BIREUEN | SaranNews – Lumpur masih melekat di sudut-sudut ruang kelas UPTD SD Negeri 11 Peusangan saat puluhan relawan dari Komunitas Turun Tangan, Turun Tangan Aceh, dan Turun Tangan Bireuen tiba di lokasi pada Sabtu (18/1/2025). Sekolah ini menjadi salah satu titik yang paling parah terdampak banjir bandang, namun kehadiran para relawan membawa harapan baru di tengah bau lumpur dan sisa genangan air. Kondisi pascabanjir merupakan masa-masa sulit bagi pihak sekolah karena selama ini guru-guru harus membersihkan lumpur setiap hari hanya dengan peralatan seadanya seperti cangkul dan serok pasir.
Kondisi infrastruktur sekolah mengalami kerusakan cukup serius, di mana saluran selokan yang tersumbat sempat membuat toilet tidak dapat digunakan sama sekali. Hal ini memaksa para guru dan siswa harus pulang ke rumah masing-masing atau menuju masjid terdekat hanya untuk buang air kecil. Kepala Sekolah UPTD SD Negeri 11 Peusangan, Asnidar, mengungkapkan bahwa meskipun proses belajar mengajar sudah dimulai sejak awal Januari, pelaksanaannya masih sangat terbatas. Menurutnya, jumlah siswa yang masuk sekolah masih sedikit karena banyak anak yang belum berani datang akibat seragam sekolah mereka hanyut atau rusak diterjang banjir.
Siswa yang hadir saat ini terpaksa belajar dengan kondisi apa adanya, baik menggunakan seragam maupun pakaian bebas. Namun, proses pembelajaran belum bisa berjalan maksimal karena perangkat mengajar guru terendam lumpur, arsip penting serta lemari kelas rusak, bahkan hampir 90 persen buku perpustakaan hancur. Di tengah situasi yang memprihatinkan tersebut, muncul kisah inspiratif dari seorang murid bernama Raihan yang dengan sukarela membantu mengangkat lumpur, membersihkan toilet, dan merapikan ruang kelasnya sejak pagi hari. Salah seorang relawan menyampaikan bahwa Raihan sangat bersemangat karena ingin sekolahnya segera kembali seperti dulu agar bisa belajar dengan nyaman.
Semangat yang ditunjukkan Raihan akhirnya menular kepada relawan, guru, dan warga sekolah lainnya untuk bahu-membahu melakukan aksi gotong royong. Kerja keras kolektif ini berhasil memulihkan fungsi toilet siswa dan guru sehingga dapat digunakan kembali. Asnidar menyatakan rasa syukur dan harunya karena kini anak-anak serta guru tidak perlu lagi keluar lingkungan sekolah untuk mencari toilet. Meskipun saat ini ruang kelas yang telah dibersihkan baru bisa digunakan dengan beralaskan tikar seadanya, kehadiran relawan telah membangkitkan optimisme bagi para guru yang sebelumnya sempat merasa kelelahan.
Meski aksi relawan Turun Tangan saat ini masih berfokus pada proses pembersihan, mereka berharap bantuan ini mampu memberikan suntikan semangat bagi seluruh warga sekolah. Pihak sekolah juga sangat mengharapkan adanya dukungan lanjutan dari pemerintah, terutama terkait pengadaan buku pelajaran dan seragam bagi para siswa yang kehilangan perlengkapan sekolahnya akibat banjir. Peristiwa di SD Negeri 11 Peusangan ini menjadi bukti bahwa di tengah sisa-sisa lumpur yang belum mengering, semangat gotong royong dan kegigihan seperti yang ditunjukkan Raihan menjadi kunci bagi bangkitnya dunia pendidikan pascabencana.[Sr]











