Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Tewas dalam Gempuran AS dan Israel, Timur Tengah Membara

  • Bagikan
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

TIMUR TENGAH | SNN – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih tertinggi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer berskala besar ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari. Serangan yang menargetkan puluhan fasilitas strategis tersebut merenggut nyawa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Stasiun televisi pemerintah Iran secara resmi telah mengumumkan empat puluh hari masa berkabung dan tujuh hari libur nasional. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran membenarkan bahwa Khamenei wafat di kantornya “saat sedang menjalankan tugas.” Mereka menyebut wafatnya Khamenei sebagai “martir” yang akan menjadi awal dari “kebangkitan dalam perjuangan melawan para penindas.” Selain Khamenei, serangan ini juga menewaskan sejumlah petinggi militer, termasuk Panglima Korps Garda Revolusi Islam, Mohammad Pakpour, serta menimbulkan ratusan korban jiwa di berbagai provinsi.

Citra satelit menunjukan sebelum dan sesudah serangan di kediaman Khamenei

Gempuran yang diklaim oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai “operasi tempur besar-besaran” ini menyasar ratusan target, termasuk kompleks kediaman Khamenei di Teheran dan berbagai fasilitas militer serta nuklir. Melalui unggahannya, Trump membenarkan operasi tersebut dan menyatakan bahwa “Khamenei salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas”. Ia juga menambahkan bahwa “Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat,” serta menyebutnya sebagai “kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negaranya”. Senada dengan Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan operasi bersama ini bertujuan untuk “menyingkirkan rezim teroris di Iran”. Keduanya secara provokatif mendesak rakyat dan aparat keamanan Iran untuk memanfaatkan momen ini guna menggulingkan pemerintahan ulama yang berkuasa.

Sebagai balasan atas serangan masif tersebut, Iran segera melancarkan gelombang serangan udara mematikan ke berbagai instalasi militer Amerika Serikat dan sekutunya di Timur Tengah. Rentetan rudal balistik dan pesawat tak berawak milik Iran dilaporkan menghantam sejumlah lokasi strategis di Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak, hingga memicu sirene peringatan di seluruh wilayah Israel. Militer Israel menyebut tindakan balasan ini sebagai upaya Iran untuk “meneror warga sipil dan menghancurkan permukiman.” Eskalasi ini semakin membahayakan stabilitas global menyusul adanya laporan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran bersiap menutup Selat Hormuz, jalur maritim paling vital yang menjadi urat nadi bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Krisis militer yang pecah hanya dua hari setelah kebuntuan perundingan nuklir di Jenewa ini memicu keprihatinan mendalam dari komunitas internasional, termasuk Indonesia. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia sangat menyesalkan gagalnya jalur diplomasi dan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Pemerintah Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk membantu meredakan ketegangan. Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa “Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” sembari terus mengimbau seluruh warga negara Indonesia di wilayah konflik untuk tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas keamanan setempat.[red]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *