Bangkit dari Lumpur Pante Lhong 2026, Sekolah Lapang Dorong Pemulihan Lahan dan Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.

Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.
Bireuen | SNN – Sekolah Lapang “Bangkit dari Lumpur Pante Lhong 2026” Sesi 1 dilaksanakan di Gampong Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh (20/05/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program “Bangkit dari Lumpur: Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh 2025–2026”.
Program ini merupakan hibah bantuan dari Rumah Zakat, dengan dukungan IA ITB Aceh dan Wakaf Salman, yang berfokus pada pemulihan lahan terdampak banjir, penguatan kapasitas warga, serta pembangunan ketahanan pangan masyarakat pasca bencana di Gampong Pantee Lhong.
Pada sesi pertama ini, sekolah lapang mengangkat tema “Rehabilitasi Lahan dan Pra Tanam”. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mendampingi masyarakat dalam memahami kondisi lahan pasca banjir, mengenali pentingnya tanah sehat, serta mempersiapkan kembali lahan agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya pangan.

Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026, mulai pukul 13.00 hingga 18.00 WIB, bertempat di demplot tanah wakaf Gampong Pantee Lhong. Lahan tersebut mulai dikembangkan kembali sebagai area budidaya padi gogo dan komoditas pangan lainnya.
Dalam kegiatan ini, para local champion didampingi oleh Bapak Yusril dari Pandu Ketapang. Pendampingan dilakukan melalui pengenalan konsep rehabilitasi lahan, diskusi bersama warga, serta praktik lapangan terkait tahapan pra tanam dan pemulihan lahan terdampak banjir.

Sekolah lapang sesi pertama ini diikuti oleh para local champion yang merupakan warga Gampong Pantee Lhong. Mereka diharapkan dapat menjadi penggerak di tingkat masyarakat dengan menyebarkan pengetahuan dan praktik yang diperoleh selama kegiatan kepada keluarga, kelompok tani, serta warga di lingkungan sekitarnya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Keuchik Gampong Pantee Lhong, Bapak Murizal. Dukungan pemerintah gampong menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan bersama masyarakat, sesuai dengan kebutuhan lokal, serta mendukung upaya pemulihan lahan dan penguatan ketahanan pangan di tingkat desa.

Bapak Mulkan Fadhli, selaku Sekjen IA ITB Aceh dan Koordinator ITB Peduli Wilayah Aceh, menyampaikan bahwa program ini lahir dari proses panjang pendampingan dan penjajakan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sejak Januari 2026, Tim IA ITB Aceh telah melakukan survei ke wilayah Pantee Lhong untuk mendengar langsung permasalahan warga, memahami kondisi lahan pasca banjir, serta mencari solusi bersama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Sejak Januari, Tim IA ITB Aceh telah turun melakukan survei ke wilayah Pantee Lhong. Kami mencoba mendengar langsung permasalahan yang dihadapi masyarakat, melihat kondisi lahan terdampak, dan mencari solusi bersama. Dari proses tersebut, kemudian kami menjahit kolaborasi bersama Wakaf Salman dan Rumah Zakat agar upaya pemulihan ini dapat berjalan lebih terarah dan memberi manfaat nyata bagi warga,” ujar Bapak Mulkan Fadhli.
Gampong Pantee Lhong dipilih sebagai lokasi program karena merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir dan memiliki lahan terdegradasi, namun masih berpotensi untuk dipulihkan menjadi lahan pangan produktif. Melalui pendekatan sekolah lapang, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga didorong untuk membangun kembali semangat kolektif dalam memperkuat ketahanan pangan desa.
Salah satu tokoh lokal sekaligus peserta program, Bang Zulhanif, menyampaikan bahwa sekolah lapang memberikan harapan baru bagi masyarakat dalam melihat kembali potensi lahan yang sebelumnya dianggap sulit dipulihkan.
“Dulu kami melihat lahan yang tertutup tanah pasir sisa banjir ini sudah tidak ada harapan. Sekarang, lewat sekolah lapang, kami belajar bagaimana tanah bisa dipulihkan pelan-pelan dan disiapkan kembali untuk padi dan tanaman lain. Harapannya, beberapa tahun ke depan Pante Lhong bukan lagi dikenal karena peninggalan sisa banjirnya, tapi karena mampu bangkit lewat ketahanan pangan yang lebih kuat.”
Melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Sesi 1 ini, Program “Bangkit dari Lumpur: Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh 2025–2026” diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat Gampong Pantee Lhong dalam memulihkan lahan, memperkuat kapasitas warga, dan membangun sistem pangan desa yang lebih tangguh pasca bencana. [red]










