“Kepala Hiu”, Jembatan Darurat Penyelamat Akses Warga Peusangan

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BIREUEN | SNN – Jembatan darurat yang dijuluki “Kepala Hiu” kini menjadi urat nadi baru bagi mobilitas warga di kawasan Krueng Peusangan, tepatnya menghubungkan Desa Pante Lhong dan Desa Pante Baroe Kumbang, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Jembatan sepanjang sekitar 50 meter ini mulai difungsikan sejak 8 Mei 2026 lalu, menyusul putusnya akses utama akibat banjir yang merusak jembatan lama di Pante Lhong.
Sebelum bencana terjadi, warga setempat mengandalkan jembatan Pante Lhong sebagai jalur penghubung utama. Namun, derasnya arus banjir menyebabkan struktur jembatan tersebut patah dan tidak lagi dapat digunakan. Kondisi ini sempat membuat aktivitas masyarakat terganggu, terutama untuk keperluan bekerja, sekolah, hingga layanan kesehatan.
Rahmat, salah satu petugas penjaga jembatan, menjelaskan bahwa keberadaan jembatan ini memang ditujukan untuk mempermudah akses warga sehari-hari.
“Yang penting masyarakat aman dan nyaman untuk akses bepergian,” ujar Rahmat, Selasa (19/5/2026).
Jembatan “Kepala Hiu” hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda dua, roda tiga, serta pejalan kaki. Untuk sekali melintas, pengguna dikenakan biaya sebesar Rp5.000 per kendaraan.
Namun, terdapat pengecualian bagi pelajar dan warga yang sedang sakit atau dalam kondisi darurat, yang diperbolehkan melintas tanpa biaya. Selain itu, kebijakan khusus juga diterapkan setiap hari Jumat.
“Kami tidak memungut biaya untuk anak sekolah dan orang sakit. Hari Jumat juga digratiskan dari sebelum sampai selesai salat Jumat bagi yang ingin ke masjid,” jelasnya.
Menariknya, nama “Kepala Hiu” sendiri merupakan ide dari Rahmat. Ia terinspirasi dari bentuk struktur pemecah arus di bagian depan jembatan yang menyerupai kepala hiu. Nama tersebut kini justru semakin dikenal luas oleh masyarakat sekitar.
Meski dibuka selama 24 jam, operasional jembatan sangat bergantung pada kondisi debit air sungai. Rahmat menyebutkan, jika arus Krueng Peusangan sedang deras, jembatan terpaksa dibongkar sementara demi keselamatan.
“Kalau air sungai naik dan deras, kami bongkar dulu dan pindahkan ke pinggir. Nanti kalau sudah surut, baru dipasang lagi,” kata Rahmat.
Dengan segala keterbatasannya, keberadaan Jembatan “Kepala Hiu” telah menjadi solusi penting bagi warga. Di tengah keterbatasan pascabencana, jembatan ini tidak hanya mempermudah akses, tetapi juga memberi rasa aman dan harapan bagi masyarakat yang terdampak. (DI)









