Gemuruh “ABAS Mekar” di Ibu Kota: H. Darmansah Nakhodai KP3 ABAS Banda Aceh-Aceh Besar, Aminullah Usman Bendahara

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | SNN — Gerakan perjuangan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Aceh Barat Selatan (ABAS) resmi menancapkan basis struktural di jantung ibu kota provinsi. Melalui forum silaturahmi yang berlangsung dinamis di ATA Kupi Keudah, Peunayong, Banda Aceh, Jumat (3/7/2026), masyarakat diaspora sepakat menunjuk formatur inti untuk mengomandoi KP3 ABAS Perwakilan wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar.
Dalam rembuk bersama tersebut, mandat Ketua sekaligus Ketua Tim Formatur resmi dipercayakan kepada H. Darmansah, S.Pd., M.M. Langkah taktis ini diperkuat dengan masuknya tokoh senior sekaligus mantan Wali Kota Banda Aceh, H. Aminullah Usman, S.E., Ak., M.M., di posisi Bendahara. Sementara untuk posisi Sekretaris dan susunan pengurus lengkap akan dirumuskan lebih lanjut oleh tim formatur, dengan komitmen mengakomodasi keterwakilan personal dari masing-masing kabupaten.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh puluhan tokoh dan warga Persaudaraan Barat Selatan Aceh (PBSA) yang merepresentasikan enam kabupaten pendukung, yaitu Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, dan Simeulue.
Konsolidasi Terbuka dan Rajutan Geopolitik
Ketua Tim Formatur terpilih, H. Darmansah, menyampaikan bahwa pembentukan kepengurusan perwakilan ini merupakan tindak lanjut konkret dari mandat KP3 ABAS Pusat untuk memperkuat eskalasi perjuangan.
“Alhamdulillah, pertemuan silaturahmi hari ini berjalan dengan sangat baik. Ini menjadi langkah awal untuk menghimpun kekuatan masyarakat Barat Selatan Aceh yang berada di Banda Aceh dan Aceh Besar. Perjuangan pembentukan Provinsi ABAS tidak boleh berhenti meskipun pemerintah pusat masih memberlakukan moratorium DOB. Berbagai persiapan organisasi harus kita lakukan sejak sekarang, agar ketika moratorium dicabut, seluruh persyaratan sudah siap,” tegas Darmansah.
Investasi Masa Depan dan Solusi Ketimpangan
Di tempat yang sama, Bendahara KP3 ABAS Perwakilan, Aminullah Usman, menegaskan bahwa pergerakan ini bukan sekadar syahwat politik sesaat, melainkan sebuah investasi peradaban bagi generasi mendatang.
“Dengan terbentuknya provinsi baru di wilayah Barat Selatan Aceh, pelayanan pemerintahan akan semakin dekat dengan masyarakat, pembangunan dapat dipercepat, serta potensi daerah bisa dikelola secara lebih maksimal. Provinsi ABAS harus kita perjuangkan bersama demi anak cucu kita di masa mendatang. Gerakan ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus menjadi gerakan kolektif seluruh masyarakat Barat Selatan Aceh di mana pun berada,” lugas mantan Direktur Utama Bank Aceh tersebut.
Harapan senada juga disuarakan oleh mantan Bupati Simeulue, Erli Hasyim. Dalam sambutannya, ia menyoroti urgensi kebersamaan enam kabupaten sebagai modal utama memutus mata rantai ketimpangan pembangunan yang selama ini mendera kawasan pesisir akibat minimnya porsi alokasi anggaran tahunan.
“Selama ini anggaran pembangunan yang alokasinya ke wilayah Barat Selatan masih sangat minim dan pembangunan belum berjalan secara merata. Semangat kebersamaan seluruh tokoh dari enam kabupaten menjadi modal penting untuk mewujudkan cita-cita masyarakat Barat Selatan Aceh,” papar Erli Hasyim.
Antusiasme Diaspora dan Gema Yel-Yel Kemekaran
Suasana hangat di ATA Kupi Peunayong tersebut akhirnya ditutup dengan sesi dokumentasi bersama yang sarat akan heroisme. Sembari serempak mengepalkan tangan ke udara, gemuruh yel-yel perjuangan pecah membelah pelataran warung kopi.
“Provinsi ABAS… Mekar! Provinsi ABAS… Mekar!” seru para tokoh dan warga bersahut-sahutan.
Gema dari ibu kota ini menjadi penanda tegas bahwa mesin politik pemekaran kini telah resmi dipacu kencang di bawah pengawasan ketat masyarakat pesisir. (Tim Redaksi)









