Warkop Startup #3: “Punya Ide, Nggak Punya Modal. Terus?”

BANDA ACEH | SNN – Komunitas startup Banda Aceh kembali menggelar forum santai Warkop Startup edisi ketiga di Kopi Darat, Lampineung, Banda Aceh, Sabtu (22/8/2026) sore. Mengusung tema “Punya Ide, Nggak Punya Modal. Terus?”, diskusi berlangsung pukul 16.30 hingga 19.00 WIB dan diikuti peserta dari kalangan mahasiswa, pekerja kreatif, serta pelaku usaha rintisan.
Forum ini menghadirkan Maulana Wiga, Ketua Umum Asosiasi Startup for Industry, sebagai narasumber utama. Pembahasan difokuskan pada cara memulai bisnis dari sumber daya yang ada, perjuangan membangun startup di tahap awal, serta membaca peluang di era digital berdasarkan pengalaman langsung oleh seorang pendiri startup BepahKupi, yaitu perusahaan kopi asal Indonesia yang menghubungkan petani kopi dari berbagai daerah dengan pasar nasional dan global melalui produk kopi berkualitas, traceable, dan berkelanjutan.
Acara diselenggarakan oleh Startup Banda Aceh Community dan Egg Geek, serta bekerja sama dengan Regesit sebagai Event Organizer. Pendaftaran dibuka melalui platform regesit.com, salah satu startup asal Aceh. Panitia mencatat 48 peserta terdaftar, dan 32 di antaranya hadir langsung di lokasi pada hari pelaksanaan.
Startup Banda Aceh Community, melalui Imam Ashabul, menyebut format warung kopi sengaja dipilih agar diskusi terasa setara antara pemula dan pelaku yang sudah berjalan.
“Di Aceh, warung kopi itu ruang publik yang paling jujur. Banyak ide bagus lahir di meja kopi, tapi berhenti di situ juga. Warkop Startup ini kami buat supaya obrolan itu punya kelanjutan,” ujar Imam.

Komunitas menilai keterbatasan modal masih menjadi keluhan paling sering yang mereka dengar dari anak muda Aceh yang ingin merintis usaha. Persoalan itu, menurut Imam, kerap dijadikan alasan untuk tidak memulai sama sekali.
“Modal itu penting, tapi bukan yang pertama. Yang pertama itu masalah yang mau kamu selesaikan dan bukti bahwa ada orang yang butuh solusinya. Kalau itu sudah ada, modal jauh lebih mudah dicari,” katanya.
Startup Banda Aceh Community, melalui Imam, berharap forum semacam ini dapat berlanjut secara rutin dan menjadi titik temu antara pemilik ide, mentor, serta calon mitra usaha di Banda Aceh.
“Target kami bukan sekadar ramai pesertanya, tapi ada yang benar-benar jalan usahanya setelah ikut. Edisi berikutnya kami ingin lebih banyak sesi pendampingan,” ujarnya.
Sementara itu, Maulana Wiga dalam paparannya menekankan pentingnya kemampuan membaca peluang dan momentum dalam membangun usaha. Ia mencontohkan pengalamannya masuk ke bisnis digitalisasi produk kopi pada 2018, ketika industri startup sedang berkembang pesat dan banyak perusahaan rintisan mulai mendapatkan investasi.

Menurutnya, peluang tidak selalu datang dalam bentuk modal besar, tetapi dari kemampuan melihat momentum dan bergerak lebih cepat.
“Waktu itu saya melihat ada momentum di industri startup dan investasi. Saya masuk ke digitalisasi produk kopi di saat yang tepat. Jadi yang penting bukan hanya punya modal, tapi bisa membaca peluang dan berani mengambil momentum,” ujarnya.
Ia menilai kondisi saat ini justru membuka peluang yang lebih besar. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), membuat modal dana tidak lagi menjadi satu-satunya modal utama untuk memulai sebuah produk.
“Sekarang AI berkembang sangat cepat. Produk yang sederhana sekalipun, kalau dikemas dengan menarik dan diintegrasikan dengan AI, bisa menjadi peluang yang menjanjikan. Jadi jangan selalu berpikir harus punya modal besar dulu untuk memulai,” katanya.
Selain teknologi, Maulana menilai relasi juga menjadi salah satu faktor penting dalam membuka peluang. Menurutnya, membangun jaringan bukan sekadar memperbanyak kenalan, tetapi membuka kemungkinan munculnya peluang baru dari orang-orang yang ditemui.
“Bisa jadi kita hanya mengenal satu orang hari ini, tapi dari satu orang itu kita bisa bertemu dengan lima, sepuluh, bahkan lebih banyak orang yang kemudian membawa peluang yang jauh lebih besar. Jadi memperluas relasi itu penting,” ujarnya.
Ia mendorong pelaku usaha, khususnya di daerah, untuk lebih berani melihat peluang, memanfaatkan teknologi yang tersedia, membangun rekam jejak, serta memperluas jaringan. Menurutnya, keterbatasan lokasi maupun modal tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak memulai.
“Peluang itu ada di mana-mana. Tinggal bagaimana kita membaca momennya, memanfaatkan teknologi, dan membangun relasi. Aceh punya banyak talenta, tinggal bagaimana kita berani mengambil peluang yang ada,” katanya.
Warkop Startup merupakan program diskusi berkala yang mempertemukan pelaku ekosistem startup lokal dengan calon pendiri usaha. Edisi ketiga ini menjadi kelanjutan dari dua pertemuan sebelumnya yang juga digelar di Banda Aceh. (red)
Berita terbaru di WhatsApp. Channel Kami
Kami menerima kiriman berita masyarakat. Hubungi kami melalui email ini.












