Dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Aceh Adakan FGD Penilaian Pendarahan bagi Bidan TPMB Aceh Besar

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
ACEH BESAR | SNN – Perdarahan postpartum (Postpartum Hemorrhage/PPH) masih menjadi penyebab utama kematian ibu di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganannya adalah keterlambatan mengenali jumlah kehilangan darah secara tepat sehingga tindakan penyelamatan sering terlambat dilakukan.
Kondisi tersebut menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) Eksplorasi Praktik dan Tantangan Bidan Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) serta Stakeholder dalam Penilaian Kehilangan Darah untuk Deteksi Dini Perdarahan Postpartum,
yang diikuti bidan pemilik TPMB se-Kabupaten Aceh Besar bersama Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Aceh Besar.
FGD merupakan bagian awal dari penelitian pengembangan inovasi deteksi dini perdarahan postpartum yang bertujuan menggali pengalaman praktik para bidan selama memberikan pelayanan persalinan. Penelitian ini digagas oleh tim yang terdiri dari Dr. Bdn. Sulastri, S.SiT., M.Kes sebagai ketua dan Dr. Lilis Suryani, SKM., M.Kes serta Dr. Bdn. Irnawati, S.SiT., M.Kes sebagai anggota.
Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa metode penilaian kehilangan darah yang digunakan bidan masih sangat bervariasi.
Sebagian besar peserta mengaku masih menggunakan estimasi visual, yaitu memperkirakan jumlah perdarahan berdasarkan banyaknya darah yang terlihat keluar dari jalan lahir. Cara ini dilakukan karena mudah dan cepat, namun sangat bergantung pada pengalaman masing-masing bidan.
Sebagian peserta lainnya menyampaikan bahwa mereka menggunakan pembalut (underpad) sebagai indikator. Perdarahan dianggap berlebihan apabila pembalut telah penuh, darah merembes keluar, atau harus segera ditambah dengan pembalut kedua agar darah tidak mengotori tempat tidur persalinan.
Ada pula bidan yang telah mencoba melakukan penilaian lebih objektif dengan menimbang pembalut setelah digunakan untuk memperkirakan volume darah yang keluar. Sementara beberapa peserta lainnya mengandalkan baskom penampung darah sebagai dasar memperkirakan jumlah kehilangan darah selama proses persalinan.
Perbedaan praktik tersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini belum tersedia instrumen sederhana yang terstandar dan mudah diterapkan di TPMB untuk mengukur kehilangan darah secara objektif.
Selain bervariasi metode penilaian, para peserta juga mengungkapkan tantangan ketika menghadapi perdarahan postpartum.

Sebagian besar bidan mengakui bahwa situasi perdarahan sering menimbulkan kepanikan karena harus mengambil keputusan klinis dalam waktu yang sangat singkat. Pada saat yang sama, bidan harus menghentikan perdarahan, mencari penyebabnya, memberikan tata laksana sesuai standar, melakukan pemantauan kondisi ibu, serta menentukan apakah pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Namun demikian, beberapa bidan senior menyampaikan bahwa pengalaman klinis membuat mereka lebih tenang dalam menghadapi kondisi tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah segera mengidentifikasi penyebab perdarahan berdasarkan konsep 4T (Tone, Tissue, Trauma, dan Thrombin), kemudian memberikan penanganan awal sesuai kewenangan dan mempercepat proses rujukan apabila kondisi ibu memerlukan pelayanan lanjutan.
Seluruh informasi yang diperoleh dalam FGD berasal dari pengalaman nyata para bidan selama bertahun-tahun memberikan pelayanan persalinan kepada masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi landasan penting dalam merancang inovasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelayanan primer.

