
BANDA ACEH | SNN — Duka kembali menyelimuti dunia pelayaran perintis Aceh. Satu lagi taruna magang yang menjadi korban dalam insiden ledakan ruang mesin Kapal Motor Penumpang (KMP) Aceh Hebat 2 pada awal pekan lalu, dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif.
Bertambahnya korban jiwa ini semakin memperkuat desakan masyarakat akan perlunya investigasi yang transparan dan menyeluruh terhadap standar keselamatan operasional (SOP) armada kapal laut yang dibanggakan tersebut. Publik mempertanyakan pengawasan teknis kelayakan berlayar sebelum kapal angkut penumpang antar-pulau ini diberangkatkan.
Insiden meledaknya tabung gas (freon/AC) di ruang mesin yang memakan korban taruna magang ini menyoroti rapuhnya protokol keselamatan kerja (K3) di atas kapal. Para pemerhati pelayaran mendesak agar pihak berwenang tidak hanya melihat kasus ini sebagai kecelakaan kerja semata, melainkan mengusut potensi kelalaian berlapis dalam pemeliharaan armada.
Kehadiran armada Aceh Hebat awalnya digadang-gadang sebagai solusi memecah isolasi dan melancarkan arus logistik kepulauan di Aceh. Namun, rentetan kendala teknis dan kini kecelakaan fatal menjadi catatan kelam bagi operasional kapal-kapal senilai puluhan miliar rupiah ini.
Keluarga korban dan masyarakat Aceh kini menuntut keadilan serta jaminan agar insiden serupa tidak terulang di masa depan. Evaluasi total terhadap manajemen pengelolaan KMP Aceh Hebat mendesak dilakukan segera sebelum armada lain menelan korban berikutnya (Red).





