Banda Aceh | SNN – Kenaikan harga bahan pokok di Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, kembali menyoroti lemahnya pengawasan distribusi bahan pokok di Kota Banda Aceh. Meski sebagian komoditas lain terpantau stabil, lonjakan dua kebutuhan utama ini dinilai sebagai sinyal masalah yang terus berulang tanpa solusi konkret.
Berdasarkan pantauan, harga minyak goreng curah kini mencapai Rp22.000 per kilogram, sementara gula pasir naik menjadi Rp20.000 per kilogram. Kenaikan ini bukan pertama kali terjadi, dan selalu dikaitkan dengan alasan yang klasik hingga terdapat gangguan distribusi dan pasokan dari pemasok. Di tengah kenaikan itu, sejumlah komoditas seperti beras, telur ayam, dan cabai merah memang masih terpantau stabil. Namun, kestabilan ini dinilai belum cukup menenangkan, karena kenaikan pada komoditas strategis seperti minyak goreng dan gula memiliki dampak langsung terhadap pengeluaran harian masyarakat.
Kondisi ini juga memperlihatkan bahwa stabilitas harga yang sering diklaim masih bersifat semu. Di permukaan, beberapa komoditas memang tidak mengalami kenaikan, namun di sisi lain, kebutuhan dasar yang paling sering digunakan justru mengalami lonjakan. Jika tidak ada langkah tegas, pola kenaikan ini berpotensi terus berulang, terutama menjelang momen dengan permintaan tinggi. Pemerintah daerah tidak cukup hanya melakukan pemantauan, tetapi dituntut untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan mencegah celah permainan harga di tingkat pemasok.
Masyarakat pun dihadapkan pada situasi yang serba tidak pasti. Di satu sisi diminta bijak berbelanja, namun di sisi lain harus menghadapi harga yang kerap naik tanpa kepastian kapan akan stabil sepenuhnya. [TP]