Bireuen | SNN – Sekolah Lapang “Bangkit dari Lumpur Pante Lhong 2026” Sesi 1 dilaksanakan di Gampong Pantee Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh (20/05/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program “Bangkit dari Lumpur: Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh 2025–2026”.
Program ini merupakan hibah bantuan dari Rumah Zakat, dengan dukungan IA ITB Aceh dan Wakaf Salman, yang berfokus pada pemulihan lahan terdampak banjir, penguatan kapasitas warga, serta pembangunan ketahanan pangan masyarakat pasca bencana di Gampong Pantee Lhong.
Pada sesi pertama ini, sekolah lapang mengangkat tema “Rehabilitasi Lahan dan Pra Tanam”. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mendampingi masyarakat dalam memahami kondisi lahan pasca banjir, mengenali pentingnya tanah sehat, serta mempersiapkan kembali lahan agar dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya pangan.

Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 20 Mei 2026, mulai pukul 13.00 hingga 18.00 WIB, bertempat di demplot tanah wakaf Gampong Pantee Lhong. Lahan tersebut mulai dikembangkan kembali sebagai area budidaya padi gogo dan komoditas pangan lainnya.
Dalam kegiatan ini, para local champion didampingi oleh Bapak Yusril dari Pandu Ketapang. Pendampingan dilakukan melalui pengenalan konsep rehabilitasi lahan, diskusi bersama warga, serta praktik lapangan terkait tahapan pra tanam dan pemulihan lahan terdampak banjir.

Sekolah lapang sesi pertama ini diikuti oleh para local champion yang merupakan warga Gampong Pantee Lhong. Mereka diharapkan dapat menjadi penggerak di tingkat masyarakat dengan menyebarkan pengetahuan dan praktik yang diperoleh selama kegiatan kepada keluarga, kelompok tani, serta warga di lingkungan sekitarnya.
Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Keuchik Gampong Pantee Lhong, Bapak Murizal. Dukungan pemerintah gampong menjadi bagian penting dalam memastikan program berjalan bersama masyarakat, sesuai dengan kebutuhan lokal, serta mendukung upaya pemulihan lahan dan penguatan ketahanan pangan di tingkat desa.

Bapak Mulkan Fadhli, selaku Sekjen IA ITB Aceh dan Koordinator ITB Peduli Wilayah Aceh, menyampaikan bahwa program ini lahir dari proses panjang pendampingan dan penjajakan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, sejak Januari 2026, Tim IA ITB Aceh telah melakukan survei ke wilayah Pantee Lhong untuk mendengar langsung permasalahan warga, memahami kondisi lahan pasca banjir, serta mencari solusi bersama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Sejak Januari, Tim IA ITB Aceh telah turun melakukan survei ke wilayah Pantee Lhong. Kami mencoba mendengar langsung permasalahan yang dihadapi masyarakat, melihat kondisi lahan terdampak, dan mencari solusi bersama. Dari proses tersebut, kemudian kami menjahit kolaborasi bersama Wakaf Salman dan Rumah Zakat agar upaya pemulihan ini dapat berjalan lebih terarah dan memberi manfaat nyata bagi warga,” ujar Bapak Mulkan Fadhli.
Gampong Pantee Lhong dipilih sebagai lokasi program karena merupakan salah satu wilayah yang terdampak banjir dan memiliki lahan terdegradasi, namun masih berpotensi untuk dipulihkan menjadi lahan pangan produktif. Melalui pendekatan sekolah lapang, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga didorong untuk membangun kembali semangat kolektif dalam memperkuat ketahanan pangan desa.
Salah satu tokoh lokal sekaligus peserta program, Bang Zulhanif, menyampaikan bahwa sekolah lapang memberikan harapan baru bagi masyarakat dalam melihat kembali potensi lahan yang sebelumnya dianggap sulit dipulihkan.
“Dulu kami melihat lahan yang tertutup tanah pasir sisa banjir ini sudah tidak ada harapan. Sekarang, lewat sekolah lapang, kami belajar bagaimana tanah bisa dipulihkan pelan-pelan dan disiapkan kembali untuk padi dan tanaman lain. Harapannya, beberapa tahun ke depan Pante Lhong bukan lagi dikenal karena peninggalan sisa banjirnya, tapi karena mampu bangkit lewat ketahanan pangan yang lebih kuat.”
Melalui pelaksanaan Sekolah Lapang Sesi 1 ini, Program “Bangkit dari Lumpur: Ketahanan Pangan Pasca Banjir Aceh 2025–2026” diharapkan dapat menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat Gampong Pantee Lhong dalam memulihkan lahan, memperkuat kapasitas warga, dan membangun sistem pangan desa yang lebih tangguh pasca bencana. [red]