Sastra Klasik Aceh Terancam Punah, Budayawan Dorong Digitalisasi dan Kurikulum Muatan Lokal

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | SNN — Di tengah gempuran modernisasi dan gaya hidup digital, sastra klasik Aceh menghadapi ancaman kepunahan. Menyadari krisis ini, Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang ke-XIV mendorong sebuah resolusi penting untuk memperkuat sistem pelestarian budaya secara sistematis dan terintegrasi di seluruh level pendidikan.
Sastra klasik Aceh, baik dalam bentuk hikayat, nazam, hingga pantun, bukan sekadar karya seni kata-kata, melainkan ensiklopedia kearifan lokal yang merekam jejak sejarah, hukum adat, hingga teologi masyarakat Aceh. Sayangnya, minat generasi muda terhadap sastra indatu (leluhur) ini merosot tajam. Kurangnya digitalisasi naskah kuno dan minimnya ruang ekspresi bagi para seniman tutur memperburuk situasi.
Upaya pelestarian yang selama ini dilakukan dinilai masih bersifat sporadis dan seremonial semata. Oleh karena itu, para budayawan mendesak pemerintah Aceh untuk tidak sekadar menggelar pameran tahunan, melainkan membangun kurikulum muatan lokal yang mengakar kuat pada literatur klasik daerah.
Salah satu rekomendasi utama dari PKA kali ini adalah percepatan digitalisasi naskah-naskah kuno Aceh (manuskrip) yang saat ini banyak tersebar di museum-museum luar negeri atau lapuk dimakan usia di tangan kolektor pribadi. Selain digitalisasi, dibutuhkan inovasi cara penyampaian, misalnya dengan mengadaptasi hikayat ke dalam bentuk animasi atau siniar (podcast) yang lebih mudah dicerna Gen-Z.
Langkah penguatan sistem pelestarian ini sangat krusial. Jika sastra klasik dibiarkan mati, maka generasi masa depan Aceh akan kehilangan kompas moral dan identitas budayanya di tengah pergaulan global (Red).









