Panggung Dakwah ke-23 di Krueng Panjoe: Tgk Habibi Nawawi Kupas Rahasia Keteguhan Iman Orang Aceh

  • Bagikan
Suasana acara Tabligh Akbar di Masjid Jamik Al-Izzah, Krueng Panjoe, Bireuen, Selasa (7/4/2026). Tgk. Habibi Nawawi, Lc., M. Dipl., dai muda Aceh yang juga Juara 1 Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026, menjadi penceramah utama dalam acara yang berlangsung khidmat tersebut. (Foto: Dok.SNN/Dhilal Ikhsani).

BIREUEN | SNN – Gema hadrah dan lantunan salawat menyambut kehadiran Tgk. Habibi Nawawi, Lc., M. Dipl., di Masjid Jamik Baitul Izzah, Krueng Panjoe, Kabupaten Bireuen pada Selasa malam (7/4/2026). Juara 1 Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026 ini hadir untuk mengisi panggung dakwahnya yang ke-23 sejak menyabet gelar juara di ajang nasional tersebut. Mengusung tema “Meneguhkan Iman di Tengah Musibah”, dai muda asal Aceh ini berhasil menghipnotis ratusan jemaah yang memadati pelataran masjid hingga menjelang tengah malam.

Acara yang berlangsung khidmat ini turut dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, di antaranya Anggota DPR Aceh sekaligus Ketua Pembina UNIKI, Dr. H. Amiruddin Idris, SE., M.Si., serta jajaran pengurus masjid setempat. Kehadiran Tgk. Habibi memang telah dinanti-nantikan oleh masyarakat. Salah seorang warga, Rahmah, mengaku sudah berada di lokasi sejak selepas Magrib demi mendapatkan posisi paling depan. “Dakwah beliau sangat mudah dipahami, pilihan katanya sederhana tapi langsung kena ke hati,” ungkap Rahmah dengan antusias.

Dalam uraian dakwahnya, Tgk. Habibi menegaskan bahwa keteguhan hati rakyat Aceh dalam menghadapi berbagai cobaan, mulai dari masa penjajahan hingga musibah tsunami, adalah bukti nyata dari keimanan yang telah teruji. Beliau berpesan agar umat Islam tidak hanya belajar tentang iman dari buku-buku, melainkan melihat langsung realitas kesabaran masyarakat di sekelilingnya. “Jika ingin bicara tentang iman, jangan hanya baca buku, tapi lihatlah keteguhan hati orang Aceh yang tidak pernah membiarkan iman itu hilang meski terus diuji,” tegasnya.

Menariknya, Tgk. Habibi juga membagikan kisah inspiratif mengenai nilai kesederhanaan yang ditanamkan oleh ayahnya. Meski merupakan putra seorang pimpinan pesantren, ia dididik untuk merasa sebagai anak petani agar tidak terlena dengan hak istimewa (privilege). Ia mengenang masa kecilnya saat harus meminjam baju kepada saudara yang lebih mampu untuk mengikuti lomba. Kontras dengan kini, saat ia mampu mengenakan pakaian mahal di panggung nasional, ia tetap menekankan bahwa nilai seseorang terletak pada taqwa dan ilmu, bukan pada apa yang dikenakan di tubuh.

Selain soal kesederhanaan, ia menekankan pentingnya rida orang tua dalam setiap langkah kehidupan. Tgk. Habibi menyebutkan bahwa keberhasilan seseorang hanyalah 10 persen dari usaha pribadi, sementara 90 persen sisanya adalah tumpuan doa orang tua.

Sebagai penutup, Tgk. Habibi mengingatkan tentang hakikat kepemilikan harta melalui analogi penyembelihan kambing di zaman Rasulullah SAW. Beliau menegaskan bahwa apa yang disimpan akan usang, dan apa yang dimakan akan busuk, namun apa yang disedekahkan itulah yang kekal menjadi milik manusia di akhirat kelak. “Sejatinya tidak ada yang benar-benar kita miliki, kecuali apa yang telah kita bagi,” pungkasnya di hadapan jemaah yang bertahan hingga pukul 23.00 WIB. (DI)

Penulis: Dhilal Ikhsani
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *