BANDA ACEH | SaranNews — Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup modern yang serba cepat, Kota Banda Aceh masih mempertahankan identitasnya sebagai wilayah yang santun dan penuh adab. Salah satu indikator yang paling menonjol adalah minimnya suara klakson di jalan raya, sebuah fenomena yang kini menjadi tantangan bagi generasi muda untuk dipertahankan di tengah arus digital.
Iklima, Duta Wisata Banda Aceh 2025, menilai bahwa budaya sabar dan santun adalah denyut nadi masyarakat Aceh yang tumbuh dari lingkungan keluarga dan gampong. Namun, ia memperingatkan bahwa ritme media sosial sering kali mendorong anak muda untuk bereaksi spontan dan emosional, yang perlahan bisa mengikis nilai pengendalian diri tersebut.
“Kita tidak hanya mempromosikan tempat wisata, tapi juga nilai dan karakter. Sikap sabar dan santun adalah wajah pertama yang dilihat wisatawan saat berkunjung ke Aceh,” ujar Iklima kepada saranNews, Selasa (20/1/2026).
Menurutnya, keramahan masyarakat lokal adalah daya tarik yang tak kalah penting dari keindahan alam. Wisatawan diharapkan membawa pulang kesan tentang hangatnya sikap warga, bukan sekadar foto-foto indah. Ia menekankan bahwa lunturnya budaya ini dapat mengaburkan identitas Aceh sebagai daerah yang beradat dan beretika di mata dunia.
Melalui refleksi ini, generasi muda diharapkan tetap maju mengikuti zaman tanpa harus kehilangan jati diri. Budaya sabar bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan bekal berharga untuk masa depan Banda Aceh yang tetap beradab. (TPI)










