BANDA ACEH | SNN — Bulan suci Ramadhan tak hanya menjadi momen untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga waktu yang tepat untuk memperkaya literasi digital. Semangat inilah yang diusung dalam Ramadhan Tech Camp, sebuah program edukasi inovatif yang memadukan pengenalan teknologi dengan nilai-nilai keislaman bagi generasi muda di Banda Aceh.
Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, program tahunan ini kembali digelar melalui kolaborasi apik antara Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) Pengurus Daerah Aceh, Dayah Modern Tgk. Chik Pante Kulu, dan Kitapandu.
Tahun ini, Ramadhan Tech Camp dilaksanakan di dua lokasi untuk menjangkau peserta yang lebih luas. Untuk peserta dari kalangan umum, kegiatan diselenggarakan di Kitapandu Learning Hub yang berlangsung mulai tanggal 26 Februari hingga 6 Maret. Sementara itu, pelaksanaan bagi para santri difokuskan di Dayah Modern Tgk. Chik Pante Kulu.

Program ini mengajak peserta menyelami dunia teknologi lewat pendekatan yang interaktif dan menyenangkan. Berbagai materi seperti Scratch Coding, Pemrograman Dasar, hingga Computational Thinking diberikan untuk mengasah kemampuan berpikir logis, kreatif, dan sistematis pada anak muda.
Sekretaris Jenderal IA-ITB Pengda Aceh, Mulkan Fadhli, menegaskan bahwa kehadiran program edukasi teknologi ini merupakan bentuk dedikasi profesional dalam membangun fondasi digital anak-anak Aceh dengan standar yang tinggi.
“Keterlibatan para profesional dan jejaring alumni ITB dalam inisiatif ini adalah wujud komitmen nyata kami untuk memberikan standar edukasi teknologi yang terstruktur dan relevan dengan kebutuhan industri masa kini. Kami tidak sekadar mengajarkan teori coding, tetapi membentuk pola pikir logis (computational thinking) yang diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman dan kepedulian sosial,” tegas Mulkan.
“Harapannya, dari sini lahir talenta-talenta muda yang secara kapasitas mampu bersaing di era digital, namun tetap memiliki akar karakter religius yang kuat,” tambahnya.
Dilengkapi Edukasi Mitigasi Bencana dan Bukti Nyata Kelulusan
Selain penguatan logika pemrograman, peserta juga mendapatkan nilai tambah berupa materi kesiapsiagaan bencana. Pembekalan ini dinilai krusial untuk membangun kesadaran generasi muda Aceh terhadap kondisi lingkungan sekitar serta melatih sikap tanggap dalam menghadapi potensi bencana.

Ketua Panitia Ramadhan Tech Camp, Muhammad Ulwy, menyoroti rekam jejak penyelenggaraan acara dan pencapaian para peserta sebagai bukti efektivitas program ini.
“Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, Ramadhan Tech Camp terus membuktikan diri sebagai inkubator talenta digital yang konsisten. Kurikulum yang kami susun memastikan bahwa di akhir program, anak-anak tidak hanya memahami konsep, tetapi mampu menghasilkan karya kreatif berbasis teknologi secara mandiri maupun dalam tim,” jelas Ulwy.
Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat dari tahun ke tahun menjadi tolok ukur bahwa format pembelajaran hibrida yang terarah antara teknologi, spiritualitas, dan kesadaran lingkungan sangat dibutuhkan saat ini.
Ke depan, Ramadhan Tech Camp diharapkan terus menjadi program unggulan di Aceh dalam mempersiapkan generasi yang adaptif, berkarakter utuh, dan tangguh menghadapi pesatnya perkembangan zaman. (TP)











