ACEH BESAR | SaranNews – Denyut aktivitas di warung kopi (warkop) kawasan Aceh Besar mulai kembali ke pola normal, Jumat (19/12/2025). Suasana yang sebelumnya padat sesak dari pagi hingga malam kini terlihat lebih lengang, terutama saat jam kerja berlangsung.
Pemandangan ini kontras dengan kondisi akhir November lalu. Sejak banjir bandang dan longsor memicu pemadaman listrik massal mulai 27 November 2025, warkop menjadi “tumpuan hidup” warga selama hampir 15 hari krisis listrik.
Kala itu, warkop beralih fungsi menjadi ruang publik darurat. Masyarakat menyerbu warkop bukan sekadar untuk ngopi, melainkan demi mendapatkan akses listrik (charging) dan jaringan internet untuk bekerja atau berkomunikasi.
Erik (23), Manajer salah satu warkop di Kecamatan Ingin Jaya, membenarkan perubahan drastis tersebut. Saat pemadaman bergilir, lonjakan pengunjung terjadi sepanjang hari tanpa jeda.
“Dulu dari pagi sampai sore selalu penuh, kursi tidak pernah kosong. Banyak warga datang menumpang ngecas dan pakai Wi-Fi. Sekarang, pengunjung kembali normal, ramainya hanya saat sore pulang kantor atau malam hari,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Annisa (23), pengunjung warkop di kawasan Lambaro. Ia mengaku saat krisis listrik, warkop adalah satu-satunya solusi untuk tetap produktif.
“Kalau sekarang listrik di rumah sudah normal, kami kembali beraktivitas seperti biasa, di kantor atau di rumah. Ke warkop kalau ada perlu saja,” tuturnya.
Fenomena ini menegaskan bahwa warkop di Aceh memiliki fungsi sosial yang unik. Selain sebagai tempat nongkrong, warkop terbukti menjadi “hub” vital penyokong aktivitas warga saat infrastruktur publik mengalami gangguan darurat. (Sr)











