BANDA ACEH | SNN – Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mata Lensa Universitas Muhammadiyah Aceh, Misbah Hidayat, kembali melempar “bom” kritik terhadap proses penyusunan APBA 2026. Ia menilai proses input data ke Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD) yang dilakukan secara tertutup dan terburu-buru adalah upaya sistematis untuk menyembunyikan “borok” anggaran dari mata publik.
“Apa yang sedang dilakukan Pemerintah Aceh di SIPD saat ini bukan sekadar urusan teknis, tapi sedang membangun kotak hitam. Di saat rakyat Aceh sedang berjibaku dengan banjir, elit kita justru sibuk mengamankan iklan 71 miliar rupiah. Ini bukan pengabdian, ini adalah pengkhianatan terhadap mandat Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2025 (RPJMA) yang mereka susun sendiri,” tegas Misbah.
Misbah memaparkan kontradiksi yang menyakitkan: Pemerintah Aceh mengakui dalam RPJMA bahwa angka stunting mencapai 29,40% dan kemiskinan 14,23%, namun dalam penganggaran justru lebih memilih “mempercantik diri” lewat iklan daripada memberikan asupan gizi.
“Jangan sampai narasi ‘kekompakan’ yang didengungkan Gubernur hanya menjadi mantra untuk membungkam kritik sementara ‘penumpang gelap’ menyusup masuk melalui celah SIPD di menit-menit terakhir. Kami menuntut transparansi total. Buka data SIPD ke publik, atau biarkan sejarah mencatat APBA 2026 sebagai anggaran paling tidak bermoral dalam sejarah Aceh,” pungkasnya.[red]