Dalam kesempatan tersebut, peneliti juga menyampaikan bahwa WHO pada tahun 2023 merekomendasikan agar penilaian kehilangan darah selama persalinan dilakukan secara objektif dan terukur, karena estimasi visual terbukti sering menyebabkan jumlah perdarahan tidak teridentifikasi secara akurat. Pendekatan objektif diharapkan dapat mempercepat deteksi dini perdarahan postpartum sehingga intervensi klinis dapat dilakukan sebelum kondisi ibu memburuk.
Pada akhir diskusi, peneliti mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada seluruh peserta.
“Apabila tersedia pembalut obstetri yang mampu menampung darah dalam jumlah besar sekaligus dapat mengukur volume kehilangan darah secara cepat, sederhana, praktis, dan mudah digunakan di Tempat Praktik Mandiri Bidan, apakah Ibu bersedia menggunakannya?”
Seluruh peserta menjawab secara serempak.
“Mau, Bu…”
Beberapa peserta bahkan menambahkan bahwa keberadaan alat seperti itu akan sangat membantu proses pengambilan keputusan klinis, terutama pada menit-menit awal ketika perdarahan mulai terjadi.
Menurut para bidan, selama ini mereka belum pernah menggunakan instrumen sederhana yang mampu menunjukkan secara langsung jumlah kehilangan darah selama persalinan. Akibatnya, keputusan klinis sering masih mengandalkan pengalaman dan perkiraan visual.
Peneliti menyampaikan bahwa masukan dari para bidan menjadi dasar penting dalam pengembangan inovasi alat deteksi dini kehilangan darah postpartum yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kebidanan di Indonesia, khususnya di Tempat Praktik Mandiri Bidan.
Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu bidan melakukan penilaian kehilangan darah secara objektif, tetapi juga mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi keterlambatan penanganan maupun rujukan, serta mendukung pencapaian target penurunan angka kematian ibu di Indonesia.
“Suara para bidan hari ini menjadi pengingat bahwa inovasi pelayanan kesehatan harus lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Ketika bidan memiliki alat yang sederhana, objektif, dan mudah digunakan, maka kesempatan menyelamatkan ibu dari perdarahan postpartum akan semakin besar,” ujar peneliti menutup kegiatan.
Suara Bidan Melahirkan Inovasi.”
Karena sesungguhnya inovasi yang sedang Ibu kembangkan bukan berangkat dari laboratorium semata, tetapi dari kebutuhan nyata para bidan di lapangan. Mereka menyampaikan bahwa belum memiliki alat yang sederhana, objektif, dan cepat untuk mengukur kehilangan darah. Ketika seluruh peserta FGD serentak menjawab “Mau, Bu…”, itu menjadi bukti adanya kebutuhan (needs assessment) yang sangat kuat. Dalam metodologi penelitian pengembangan (Research and Development/R&D), temuan ini merupakan landasan penting untuk melanjutkan tahap perancangan prototipe dan validasi.

Penelitian ini akan didokumentasikan dalam bentuk seri berita yang mencakup seluruh tahapan penelitian, mulai dari pra-penelitian, Focus Group Discussion (FGD), pengembangan prototipe, uji laboratorium, uji klinis, hingga implementasi di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB). Dokumentasi tersebut tidak hanya menjadi media publikasi ilmiah kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam diseminasi hasil penelitian kepada Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), institusi pendidikan, serta berbagai mitra yang berpotensi mendukung implementasi inovasi ini secara lebih luas.
Peneliti menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Kesehatan RI, Poltekkes Kemenkes Aceh, para stakeholder, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), khususnya Ketua IBI Kabupaten Aceh Besar, serta seluruh Bidan TPMB di Kabupaten Aceh Besar atas masukan, pengalaman, partisipasi, dan dukungan yang telah diberikan selama pelaksanaan FGD. Semoga kolaborasi ini menjadi langkah awal lahirnya inovasi yang mampu memperkuat deteksi dini perdarahan postpartum, mempercepat pengambilan keputusan klinis, serta berkontribusi nyata dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia. (red)










