Polda Aceh Musnahkan 1,3 Ton Ganja dan 80,5 Kg Sabu, Ungkap Dua Jaringan Internasional

  • Bagikan

BANDA ACEH | SaranNews – Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menggelar konferensi pers pemusnahan barang bukti narkotika dalam jumlah besar di Gedung Presisi Mapolda Aceh, Senin, 6 Oktober 2025. Dalam kegiatan tersebut, dimusnahkan barang bukti sitaan selama tiga bulan terakhir yang mencakup 80,5 kilogram sabu, 1,3 ton ganja, dan 1 kilogram kokain, konpres berlangsung sejak pagi tersebut diliput puluhan Wartawan dari berbagai media, cetak, elektronik dan Media online.

Konprensi pers tersebut turut hadir Kepala BNNP Aceh, Kepala Kanwil Bea Cukai Aceh, serta Bupati dan Kapolres Gayo Lues. Hadir juga dilokasi dari Polresta Banda Aceh, Kasatnarkoba Rajabul Asra, Dan Pemusnahan barang haram tersebut akan dilakukan pada sore ini kabarnya juga turut dihadiri dan disaksikan oleh anggota Komisi III DPR-RI.

Kapolda Aceh, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah, menyatakan bahwa pengungkapan besar ini merupakan hasil kerja sama sinergis antara Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Aceh, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh, Bea Cukai, serta beberapa polres jajaran seperti Polresta Banda Aceh, Polres Aceh Timur, Polres Gayo Lues, dan Polres Sabang.

Dalam keterangannya, Irjen Pol Marzuki Ali Basyah menjelaskan bahwa jalur laut masih menjadi rute utama yang dimanfaatkan oleh sindikat internasional untuk menyelundupkan narkoba ke wilayah Aceh. Untuk mengatasi hal tersebut, pihaknya bersama Bea Cukai terus meningkatkan patroli rutin di jalur perairan.

“Kami tidak akan memberikan toleransi terhadap keterlibatan siapapun, termasuk anggota Polri. Jika terbukti terlibat dalam sindikat narkoba, tidak ada ampun bagi mereka,” tegas Irjen Pol Marzuki Ali Basyah.

Pada kesempatan yang sama, Polda Aceh juga mengungkap dua jaringan narkotika internasional yang beroperasi di wilayah Aceh, yakni Golden Three Angel dan Crescent Angel. Menurut Kapolda, kedua jaringan ini menjadi jalur utama masuknya narkotika ke Indonesia melalui pantai utara dan barat Aceh. Jaringan Golden Three Angel diyakini menggunakan nama Tiongkok karena para pembuatnya merupakan ahli dari negara tersebut.

Penyelundupan sabu dari dua jaringan besar ini terbagi menjadi dua jalur utama. Jalur pertama berasal dari Pakistan, Iran, dan Afghanistan, yang menghasilkan sabu dari proses alami dengan harga lebih tinggi. Sementara jalur kedua dikenal sebagai jalur Asia, mencakup Thailand, Myanmar, dan Vietnam.

“Jalur Asia inilah yang paling banyak memasok ke Indonesia karena harganya lebih murah. Jenis sabu yang berasal dari kawasan Asia merupakan hasil olahan kimiawi, beda dengan sabu dari Iran yang prosesnya alami dan memiliki harga lebih tinggi,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Gayo Lues yang turut hadir memberikan pandangannya. Menurutnya, kesejahteraan masyarakat menjadi kunci untuk memutus mata rantai peredaran narkoba.

“Selama ini sudah banyak yang kita lakukan karena itu merupakan tugas utama kita, bagaimana kita mensejahterakan masyarakat, karena kesejahteraan masyarakat juga menjadi kunci sebenarnya untuk meninggalkan ketergantungan terhadap pengedaran narkoba. Pada saat ini petani ganja sudah banyak beralih menjadi petani kopi, karena uang kopi itu tidak jauh beda dengan hasil petani ganja,” katanya.[red]

Penulis: Mersal WandiEditor: Redaksi
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *