Aceh Selatan | SaranNews – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan Bio Solar di wilayah Barat Selatan Aceh kembali meresahkan masyarakat. Dalam pantauan satu minggu terakhir, kekosongan dua jenis BBM bersubsidi tersebut terus terjadi setiap hari, mengganggu aktivitas warga dan memicu kekecewaan konsumen.
Hari ini, Sabtu (9/11), kekosongan BBM jenis Pertalite dan Bio Solar kembali terjadi di SPBU 14.237.454 Labuhanhaji Barat. Stok dilaporkan sudah habis sejak Pukul 16.00 WIB. Pantauan sarannews sebelumnya pada Kamis (7/11), kekosongan serupa juga terjadi sejak siang hingga pukul 21.00 WIB malam, menunggu pasokan baru tiba dari Depo Pertamina.
pantauan sarannews, sore ini sabtu (9/11), beberapa Kenderaan angkutan umum jenis KIA yang mau mengisi BBM untuk perjalanan ke Banda Aceh terpaksa membeli membeli dan mengisi BBM eceran yang dijual di Kios pinggir jalan untuk persiapan hingga sampai ke SPBU berikutnya di Blang Pidie (Abdya), salah seorang supir, Sapar, kepada sarannews menyampaikan kekecewaannya, “kami sangat kecewa seperti ini, ini menambah pengeluaran kami dengan harus mengisi minyak eceran yang harganya jauh lebih mahal, kami harap ada perhatian pihak pemerintah atas keluhan kami ini” ujar sapar.
Manajer SPBU 14.237.454 Labuhanhaji Barat, M Nasir, saat dikonfirmasi memaparkan bahwa kondisi ini membuat pihaknya tidak dapat memberikan pelayanan maksimal.
“setiap hari kita kekurangan BBM jenis pertalite dan Bio Solar dan terjadi kekosongan hingga pasokan berikutnya datang, kekesongan bisa terjadi hingga setengah hari, dan akibatnya kami tidak dapat melakukan pelayanan, banyak calon konsumen yang kecewa dan melancarkan Protes, namun apa boleh buat, kami tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa menjelaskan bahwa BBM sudah Habis,” kata Nasir.
Menurut Nasir, faktor utama kekosongan adalah ketersediaan stok yang tidak cukup akibat pasokan dari Depo Pertamina yang tidak sesuai permintaan. Pihaknya mengaku rutin memesan 16 Kilo Liter (KL) per hari, namun seringkali hanya menerima setengahnya.
“Sebenarnya Ketersediaan kami memang tidak cukup untuk melayani konsumen saat ini, karena pasokan dari Depo Pertamina yang tidak sesuai permintaan dan penebusan kami, kami secara rutin memesan BBM jenis Pertalite dan Bio Solar itu 16 KL untuk setiap harinya, namun pasokan dari Depo hanya 8000 KL saja, hanya untuk hari sabtu saja yang terkadang dipasok 16 KL, itupun karena besoknya pada hari minggu memang tidak ada pengiriman (harilibur),” jelasnya.
Kebutuhan 16 KL per hari itu, lanjut Nasir, sangat beralasan. Ia menegaskan bahwa SPBU tersebut merupakan titik vital di jalur lintas barat selatan yang melayani kendaraan angkutan dari berbagai daerah.
“SPBU Labahunahaji Barat ini merupakan spbu strategis yang menjadi tujuan para mobil angkutan umum maupun pribadi yang datang dari arah medan, singkil, yang mengisi ulang disini, demikian juga bagi para supir angkutan umum dari arah Banda Aceh,” ujar Nasir.
Posisi strategis ini semakin krusial mengingat jarak SPBU terdekat lainnya, yaitu SPBU di Kota Blangpidie (Abdya) dan SPBU Tapaktuan, masing-masing berjarak sekitar tiga puluhan kilometer. Habisnya stok di SPBU Labuhanhaji Barat praktis membuat pengendara, terutama yang dalam perjalanan jauh, tidak memiliki alternatif pengisian bahan bakar terdekat.
Hal ini dibenarkan oleh sejumlah supir angkutan yang diwawancarai sarannews. Supir angkutan trayek Medan-Blangpidie dan Banda Aceh-Tapaktuan mengaku rata-rata memilih mengisi ulang tangki mobil di SPBU Labuhanhaji karena posisinya yang strategis. Menurut mereka, SPBU ini tidak hanya melayani konsumen lokal, tapi juga konsumen dari luar yang melintas di jalur barat selatan ini.
Meski permintaan tinggi dan pembayaran telah dilakukan di muka, Nasir mengeluhkan respons pihak Depo Pertamina yang tidak memberikan solusi pasti atas kekurangan pasokan.
“atas pasokan yang tidak sesuai pesanan tersebut, saat kami konfirmasi ke pihak Depo Pertamina, jawabannya ; karena kekurangan armada transporter dan alasan lainnya yang sangat teknis. ini juga yang menjadi pertanyaan kami sebenarnya, kami sudah pesan dan sudah transfer pembayarannya dimuka, tapi yang dikirim tidak memenuhi jumlah pesanan, kami juga tidak mengerti kebijakan yang ada disana,” keluhnya.
Pemerintah Aceh Diminta Beri Atensi
Menanggapi kondisi kelangkaan BBM yang terus berulang ini, Anggota DPR Aceh, dari Dapil 9, Zamzami, menyampaikan tanggapan kritis. Ia mendesak Pemerintah Aceh untuk tidak lepas tangan dan segera mengambil langkah.
“selaku Anggota DPRA, kami sangat prihatin dan menyayangkan kelangkaan BBM jenis Pertalite dan Bio Solar yang terus berulang di wilayah Barat Selatan Aceh. Ini adalah masalah serius yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak.”
“Laporan bahwa kekosongan terjadi hampir setiap hari sangat tidak bisa diterima. Aktivitas ekonomi masyarakat, baik itu transportasi, nelayan, maupun usaha kecil, pasti lumpuh jika kondisi ini dibiarkan. Keluhan konsumen dan protes yang terjadi di SPBU adalah sinyal bahwa situasi ini sudah meresahkan.”
“Saya juga mendengar informasi bahwa masalahnya ada pada pasokan dari Depo Pertamina yang tidak sesuai dengan pesanan SPBU, padahal kewajiban pembayaran sudah dipenuhi di muka. Alasan ‘kekurangan armada’ atau ‘alasan teknis’ dari Pertamina tidak boleh menjadi jawaban yang diterima begitu saja. Ini menunjukkan ada masalah serius dalam manajemen distribusi Pertamina.”
“Ini bukan sekadar masalah bisnis antara SPBU dengan Pertamina, ini menyangkut pelayanan publik dan ketersediaan komoditas strategis. Pemerintah Aceh tidak boleh lepas tangan.”
“Karena itu, kami minta Gubernur Aceh untuk segera memberikan atensi khusus dan serius terhadap masalah ini. Panggil segera pimpinan Pertamina regional untuk meminta penjelasan dan pertanggungjawaban. Pemerintah Aceh harus proaktif mengawal dan memastikan distribusi BBM bersubsidi ke seluruh wilayah, terutama di Barat Selatan, kembali normal dan lancar. Rakyat butuh kepastian, bukan alasan teknis.”
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat dan para supir angkutan di Labuhanhaji Barat masih kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi dan berharap ada solusi permanen dari Pertamina dan Pemerintah Aceh.[red]