ACEH BESAR | SNN – Perdarahan postpartum (Postpartum Hemorrhage/PPH) masih menjadi penyebab utama kematian ibu di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganannya adalah keterlambatan mengenali jumlah kehilangan darah secara tepat sehingga tindakan penyelamatan sering terlambat dilakukan.
Kondisi tersebut menjadi fokus dalam Focus Group Discussion (FGD) Eksplorasi Praktik dan Tantangan Bidan Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) serta Stakeholder dalam Penilaian Kehilangan Darah untuk Deteksi Dini Perdarahan Postpartum,
yang diikuti bidan pemilik TPMB se-Kabupaten Aceh Besar bersama Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kabupaten Aceh Besar.
FGD merupakan bagian awal dari penelitian pengembangan inovasi deteksi dini perdarahan postpartum yang bertujuan menggali pengalaman praktik para bidan selama memberikan pelayanan persalinan. Penelitian ini digagas oleh tim yang terdiri dari Dr. Bdn. Sulastri, S.SiT., M.Kes sebagai ketua dan Dr. Lilis Suryani, SKM., M.Kes serta Dr. Bdn. Irnawati, S.SiT., M.Kes sebagai anggota.
Dalam diskusi tersebut terungkap bahwa metode penilaian kehilangan darah yang digunakan bidan masih sangat bervariasi.
Sebagian besar peserta mengaku masih menggunakan estimasi visual, yaitu memperkirakan jumlah perdarahan berdasarkan banyaknya darah yang terlihat keluar dari jalan lahir. Cara ini dilakukan karena mudah dan cepat, namun sangat bergantung pada pengalaman masing-masing bidan.
Sebagian peserta lainnya menyampaikan bahwa mereka menggunakan pembalut (underpad) sebagai indikator. Perdarahan dianggap berlebihan apabila pembalut telah penuh, darah merembes keluar, atau harus segera ditambah dengan pembalut kedua agar darah tidak mengotori tempat tidur persalinan.
Ada pula bidan yang telah mencoba melakukan penilaian lebih objektif dengan menimbang pembalut setelah digunakan untuk memperkirakan volume darah yang keluar. Sementara beberapa peserta lainnya mengandalkan baskom penampung darah sebagai dasar memperkirakan jumlah kehilangan darah selama proses persalinan.
Perbedaan praktik tersebut menunjukkan bahwa hingga saat ini belum tersedia instrumen sederhana yang terstandar dan mudah diterapkan di TPMB untuk mengukur kehilangan darah secara objektif.
Selain bervariasi metode penilaian, para peserta juga mengungkapkan tantangan ketika menghadapi perdarahan postpartum.

Sebagian besar bidan mengakui bahwa situasi perdarahan sering menimbulkan kepanikan karena harus mengambil keputusan klinis dalam waktu yang sangat singkat. Pada saat yang sama, bidan harus menghentikan perdarahan, mencari penyebabnya, memberikan tata laksana sesuai standar, melakukan pemantauan kondisi ibu, serta menentukan apakah pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Namun demikian, beberapa bidan senior menyampaikan bahwa pengalaman klinis membuat mereka lebih tenang dalam menghadapi kondisi tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah segera mengidentifikasi penyebab perdarahan berdasarkan konsep 4T (Tone, Tissue, Trauma, dan Thrombin), kemudian memberikan penanganan awal sesuai kewenangan dan mempercepat proses rujukan apabila kondisi ibu memerlukan pelayanan lanjutan.
Seluruh informasi yang diperoleh dalam FGD berasal dari pengalaman nyata para bidan selama bertahun-tahun memberikan pelayanan persalinan kepada masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi landasan penting dalam merancang inovasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pelayanan primer.

