286 miliar).
Sebagai bentuk fleksibilitas di masa darurat, Kemendikdasmen juga mencairkan tunjangan guru senilai Rp508,9 miliar tanpa mensyaratkan pemenuhan beban jam mengajar normal. Dukungan operasional melalui Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) senilai Rp1,98 triliun juga telah disalurkan kepada lebih dari 29 ribu sekolah.
Pemulihan ini diiringi dengan penanganan psikososial bagi para siswa dan guru. Kemendikdasmen terus melakukan pelatihan dukungan psikososial dan memantau penerapan model pembelajaran darurat di lapangan.
Ke depan, pemerintah menargetkan penyaluran bantuan tambahan sebesar Rp83,3 miliar untuk 223 sekolah pada pertengahan Mei 2026. Saat ini, Kemendikdasmen juga tengah berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah guna memastikan penyediaan lahan relokasi bagi 65 sekolah yang mengalami kerusakan terparah akibat bencana. (Redaksi/SNN)