BANDA ACEH – Anomali Pelaksanaan proyek revitalisasi di SD Negeri 1 Banda Aceh senilai Rp689 juta semakin parah. Papan informasi proyek yang sempat dipasang secara reaktif setelah kunjungan wartawan pada Jumat lalu, kini secara misterius telah lenyap dari lokasi. Di saat yang sama, pihak sekolah terkesan menghindar dan pengabaian terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lapangan terlihat semakin kentara.
Berdasarkan pantauan terkini Sarannews pada Senin (20/10/2025), papan nama proyek yang sebelumnya menjadi satu-satunya sumber informasi publik sudah tidak ada lagi di tempatnya. Hilangnya papan ini mengembalikan status proyek tersebut menjadi ‘proyek siluman’, tanpa identitas yang jelas di tengah lingkungan pendidikan yang aktif.

Upaya konfirmasi untuk mendapatkan penjelasan pun menemui jalan buntu. Saat Sarannews.net berkunjung ke sekolah, Plt. Kepala Sekolah tidak berada di tempat. Ketika dihubungi melalui telepon seluler, panggilan tidak diangkat. Pesan konfirmasi yang dikirimkan melalui WhatsApp, meskipun terlihat aktif dan terkirim (centang dua biru), juga tidak mendapatkan balasan. Sikap bungkam ini memperkuat dugaan adanya upaya penghindaran tanggung jawab dari pihak sekolah selaku pelaksana proyek.
Kondisi di lapangan semakin mengkhawatirkan. Sejumlah pekerja terlihat beraktivitas di ketinggian, memasang rangka atap baja ringan tanpa menggunakan alat pelindung diri (APD) sama sekali, seperti helm, rompi, maupun sabuk pengaman. Praktik berbahaya ini berlangsung tanpa adanya pengawasan yang memadai.
Selain masalah transparansi, aspek keselamatan di lingkungan proyek juga terlihat mengkhawatirkan. Pagar pembatas yang digunakan untuk mengisolasi area kerja dari jangkauan siswa tidak memadai. Terlihat pembatas hanya dibuat dari bentangan plastik hitam yang sebagian kondisinya sudah sobek. Terlihat beberapa siswa masih bisa dengan leluasa beraktivitas di dekat area kerja, bahkan duduk di atas tumpukan material bangunan.

Menurut keterangan salah seorang pegawai di sekolah tersebut, tidak ada pihak yang bertanggung jawab secara penuh di lokasi. “Ketua Panitia Pembangunan memang tidak ada di sini dan pengawas juga jarang ke lokasi,” ujarnya saat ditanyai wartawan.
Pernyataan ini mengonfirmasi lemahnya manajemen dan pengawasan proyek yang dilaksanakan secara swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) sekolah tersebut. Dengan hilangnya papan informasi, bungkamnya pimpinan sekolah, dan nihilnya pengawasan K3, proyek yang bersumber dari dana APBN ini berjalan liar dan berpotensi tinggi membahayakan keselamatan pekerja serta ratusan siswa yang beraktivitas di sekitarnya setiap hari.[Red]










