BANDA ACEH | SaranNews – Kabar baik datang bagi warga Kota Banda Aceh. Pasokan listrik yang sempat lumpuh total akibat gangguan pascabencana kini telah pulih dan beroperasi normal sepenuhnya. Namun, terangnya lampu kota ternyata belum diikuti dengan “terangnya” kondisi dompet warga, khususnya mahasiswa.
Harga kebutuhan pokok dan makanan siap saji di sejumlah warung makan masih bertahan di angka tinggi, sisa dari lonjakan harga saat masa darurat kemarin. Fenomena ini paling dikeluhkan oleh mahasiswa dan anak rantau yang bergantung sepenuhnya pada warung nasi.
Ghina, salah satu mahasiswa di Banda Aceh, mengaku kaget dengan harga makanan yang belum juga turun meski situasi kota sudah kondusif.
“Alhamdulillah listrik sudah kembali normal, tapi harga makanan belum juga turun. Kemarin saya beli bubur ayam harganya naik drastis. Biasanya pakai telur Rp13.000, kemarin saya beli jadi Rp20.000. Untuk anak rantau seperti saya, ini sangat membebani,” ujarnya mengeluh.
Kenaikan harga yang signifikan ini memaksa para mahasiswa memutar otak untuk berhemat. Pengeluaran harian membengkak drastis, sementara kiriman orang tua tidak bertambah.
Hingga berita ini diturunkan, harga makanan di sejumlah titik kuliner Banda Aceh belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ke harga normal. Mahasiswa berharap pemerintah segera melakukan pengawasan pasar agar harga kebutuhan bisa kembali stabil seiring pulihnya kondisi kota. (tpi)










