ACEH BESAR | saranNews — Fluktuasi tajam harga emas belakangan ini menciptakan gelombang tekanan baru bagi Generasi Z (Gen Z) di Aceh. Selain dipandang sebagai instrumen investasi penjaga nilai, melambungnya harga emas kini memicu kekhawatiran psikologis terkait pemenuhan mahar pernikahan (jeulamee) yang menjadi tradisi kental di Tanah Rencong, Kamis (22/1/2026).
Muhammad Miftahul Razaaq, S.E., lulusan ekonomi UIN Ar-Raniry sekaligus Wakil III Duta Pariwisata Kota Banda Aceh, menilai meningkatnya minat beli emas di kalangan anak muda adalah respons logis terhadap ketidakpastian ekonomi global. Namun, ia mengamati adanya kecenderungan “ikut-ikutan” atau FOMO akibat masifnya narasi kenaikan harga di media sosial.
“Di Aceh, kondisi ini diperkuat faktor budaya mahar dalam satuan mayam. Ketika harga emas naik cepat, muncul rasa takut di kalangan Gen Z yang mulai memasuki fase menikah karena khawatir tidak mampu memenuhi mahar tersebut. Ini bukan lagi sekadar soal investasi, tapi sudah menjadi tekanan budaya,” ujar Miftah kepada saranNews.
Ia menyarankan agar generasi muda tidak terjebak dalam pembelian yang impulsif atau memaksakan diri menggunakan dana darurat demi mengikuti tren. Layanan tabungan emas dengan nominal kecil dinilai sebagai solusi realistis bagi anak muda untuk mulai merencanakan keuangan dan kebutuhan mahar secara bertahap tanpa harus mengalami kepanikan finansial. (Sr)












