Nyawa Terakhir Meurukon: Mampukah Festival Budaya Selamatkan Tradisi Aceh dari Generasi Z?

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
BANDA ACEH | SNN — Gemerlap gadget dan budaya populer perlahan menenggelamkan salah satu tradisi lisan paling berharga di tanah rencong: Meurukon. Tradisi berbalas syair dan pantun berisi ilmu agama Islam ini kini berada di ambang kepunahan, seiring minimnya minat dari Generasi Z.
Kondisi krisis ini memicu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar Festival Meurukon tingkat provinsi sepanjang Juni 2026. Ajang ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi anak muda untuk kembali mengenal, melestarikan, dan merasa bangga terhadap warisan leluhur mereka.
Meurukon bukan sekadar seni pertunjukan. Secara historis, tradisi ini adalah metode dakwah yang efektif di Aceh pada masa lampau. Diadakan di meunasah (surau) atau balei, masyarakat berdebat saling melemparkan teka-teki terkait fikih, tauhid, hingga sejarah Islam yang dijawab menggunakan bait-bait syair bahasa Aceh.
Sayangnya, regenerasi seniman Meurukon nyaris terputus. Sebagian besar tokoh dan pegiat Meurukon di berbagai gampong kini telah memasuki usia senja. Tanpa adanya transfer pengetahuan ke generasi milenial dan Gen Z, tradisi intelektual Islam ini diprediksi akan hilang dalam satu dekade ke depan.
Festival Meurukon kali ini didesain berbeda. Panitia tidak hanya menggelar perlombaan secara fisik, tetapi juga mendorong para peserta untuk mendokumentasikan penampilan mereka ke platform digital seperti YouTube dan TikTok. Tujuannya jelas: mendekatkan tradisi klasik ini ke ruang visual yang sehari-hari dihidupi oleh anak muda.
Menurut sejumlah budayawan Aceh, cara melestarikan Meurukon hari ini bukan dengan memaksakan pemuda kembali ke surau lama, melainkan membawa surau itu ke dalam genggaman mereka. Kolaborasi antara ritme tradisional dan kemasan digital modern dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan nyawa terakhir Meurukon.
Lebih dari sekadar seni, hilangnya Meurukon berarti hilangnya metode pendidikan karakter berbasis lokal di Aceh. Festival ini menjadi pengingat bahwa di tengah arus modernisasi global, pelestarian budaya lokal adalah benteng terakhir untuk mempertahankan identitas keislaman khas Aceh.
Jika festival ini sukses mencetak generasi baru pegiat Meurukon, setidaknya Aceh masih memiliki harapan untuk melihat tradisi berbalas syair agama ini menggema kembali dari meunasah-meunasah di masa depan. (Red)








