ACEH BESAR | SaranNews – Di tengah debu jalanan Aceh Besar, sebuah becak motor tua melaju pelan. Di samping jok pengemudi, terselip sepasang tongkat ketiak (kruk), saksi bisu perjuangan Muslim (55) atau yang akrab disapa “Cut Lem Becak”.
Jumat (9/1/2026) pagi, rutinitas Cut Lem tak berubah. Meski langkahnya tertatih menahan beban tubuh, warga Desa Piyeung Mon Ara, Kecamatan Montasik ini menolak menadahkan tangan. Ia memilih memungut kardus dan besi tua daripada mengemis.

“Saya walaupun susah berjalan, saya tidak mau jadi pengemis. Mungkin kalau saya mengemis, banyak orang yang iba, tapi saya pilih kerja,” ujar Cut Lem tegas.
Kondisi fisik Cut Lem bermula dari kecelakaan jatuh dari pohon pada 1999. Sempat menjalani operasi pada 2022 dengan harapan sembuh, nasib berkata lain. Kakinya justru infeksi parah hingga kini ia tak bisa berjalan tanpa tongkat.
Ujian tak berhenti di situ. Sebelum memulung, Cut Lem adalah pedagang air tebu dan mie yang gigih. Namun, modal usahanya sebesar Rp2,5 juta raib dibawa penipu, memaksanya banting setir menjadi pengumpul rongsokan dengan penghasilan tak menentu, kadang Rp100 ribu, kadang nihil.
Suara Emas di Balik Tumpukan Rongsokan Namun, di balik penampilannya yang lusuh, Cut Lem menyimpan “harta” yang membuat warga tertegun. Saat waktu salat tiba, ia akan memarkirkan becaknya di masjid terdekat.
Tak jarang, ia diminta mengumandangkan azan. Ketika suaranya melantun, banyak jemaah terdiam. Suara azannya dikenal merdu, tenang, dan menyentuh hati, kontras dengan sosoknya yang datang dengan becak rongsokan.
Bagi Cut Lem, keterbatasan fisik dan ekonomi bukan alasan untuk meninggalkan Tuhan. Di sela peluh mencari nafkah demi istri dan enam anaknya, ia membuktikan bahwa harga diri dan ibadah adalah kekayaan yang sesungguhnya. (Sr)












