Merawat Warisan Lewat Jahitan di Tengah Zaman yang Kian Modern

  • Bagikan
Bang Istarli (27) saat menunjukkan salah satu produk kain jahitan tradisionalnya di Pasar Gampong Kedai Runding, Kluet Selatan, Rabu (4/3/2026). Di usia muda, ia memilih konsisten melestarikan motif dan perlengkapan adat Aceh melalui usaha konveksi rumahan guna menjaga warisan leluhur dari kepunahan. (Foto: SNN/Khairul Badri).

ACEH SELATAN | SNN – Di sudut Pasar Gampong Kedai Runding, Kecamatan Kluet Selatan, deretan kain warna-warni tampak menghias lapak sederhana milik Bang Istarli (27). Di tengah arus modernisasi, pemuda ini tetap setia menjajakan beragam produk kain bernilai budaya hasil jahitan tangannya sendiri, Rabu (4/3/2026).

Lapak Istarli menawarkan berbagai kebutuhan rumah tangga yang sarat makna adat, mulai dari taplak meja, sprei, sarung bantal, tutup saji, hingga perlengkapan khusus khitanan. Menariknya, sebagian besar produk tersebut ia jahit sendiri di rumah untuk memastikan kualitas jahitan tetap terjaga dan mampu bersaing dengan kain pabrikan. “Alhamdulillah banyak yang minat karena selain harganya terjangkau, kami juga menjaga kualitas. Kalau bukan kita yang menjaga, lama-lama tradisi ini bisa hilang,” ujar Istarli.

Harga yang ditawarkan relatif ramah di kantong, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Keberadaan perlengkapan khitanan dan kain hias motif lokal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin melaksanakan prosesi adat tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam. Melalui ketelitian jahitannya, Istarli tidak hanya menggerakkan roda ekonomi lokal, tetapi juga menjadi penjaga denyut budaya yang terus hidup di tengah masyarakat Aceh Selatan. (KB)

Penulis: Khairul BadriEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *