BIREUEN | SNN – Selama kurang lebih tiga bulan, sejumlah relawan pengajar yang diinisiasi oleh Yayasan Sukma Bangsa telah merampungkan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana di Aceh Tengah. Kegiatan yang berlangsung sejak 11 Januari hingga 14 April 2026 ini memfokuskan diri pada pemulihan psikologis dan pendampingan belajar bagi anak-anak di sekolah yang terdampak banjir.
Salah satu relawan yang terlibat aktif adalah Firial, pemuda asal Bireuen yang terjun langsung ke lokasi bencana untuk mengabdi. Selama masa penugasan, para relawan menyasar tiga titik sekolah utama, yakni SMP 22 Takengon, SD 9 Kebayakan, dan SD 8 Kebayakan. Program ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi fasilitas sekolah yang mengalami kerusakan cukup serius akibat terjangan bencana.

“Tujuan pribadi saya ikut serta tentu ingin membantu anak-anak yang terkena musibah agar trauma mereka hilang, khususnya di bidang pendidikan karena latar belakang saya juga dari dunia pendidikan,” ujar Firial pada Senin (20/4/2026). Ia menambahkan bahwa fokus kegiatan mereka mencakup metode trauma healing serta penguatan literasi dan numerasi bagi para siswa.
Perjalanan menjalankan misi ini bukan tanpa hambatan. Firial menceritakan bahwa akses menuju sekolah menjadi tantangan fisik tersendiri bagi para relawan. Keterbatasan sarana transportasi memaksa mereka untuk berjalan kaki selama kurang lebih 40 menit setiap harinya demi mencapai lokasi sekolah agar proses belajar-mengajar tetap bisa berjalan meskipun di tengah keterbatasan.
Pengalaman berbulan-bulan di lapangan memberikan perspektif mendalam bagi para relawan. “Hal yang paling berkesan adalah saya jadi tahu arti bersyukur yang sesungguhnya. Kita melihat anak-anak yang memikul beban berat setelah bencana, tapi mereka tidak mengeluh sedikit pun,” ungkap Firial.
Melihat kondisi di lapangan, Firial menekankan bahwa kebutuhan mendasar warga terdampak, terutama para siswa, masih sangat tinggi. Selain kelangsungan pendidikan, ketersediaan air bersih dan tempat tinggal yang layak menjadi kebutuhan mendesak karena sebagian warga masih bertahan di lokasi pengungsian. Ia berharap perhatian terhadap infrastruktur dasar dan pemulihan mental anak-anak di Aceh Tengah terus berlanjut pasca-kegiatan relawan ini. (DI)











