LABUHANHAJI, Sarannews – Krisis bahan bakar rumah tangga pasca bencana mulai dirasakan dampaknya secara nyata oleh masyarakat di Aceh Selatan. Pada Minggu (7/12/2025), sebuah pangkalan LPG 3 Kg di Gampong Pawoh, Kecamatan Labuhanhaji, diserbu warga yang antre berharap mendapatkan jatah gas bersubsidi.
Namun, harapan ratusan warga tersebut harus berujung kekecewaan. Dari antrean panjang yang mengular, faktanya lebih dari seratusan warga terpaksa pulang dengan tangan hampa. Hal ini disebabkan pasokan yang masuk dari Agen ke Pangkalan tersebut sangat minim, yakni hanya 50 tabung.
Uni, pemilik pangkalan di Gampong Pawoh tersebut, mengungkapkan dilema yang dihadapinya. Ketersediaan gas melon ini sempat terputus cukup lama akibat kondisi bencana yang melanda wilayah tersebut.
“Kami sejak tanggal 26 November baru hari ini dapat pasokan, itupun hanya 50 tabung, bagaiman kami harus membaginya kepada warga yang biasanya memang mengambil disini dan mereka memang terdaftar dipangkalan kami ini?” ungkapnya kepada Sarannews.net dengan nada bingung.
Uni menjelaskan bahwa dalam kondisi normal, distribusi gas ke pangkalannya jauh lebih lancar. Namun, bencana yang terjadi belakangan ini telah mengganggu rantai pasok secara signifikan.
“Biasanya kami dapat pasokan 2 sampai 3 kali dalam seminggu, tapi sejak kondisi bencana ini baru dappat pasokan. kami sangat kesulitan menyalurkan secara adil dengan pasokan terbatas ini, lihatlah itu ada seratusan yang antre dan tidak dapat jatahnya, mereka memang punya hak, namun kami sangat terbatas melayani, harapan kami, semoga kondisi sulit ini cepat berlalu dan pasokan LPG kembali Normal,” ujar Uni menambahkan.
Selain kelangkaan pasokan, tim Sarannews.net di lapangan juga menemukan fakta terkait harga penjualan. Meskipun pada papan plang pangkalan tertera harga eceran tertinggi (HET) resmi yang ditetapkan pemerintah, realita harga tebus di lokasi berbeda. Saat ditanya Sarannews berapa harga yang dijual kepada warga, pemilik pangkalan menjawab singkat.
“25 ribu,” jawab Uni.
Terkait adanya perbedaan harga penjualan dengan tarif resmi yang tertera di papan informasi pangkalan ini, pihak redaksi Sarannews sedang berupaya mengonfirmasi pihak terkait dan dinas yang berkompeten untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai aturan main di tengah situasi darurat ini.
Kondisi kelangkaan dan harga ini memaksa warga untuk memutar otak demi memenuhi kebutuhan dapur mereka. Buk Nana, salah seorang warga yang ikut mengantre dan tampak lelah, menceritakan betapa sulitnya situasi saat ini.
“Sangat susah sekarang ini untuk mendapatkan Gas, terkadang kami dengan tetangga harus pinjam dan numpang masak, kami juga tidak bisa menyalahkan pangkalan, tapi mohonlah kepada pemerintah untuk segera mengatasi masalah ini, kami sangat susah pak,” keluh Nana. (Redaksi)