Dalam kesempatan tersebut, peneliti juga menyampaikan bahwa WHO pada tahun 2023 merekomendasikan agar penilaian kehilangan darah selama persalinan dilakukan secara objektif dan terukur, karena estimasi visual terbukti sering menyebabkan jumlah perdarahan tidak teridentifikasi secara akurat. Pendekatan objektif diharapkan dapat mempercepat deteksi dini perdarahan postpartum sehingga intervensi klinis dapat dilakukan sebelum kondisi ibu memburuk.
Pada akhir diskusi, peneliti mengajukan satu pertanyaan sederhana kepada seluruh peserta.
“Apabila tersedia pembalut obstetri yang mampu menampung darah dalam jumlah besar sekaligus dapat mengukur volume kehilangan darah secara cepat, sederhana, praktis, dan mudah digunakan di Tempat Praktik Mandiri Bidan, apakah Ibu bersedia menggunakannya?”
Seluruh peserta menjawab secara serempak.
“Mau, Bu…”
Beberapa peserta bahkan menambahkan bahwa keberadaan alat seperti itu akan sangat membantu proses pengambilan keputusan klinis, terutama pada menit-menit awal ketika perdarahan mulai terjadi.
Menurut para bidan, selama ini mereka belum pernah menggunakan instrumen sederhana yang mampu menunjukkan secara langsung jumlah kehilangan darah selama persalinan. Akibatnya, keputusan klinis sering masih mengandalkan pengalaman dan perkiraan visual.
Peneliti menyampaikan bahwa masukan dari para bidan menjadi dasar penting dalam pengembangan inovasi alat deteksi dini kehilangan darah postpartum yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan kebidanan di Indonesia, khususnya di Tempat Praktik Mandiri Bidan.
Inovasi tersebut diharapkan tidak hanya membantu bidan melakukan penilaian kehilangan darah secara objektif, tetapi juga mempercepat pengambilan keputusan, mengurangi keterlambatan penanganan maupun rujukan, serta mendukung pencapaian target penurunan angka kematian ibu di Indonesia.
“Suara para bidan hari ini menjadi pengingat bahwa inovasi pelayanan kesehatan harus lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Ketika bidan memiliki alat yang sederhana, objektif, dan mudah digunakan, maka kesempatan menyelamatkan ibu dari perdarahan postpartum akan semakin besar,” ujar peneliti menutup kegiatan.
Suara Bidan Melahirkan Inovasi.”
Karena sesungguhnya inovasi yang sedang Ibu kembangkan bukan berangkat dari laboratorium semata, tetapi dari kebutuhan nyata para bidan di lapangan. Mereka menyampaikan bahwa belum memiliki alat yang sederhana, objektif, dan cepat untuk mengukur kehilangan darah. Ketika seluruh peserta FGD serentak menjawab “Mau, Bu…”, itu menjadi bukti adanya kebutuhan (needs assessment) yang sangat kuat. Dalam metodologi penelitian pengembangan (Research and Development/R&D), temuan ini merupakan landasan penting untuk melanjutkan tahap perancangan prototipe dan validasi.

Penelitian ini akan didokumentasikan dalam bentuk seri berita yang mencakup seluruh tahapan penelitian, mulai dari pra-penelitian, Focus Group Discussion (FGD), pengembangan prototipe, uji laboratorium, uji klinis, hingga implementasi di Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB). Dokumentasi tersebut tidak hanya menjadi media publikasi ilmiah kepada masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam diseminasi hasil penelitian kepada Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), institusi pendidikan, serta berbagai mitra yang berpotensi mendukung implementasi inovasi ini secara lebih luas.
Peneliti menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kementerian Kesehatan RI, Poltekkes Kemenkes Aceh, para stakeholder, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), khususnya Ketua IBI Kabupaten Aceh Besar, serta seluruh Bidan TPMB di Kabupaten Aceh Besar atas masukan, pengalaman, partisipasi, dan dukungan yang telah diberikan selama pelaksanaan FGD. Semoga kolaborasi ini menjadi langkah awal lahirnya inovasi yang mampu memperkuat deteksi dini perdarahan postpartum, mempercepat pengambilan keputusan klinis, serta berkontribusi nyata dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia. (red)